Ranjang Panas Pamanku

Ranjang Panas Pamanku
Bab 18. Tutup mulut


__ADS_3

"Mama tanya ke Tiara, kenapa kamu yang jawab? Mama mau dengar langsung dari Tiara!" ucap Nadira.


"Hehe, iya ma iya.." Galen tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Yaudah, jadi gimana Tiara? Apa kamu memang mau menerima permintaan Galen untuk memajukan hari pernikahan kalian? Atau Galen yang udah maksa-maksa kamu?" tanya Nadira pada Tiara.


"Eee ya tante, aku—"


"Hey, kok tante lagi sih? Lupa ya apa yang mama bilang waktu itu? Kamu panggilnya mama aja, toh kamu bentar lagi bakal jadi istri Galen!" sela Nadira.


"Ah iya, maksud aku mama. Aku emang mau kok pernikahan kita dimajukan, lagian gak ada salahnya juga ma. Ya emang sih awalnya aku nolak, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga ucapan mas Galen," jawab Tiara sambil tersenyum.


"Loh emangnya Galen bilang apa ke kamu sayang? Kok kamu bisa sampai setuju sama usulan Galen buat percepat tanggal pernikahan kalian?" tanya Nadira penasaran.


"Iya ma, mas Galen bilang kalau pernikahan itu lebih baik dipercepat untuk menghindari hal-hal yang gak diinginkan nantinya. Kalau udah sah kan lebih enak gitu ma," jawab Tiara.


"Hahaha, ada-ada aja kamu Galen. Ya tapi benar juga sih emang," kekeh Nadira.


Tiara ikut tertawa dibuatnya, sedangkan Galen hanya senyum-senyum di tempatnya dengan kedua tangan terentang pada sandaran sofa.


"Mama gak tahu aja, sebenarnya aku sama Tiara udah sering wik wik," batin Galen.


Lalu, tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar dari arah luar. Sontak Nadira bangkit untuk mencari tahu siapa yang datang, wanita itu pun berjalan ke luar karena penasaran.


"Siapa ya yang datang?" gumam Nadira.


Ceklek


Nadira membuka pintu, dan sesuatu yang tidak diduga terjadi. Hembusan angin menerpa dengan kencang, saat itu juga Nadira menganga lebar menyaksikan seseorang berdiri di hadapannya.


"Ma-mas Albert...??" lirih Nadira sembari memegangi dadanya.


"Kamu kenapa kesini mas? Apa ada masalah yang bikin kamu sampai datang?" tanya Nadira.


Pria yang dilihatnya sebagai Albert itu menggeleng, Nadira benar-benar tak tahu harus bagaimana untuk saat ini. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Albert, namun tiba-tiba sosok itu bergerak maju lalu menggerakkan tangannya mengusap rambut Nadira yang halus.

__ADS_1


Nadira hanya diam membiarkan Albert melakukan apa yang dia inginkan, setelahnya sosok itu malah menghilang dan membuat Nadira keheranan. Nadira berteriak sambil menatap ke sekeliling berusaha menemukan sosok itu lagi, akan tetapi ia tidak berhasil menemukannya.


"Mas, kamu dimana mas? Kenapa kamu menghilang tanpa jejak kayak gini?" teriak Nadira.


Galen serta Tiara yang penasaran mengapa Nadira terus berteriak seperti itu, akhirnya datang menghampiri wanita itu dan menegurnya. Galen sungguh khawatir mamanya mengalami sesuatu, itu sebabnya ia bergerak cepat dan coba menenangkan Nadira yang terlihat mencari seseorang disana.


"Ma, mama kenapa sih ma? Mama cari siapa?" tanya Galen terheran-heran.


"Hah Galen? Tiara?" Nadira sedikit kaget melihat kehadiran putranya dan calon mantunya itu.


"Iya ma, ini kita. Mama kenapa panik kayak gitu sih? Apa yang terjadi ma? Siapa yang datang?" heran Galen.


Nadira menggeleng, "Bukan siapa-siapa, kayaknya mama halusinasi lagi sayang. Maafin mama ya?" jawabnya.


"Oh gitu, pasti mama mikirin papa lagi ya? Apa papa tadi datang temui mama lagi?" tebak Galen.


