
Davin melepas ciumannya dan membuat Ciara membuka matanya. Davin menangkup wajah gadis itu, ia beralih mendekati telinga Ciara yang merupakan bagian sensitif gadis itu. Davin mendekatkan mulutnya ke telinga Ciara dan membisikkan kata-kata yang sensual.
"Let's play the game baby! Om sudah tidak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya sayang, mari kita nikmati semua itu!" bisik Davin.
Ciara hanya bisa diam, ia menelan saliva nya susah payah dan jantungnya juga sudah berdetak sangat kencang saat ini. Sedangkan pamannya itu mulai melahap daun telinganya, sehingga Ciara pun menutup mulutnya untuk menahan suara yang hendak keluar.
Ciara semakin terbawa suasana pada permainan Davin, ia merasakan miliknya di bawah sana sudah mulai basah dan akan mengeluarkan sesuatu. Padahal Davin saat ini baru menyentuh telinga serta lehernya, tapi tubuh Ciara memang terlalu sensitif dan membuat Ciara tak mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara-suara indah.
Davin menghentikan aksinya dan kembali menatap wajah Ciara yang sudah berubah drastis itu, ia dapat melihat kabut gairah sudah menguasai tubuh Ciara saat ini. Tanpa aba-aba, Davin memakan bibir mungil gadis itu dengan ganas dan menekan kepala Ciara pada kursi mobilnya.
Gadis itu hanya bisa pasrah, ia diam tak membalas sebab ia belum mengerti bagaimana caranya. Davin pun tak mempermasalahkan itu, baginya bibir Ciara saja sudah sangat nikmat dan ia tidak perduli Ciara mau membalas ciumannya atau tidak. Mereka terus melakukan ciuman panas itu selama beberapa menit, dengan dua tangan Davin yang memegangi kepala Ciara agar tak banyak bergerak.
"Mmhhh om.." Ciara menarik bibirnya lepas dari pagutan Davin disaat tangan lelaki itu bergerak nakal menyentuh buah sintal nya.
"Ya sayang, kamu nikmati saja semuanya. Gak perlu ditahan sayang," goda Davin.
"Aku gak mau om, udah ah om aku pengen sekolah!" ucap Ciara.
Saat Ciara hendak mendorong tubuh Davin, pria itu justru menahan kedua tangannya dan membuat Ciara tidak bisa bergerak sama sekali. Lagi-lagi Davin kembali mencium bibir mungil gadis itu dan Ciara pun hanya bisa pasrah.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk kaca mobil mereka, sontak Davin panik dan langsung mengakhiri aktivitasnya secara terpaksa.
"Tuh kan om, gara-gara om nih. Pasti pak satpam curiga sama kita disini," ujar Ciara panik.
"Kamu tenang aja ya, betulin tuh baju sama rambut kamu biar gak ketahuan!" ucap Davin.
"Iya iya.." Ciara menurut dan merapihkan semula rambut serta pakaiannya yang berantakan akibat permainan Davin barusan.
Davin pun membuka kaca mobil dan menatap ke arah satpam yang tadi mengetuknya, Davin coba berusaha untuk tenang agar tidak menaruh curiga pada si satpam. Sedangkan Ciara masih merapihkan bajunya yang agak berantakan.
__ADS_1
"Eee ada apa ya pak? Apa saya bikin salah?" tanya Davin keheranan.
"Tidak pak, saya cuma minta bapak buat majukan mobilnya. Soalnya di belakang jadi agak macet gara-gara mobil bapak gak gerak, maaf ya pak kalau saya kurang ajar," jelas si satpam.
"Ah iya gapapa pak, ini juga saya mau pergi kok. Tadi itu saya lagi ngobrol sebentar sama ponakan saya ini sebelum dia pergi," ucap Davin.
"Oh yasudah, makasih atas pengertiannya ya pak?" ucap si satpam.
Davin hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menutup kaca setelah satpam itu pergi, ia menatap Ciara lalu tersenyum seraya mengusap puncak kepala gadis itu.
