Ranjang Panas Pamanku

Ranjang Panas Pamanku
Bab 24. Nindi tersipu


__ADS_3

Akhirnya Ciara menurut dan mau mengikuti keinginan pamannya untuk tetap disana.


"Iya deh, emang om mau apa lagi?" tanya Ciara.


Davin tersenyum lebar, satu tangannya bergerak membelai rambut Ciara hingga leher mulus milik gadis itu terpampang jelas di matanya. Davin pun mendekat, lalu dengan santainya ia mengecup leher jenjang Ciara dan meninggalkan bekas disana.


"Akh om sakit!" rintih Ciara sembari mencengkeram bahu sang paman.


Davin pun menghentikan kegiatannya, ia kembali tersenyum melihat hasil karyanya di leher Ciara. Ia mengalihkan fokus ke bibir Ciara yang merah muda dan menggoda itu, tanpa basa-basi Davin langsung saja mengecup bibir itu singkat dan tak ada penolakan dari Ciara. Gadis itu malah memejamkan mata seolah menikmati perbuatan pamannya.


"Mmhhh om.." tanpa sadar Ciara mengeluarkan suara indah di sela-sela ciuman mereka, mungkin sebab tangan Davin yang sudah bermain-main di buah sintal miliknya.


"Yes baby, kamu menikmati ini kan? Kamu mau mengulangi itu lagi sayang?" goda Davin.


Entah setan darimana yang merasukinya, Ciara malah mengangguk saat Davin bertanya seperti itu. Tentu saja Davin semakin dibuat senang mendengar jawaban sang ponakan, ia menguatkan remasan pada buah sintal gadis itu yang menyebabkan sang empu semakin gelisah tak karuan. Apalagi bibir mereka masih beradu dengan sangat panas, meski Ciara belum bisa membalasnya.


Lalu, Davin melepas ciumannya dan membuat Ciara membuka matanya. Davin menangkup wajah gadis itu, ia beralih mendekati telinga Ciara yang merupakan bagian sensitif gadis itu. Davin mendekatkan mulutnya ke telinga Ciara dan membisikkan kata-kata yang sensual.


"Let's play the game baby! Om sudah tidak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya sayang, mari kita nikmati semua itu!" bisik Davin.


Ciara hanya bisa diam, ia menelan saliva nya susah payah dan jantungnya juga sudah berdetak sangat kencang saat ini. Sedangkan pamannya itu mulai melahap daun telinganya, sehingga Ciara pun menutup mulutnya untuk menahan suara yang hendak keluar.


Ciara semakin terbawa suasana pada permainan Davin, ia merasakan miliknya di bawah sana sudah mulai basah dan akan mengeluarkan sesuatu. Padahal Davin saat ini baru menyentuh telinga serta lehernya, tapi tubuh Ciara memang terlalu sensitif dan membuat Ciara tak mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara-suara indah.


Davin menghentikan aksinya dan kembali menatap wajah Ciara yang sudah berubah drastis itu, ia dapat melihat kabut gairah sudah menguasai tubuh Ciara saat ini. Tanpa aba-aba, Davin memakan bibir mungil gadis itu dengan ganas dan menekan kepala Ciara pada kursi mobilnya.


Gadis itu hanya bisa pasrah, ia diam tak membalas sebab ia belum mengerti bagaimana caranya. Davin pun tak mempermasalahkan itu, baginya bibir Ciara saja sudah sangat nikmat dan ia tidak perduli Ciara mau membalas ciumannya atau tidak. Mereka terus melakukan ciuman panas itu selama beberapa menit, dengan dua tangan Davin yang memegangi kepala Ciara agar tak banyak bergerak.

__ADS_1


"Mmhhh om.." Ciara menarik bibirnya lepas dari pagutan Davin disaat tangan lelaki itu bergerak nakal menyentuh buah sintal nya.


"Ya sayang, kamu nikmati saja semuanya. Gak perlu ditahan sayang," goda Davin.


"Aku gak mau om, udah ah om aku pengen sekolah!" ucap Ciara.