"Itu yang mama lihat sayang, tapi mama gak tahu itu benar atau cuma bayangan mama. Semuanya terlihat nyata, mama yakin kalau itu papa kamu. Tapi, tiba-tiba saja dia menghilang," ujar Nadira.


"Yaudah, mama tenang dulu ya! Yuk kita masuk lagi ke dalam!" ajak Galen.


Tiba-tiba saja, seorang wanita muncul dan berteriak dengan heboh.


"Yuhu mbak Dira!" teriaknya dari arah luar.


Sontak Nadira beserta Galen dan Tiara terkejut bukan main mendengarnya, mereka kompak menoleh ke arah suara itu.




Sementara itu, Gavin menghampiri Ciara di kamar untuk coba membujuknya. Gavin duduk di pinggir ranjang sambil berusaha mendekat ke arah putri cantiknya yang sedang merajuk itu, tapi tampaknya Ciara sama sekali tidak mau jika papanya datang kesana dan mendekatinya.


"Sayang, kamu jangan ngambek terus dong sama papa! Semua yang papa lakuin ini demi kebaikan kamu loh sayang," ucap Gavin.


"Papa apaan sih? Ngapain papa masuk kamar aku coba? Sana keluar ah!" usir Ciara.

__ADS_1


"Papa cuma mau minta maaf sama kamu, sekalian papa mau hibur kamu," ucap Gavin.


"Aku gak butuh dihibur pa, lagian aku baik-baik aja kok," tolak Ciara.


"Tapi kamu marah kan sama papa? Maafin papa ya sayang? Kamu jangan emosi terus dong sama papa!" ucap Gavin.


"Suruh siapa papa nyebelin?" ketus Ciara.


Perlahan Gavin menggerakkan tangannya mengelus lembut rambut halus putrinya, namun Ciara langsung menyingkirkan tangan papanya dengan kasar karena ia tak mau disentuh oleh papanya itu. Gavin pun menghela nafasnya sambil menggeleng pelan dengan kelakuan Ciara.


"Papa gausah sentuh-sentuh aku deh! Aku tuh masih kecewa sama papa!" ujar Ciara.


"Ya makanya papa minta maaf sama kamu, ayolah jangan ngambek terus!" ucap Gavin.


"Gak mau, mendingan aku tidur aja daripada ngobrol sama papa!" ucap Ciara.


Gavin spontan menarik tubuh Ciara secara paksa agar mau menghadap ke arahnya, meski tak mau akhirnya Ciara terpaksa menurut dan kini menatap papanya dengan wajah cemberut. Gavin tersenyum bermaksud menggodanya, mencolek dagu serta pipi gadis itu agar Ciara mau memaafkannya.


"Hey, udah dong ngambeknya sayang! Nanti cantiknya ilang loh, anak papa ini kan pasti gak mau dong jadi jelek?" goda Gavin.


"Papa apaan sih? Kenapa papa gak pulang coba? Tadi papa usir om Davin, tapi papa sendiri malah tetap disini. Papa curang!" ujar Ciara.


"Jadi kamu mau papa pulang? Enak aja, papa gak akan tinggalin kamu sendiri!" ucap Gavin.


"Aku udah biasa sendiri pa, baru sejak om Davin muncul aku jadi jarang sendirian. Sekarang papa tiba-tiba datang terus minta om Davin buat menjauh dari aku, aku heran sama papa," ucap Ciara.


"Papa cuma gak mau Davin nyakitin kamu sayang, karena papa tahu dia itu punya niat jahat sama kamu. Mungkin dia pura-pura baik ke kamu, supaya kamu bisa percaya sama dia," ucap Gavin.


"Papa salah, om Davin gak jahat kok sama aku. Udah deh om jangan ngomong yang aneh-aneh tentang om Davin!" ujar Ciara.


"Kamu yakin Ciara?" tanya Gavin tak percaya.


Ciara terdiam sesaat, memikirkan perihal perlakuan Davin kepadanya beberapa waktu lalu. Apalagi Davin juga sering mengancam akan menyebarkan video syur mereka ke media sosial, namun tentu Ciara tak mungkin memberitahu soal itu pada papanya sebab ia tidak mau Gavin semakin membenci Davin.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2