"Dah kamu turun gih! Semangat ya belajarnya cantik!" ucap Davin ramah.
"Iya om," singkat Ciara yang langsung turun dari mobil dan bergegas pergi.
•
•
Hari sudah berganti, Galen yang kini tinggal di rumah mamanya pun terbangun dan mencari-cari keberadaan orang rumah sambil mengucek mata yang masih terasa mengantuk. Namun, saat sedang menuruni tangga pria itu malah berpapasan dengan Ciara dan terjadilah perdebatan diantara mereka.
"Ah berisik kamu! Mama dimana? Kakak mau bicara sama mama," ucap Galen sambil menguap.
"Mama ada di bawah kak, tapi kakak kalau mau ketemu mama minimal cuci muka lah, biar gak malu-maluin banget gitu," ucap Ciara.
Namun, Galen justru emosi dan menjitak kepala adiknya itu. Sontak Ciara pun mengaduh kesakitan sembari memegangi kepalanya, gadis itu terlihat kesal dan menatap wajah Galen penuh kebencian. Sedangkan Galen seolah tak perduli dengan kemarahan adiknya.
"Awhh!! Kakak apa-apaan sih? Sakit tau kak ih!" keluh Ciara.
"Suruh siapa kamu berani bicara begitu sama kakak? Gak sopan banget sih," ucap Galen kesal.
"Hah? Dimana titik gak sopannya sih kak? Perasaan aku cuma suruh kakak cuci muka, supaya enak gitu pas ketemu sama mama papa. Masa kakak mau ke bawah tapi masih belekan gitu?" ucap Ciara.
__ADS_1
"Benar-benar lu ya!" geram Galen yang kembali menjitak serta menjambak Ciara.
"Akh kakak sakit!" Ciara kesal dan membalas dengan memukul dada kakaknya.
Galen langsung saja mencengkram tangan Ciara yang tadi memukulnya, ia menatap tajam ke arah gadis yang tengah meringis kesakitan saat pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh Galen. Sontak Ciara berusaha keras melepaskan tangan kakaknya itu, tetapi yang ada ia malah merasakan semakin sakit pada lengannya.
"Awhh sakit banget kak, udah ah lepas ih! Kakak!" rintih Ciara memohon pada sang kakak.
"Berani kamu mukul kakak? Siapa sih yang ajarin kamu jadi kayak gini, ha?" geram Galen.
"Ish, iya iya aku minta maaf. Udah dong lepasin kak, sakit tau!" mohon Ciara.
"Kakak bakal lepasin, asalkan kamu mau bantu kakak buat ketemu sama kak Tiara nanti siang!" pinta Galen.
"Hah? Ih gak boleh kak, kakak kan lagi dipingit tau. Jadi, ya kakak gak bisa ketemu sama kak Tiara selama tiga hari ini," ucap Ciara.
"Justru itu Ciara, kakak gak tahan kalau gak ketemu sama Tiara. Ayolah kamu bantu kakak ya!" bujuk Galen.
Ciara berpikir sejenak, ia juga sudah tak tahan dengan cengkraman Galen pada lengannya. Namun, ia tak tahu harus bagaimana untuk bisa mempertemukan Galen dengan Tiara, apalagi pastinya orangtuanya nanti akan mengetahui apapun yang ia lakukan.
"Gimana Ciara? Kamu mau kan bantu kakak? Nanti kakak kasih hadiah deh buat kamu, terus tangan kamu juga bakal kakak lepasin," ucap Galen.
Ciara menggeleng pelan, "Enggak ah, aku gak mau lakuin itu. Aku juga takut ketahuan sama mama kak," ucapnya.
"Halah gausah takut, kamu lebih pilih mana? Mau temuin kakak sama Tiara, atau tangan kamu ini kakak patahin?" tanya Galen.
"Hah??" Ciara melongok lebar, terkejut mendengar ancaman kakaknya.
Lalu, tiba-tiba saja Nadira muncul dan meneriaki nama putranya yang sedang mencengkram lengan sang adik disana.
"Galen!" ucap Nadira dengan tegas.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...