
"Hah??" Ciara tersentak kaget mendengarnya.
"Iya sayang, kamu kan jodohnya om. Kamu itu cuma boleh nikah sama om dan jadi milik om, gak ada laki-laki lain yang boleh sentuh kamu atau milikin kamu!" jelas Davin.
"Gimana bisa om? Kita itu saudara, om gak bisa nikahin aku dong," ujar Ciara dengan cemberut.
"Kata siapa gak bisa? Semua bisa om lakukan kok, dan kamu harus mau nikah sama om! Kalau enggak, kamu tahu sendiri kan apa yang bakal om lakuin nanti?" ucap Davin sedikit mengancam.
"I-i-iya om, yaudah ya aku turun dulu? Aku capek nih pengen istirahat, sekali lagi makasih ya om udah anterin aku sampe ke rumah!" ucap Ciara gugup.
"Okay, kamu istirahat yang cukup ya sayang! Om telpon kamu nanti sore," ucap Davin tersenyum.
Ciara hanya mengangguk, lalu mencium tangan Davin sebagai tandai pamit. Tanpa diduga, Davin justru menarik wajah Ciara dan menahan tengkuk gadis itu, ia kemudian melu-mat bibir Ciara dengan ganas tanpa memberi aba-aba terlebih dulu. Ciara cukup kesulitan mengimbanginya, tapi pada akhirnya Ciara mampu membalas ciuman itu.
Setelah puas, Davin melepas ciumannya dan membiarkan Ciara turun dari mobil. Namun, tiba-tiba sebuah mobil hitam muncul dan berhenti di dekat mereka. Ciara sontak terkejut, ia menunggu disana sampai pemilik mobil itu keluar. Betapa kagetnya Ciara, sebab rupanya yang datang adalah Gavin alias ayah tirinya yang menikah dengan mamanya.
"Papa Gavin? Tumben banget papa datang kesini, ada apa ya pa?" tanya Ciara sembari berjalan mendekati papanya dan mencium tangannya.
"Iya sayang, papa cuma mau ngecek kondisi kamu aja. Kamu baru pulang sekolah? Kok gak sama Galen sih?" ucap Gavin.
"Enggak pa, aku soalnya dijemput sama om Davin. Udah dari lama juga kok om Davin jemput aku terus pas aku pulang sekolah," ucap Ciara.
"Davin?" Gavin benar-benar tak menyangka, lalu ia melirik ke arah mobil di depannya yang memang adalah milik Davin.
Davin pun keluar dari mobilnya, menemui Gavin disana sambil tersenyum lebar. Davin tahu jika Gavin tidak senang dengan kedekatannya dan Ciara, namun Davin tak perduli sebab ia sudah terlanjur jatuh cinta pada keponakannya yang cantik itu.
"Halo bang Gavin! Emang benar bang, gue yang jemput Ciara dan antar dia kesini," ujar Davin.
Gavin menggeram dengan tangan terkepal, menatap tajam ke arah Davin seolah bersiap memukul wajah sang adik yang kurang ajar itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau-mau aja sih dijemput sama paman kamu sayang?" tanya Gavin pada Ciara.
"Eee emangnya kenapa pa? Salah ya kalau aku pulang sama om Davin?" heran Ciara.
"Jelas salah, papa gak suka kamu dekat-dekat sama om Davin ini! Kamu itu harus menjauh dari dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. Papa khawatir dia akan menyakiti kamu sayang," ujar Gavin.
"Bang, lu kenapa kayak gitu sih sama gue? Sejak kapan coba gue nyakitin Ciara? Gue itu sayang sama dia, sebagai paman yang baik gue cuma pengen jemput dia aja kok," ucap Davin membela diri.
"Halah, gue tahu lu punya tujuan lain Davin! Pokoknya mulai sekarang, gue gak akan setuju lu dekat sama anak gue!" tegas Gavin.
"Ciara juga bukan anak lu kali, gausah lebay deh. Dia itu anaknya Nadira sama Albert, lu gak berhak larang gue buat dekat sama dia!" ucap Davin.
"Kurang ajar!" kesal Gavin.