Saat Ciara hendak mendorong tubuh Davin, pria itu justru menahan kedua tangannya dan membuat Ciara tidak bisa bergerak sama sekali. Lagi-lagi Davin kembali mencium bibir mungil gadis itu dan Ciara pun hanya bisa pasrah.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk kaca mobil mereka, sontak Davin panik dan langsung mengakhiri aktivitasnya secara terpaksa.




"Kita udah sampe nih, mau saya antar atau kamu turun sendiri aja?" ucap Leon.


"Umm, aku sendiri aja kak. Gak enak juga nanti dilihat orang kalau kak Leon ikut masuk ke dalam, lagian kak Leon kan juga harus kerja. Nanti kalau kamu masuk malah telat kerjanya," ucap Nindi.


"Yaudah gapapa, tapi saya tetap pantau kamu dari sini ya? Saya masih khawatir kamu bakal diganggu sama cowok mesum itu," ucap Leon.


Nindi sontak tersenyum dan merasa senang saat Leon begitu perhatian padanya, "Ah kamu bikin aku jadi grogi aja deh," ucapnya.


"Loh kok grogi? Emang saya kenapa sampai kamu bisa grogi kayak gitu? Perasaan saya cuma bicara biasa-biasa aja," heran Leon.


"Ya abisnya kamu tadi kayak kasih perhatian lebih ke aku, kan aku jadi mikir yang enggak-enggak. Walau aku tahu kamu kayak gitu cuma karena gak mau aku kenapa-napa, ya kan?" ucap Nindi.

__ADS_1


"Tentu, saya gak pengen kamu sampai diganggu lagi sama cowok itu. Kalau dia nanti dekati kamu, bilang aja ke saya ya! Saya pasti akan langsung datangi dia dan hajar dia," ujar Leon.


"Hahaha, gak boleh gitu kak nanti anak orang mati loh," ucap Nindi menahan kekehan nya.


"Biarin aja, salah dia sendiri mesum ke cewek di sekolahnya," ucap Leon.


"Ya aku tahu, tapi gak gitu juga kak. Yaudah ya aku turun dulu? Sekali lagi makasih udah mau anterin aku ke sekolah," pamit Nindi.


"Sama-sama, Nindi. Eh kamu gak mau cium tangan saya lagi kayak waktu itu?" tanya Leon.


Nindi tersenyum malu mendengarnya, ia mengingat kembali momen memalukan dimana dirinya mencium tangan Leon seolah mereka adalah sepasang kekasih. Nindi pun mengusap rambutnya untuk menutupi rasa malunya, tapi justru Leon menarik wajahnya dan bergerak mendekat yang membuat Nindi gugup.


"Eh kak, kamu mau apa?" tanya Nindi panik.


"Gausah takut gitu, saya bukan laki-laki yang suka merusak perempuan. Saya cuma mau benerin rambut kamu," jawab Leon sambil membetulkan rambut Nindi yang berantakan karena ulahnya.


Sontak Nindi semakin malu karenanya, tak terasa wajahnya sudah sangat memerah akibat apa yang ia katakan tadi.


"Makanya kamu jangan elus-elus rambut kamu kayak gitu dong! Tuh kan jadi berantakan kayak gini, emangnya kamu mau nanti ditegur sama guru?" ucap Leon masih sembari membelai rambut gadis di hadapannya.


"I-i-iya kak, yaudah makasih kak udah mau betulin rambut aku. Kalo gitu aku mau turun dulu ya, bye!" ucap Nindi dengan gugup dan sedikit mendorong tubuh Leon agar menjauh darinya.


Leon pun tersenyum lebar, "Ya Nindi, kamu hati-hati dan semangat belajarnya!" ucapnya.


Nindi hanya mengangguk, lalu turun dari mobil Leon dan mengambil nafas panjang. Nindi merasa lega sebab ia berhasil lepas dari ketegangan yang ia rasakan tadi, tapi tak lama karena Leon langsung membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Nindi disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2