"Aaaaa pa jangan pa!" Ciara berteriak menahan Gavin yang hendak memukul Davin, gadis itu terus memegangi tangan papanya dengan wajah panik.
•
•
Awalnya Tiara menolak ajakan Galen ini, namun mau tidak mau ia terpaksa mengikuti keinginan Galen karena bagaimanapun sebentar lagi ia juga akan menjadi bagian keluarga pria itu. Jujur saja Tiara sangat gugup, belum pernah ia datang ke rumah Nadira sebelumnya dan ini adalah kali pertamanya.
"Tiara, kamu kenapa kelihatan gemetar gitu? Kita udah sampai nih, yuk langsung masuk aja ke dalam! Katanya mama udah nunggu disana, gak sabar mau ketemu kamu," ucap Galen.
"Mas, aku belum siap ketemu mama kamu. Apalagi dadakan begini, aku kan harus dandan yang cantik dulu sama siapin mental aku tau," ujar Tiara pelan.
"Gak perlu lah sayang, kamu udah cantik kok walau gak dandan. Lagian waktu kita udah mepet sayang, aku pengen bawa kamu buat datang kesini dan ketemu sama mama aku," ucap Galen.
"Iya mas, tapi kan gak mendadak juga. Kamu gak ada kasih tau aku sebelumnya kalau kamu mau bawa aku kesini, tau gitu kan tadi aku izin sama kamu buat pulang dulu," ucap Tiara cemberut.
__ADS_1
"Hahaha, kamu gausah khawatir sayang. Aku yakin mama pasti senang sama kamu," ucap Galen.
Tiara mengambil nafas panjang dan berupaya menenangkan dirinya, ia benar-benar panik saat ini dan tidak bisa berpikir jernih. Ia khawatir jika nantinya di dalam sana melakukan kesalahan dan malah membuat orang tua Galen merasa tidak suka padanya, itulah yang membuatnya sangat cemas.
"Yuk kita masuk sayang! Sini tangan kamu aku gandeng!" ajak Galen yang langsung menyatukan tangannya dengan milik Tiara.
"Umm, kamu beneran nih gak mau ubah keputusan kamu sebelum terlambat?" tanya Tiara gugup.
"Apa sih sayang? Kamu maunya gimana emang? Kita ini udah di depan rumah mama loh, masa mau putar balik?" heran Galen.
"Ya soalnya aku beneran belum siap buat bicara sama mama kamu soal pernikahan kita," ujar Tiara.
"Kamu tenang aja, biar aku yang bicara sama mama nantinya!" ucap Galen.
Akhirnya kali ini Tiara menganggukkan kepalanya, ia mengambil nafas panjang dan mulai melangkah ke depan bersama Galen di sampingnya. Tangan mereka saling bertaut, seolah Galen tak membiarkan kekasihnya itu jalan sendirian. Mereka pun mengetuk pintu dan mengucap salam memanggil Nadira.
Tak lama, pintu terbuka dan Nadira pun muncul dari dalam rumah itu. Galen sontak tersenyum, mencium tangan mamanya, diikuti juga oleh Tiara yang melakukan hal sama. Nadira sangat senang melihat kehadiran putranya bersama calon menantunya itu, ia langsung saja menyuruh mereka masuk ke dalam.
Di dalam, ketiganya duduk pada sofa dan langsung dihidangkan tiga gelas minuman oleh sang pelayan yang bekerja disana. Tiara pun semakin merasa gugup karena sudah berhadapan langsung dengan calon mertuanya, sungguh Tiara tak tahu harus berbicara apa untuk saat ini.
"Ma, aku ajak Tiara kesini karena aku mau kasih tau ke mama kalau kita putusin buat memajukan jadwal pernikahan kita. Rencananya itu acaranya Minggu depan ma, dan besok aku sama Tiara akan melakukan foto prewedding," ucap Galen.
Nadira sedikit kaget mendengarnya, "Kamu serius Galen? Kenapa dimajukan segala?" tanyanya.
Galen tersenyum sembari menatap wajah Tiara, "Iya ma, aku gak sabar buat nikah dan berumah tangga bareng sama Tiara," jawabnya santai.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1