
Ciara masih bersama pamannya di mobil, ia melihat-lihat sekeliling dan sedikit bingung karena ini bukan merupakan jalan menuju rumahnya. Tentu Ciara langsung menatap ke arah Davin dan melakukan protes, ia sangat cemas jika Davin akan membawanya ke tempat yang tidak beres seperti saat pamannya itu mengajak ia ke apartemennya.
"Om, ini om mau bawa aku kemana? Kok kita gak lewat jalan ke rumah aku ya?" tanya Ciara.
Davin tersenyum dan sesekali melirik wajah ponakannya itu, "Kita mau kemana itu terserah om dong sayang, lagian nanti juga kamu bakal tahu kok. Udah ya kamu diam aja?" ucapnya.
"Gak bisa om, aku takut om bawa aku ke apartemen om lagi. Aku gak mau kejadian waktu itu terulang om," ucap Ciara cemas.
"Kamu gausah takut Ciara, kalaupun om bawa kamu kesana ya pasti kamu juga gak bakal merasakan itu lagi kok," ucap Davin.
"Ish, udah ah om ayo putar balik terus kita pulang ke rumah aku! Aku takut papa sama mama cemas nyariin aku, mending kita kesana aja ya om!" ucap Ciara.
"Gak bisa Ciara, om sudah bulat mau bawa kamu ke tempat om tinggal. Nantinya kamu akan selalu tinggal disana sampai kapanpun," ucap Davin.
Ciara langsung mengernyit tak percaya, "Om jangan ngaco deh! Aku gak mau tinggal di rumah om atau apartemen om!" ucapnya.
"Kamu gak mau juga om bakal paksa kamu kok, lagian kamu mana mungkin bisa lepas dari om sayang?" ucap Davin.
Sontak Ciara membelalakkan matanya, ia semakin takut pada pamannya karena senyum smirk yang diberikan pria itu. Sedangkan Davin tampak puas dan senang melihat reaksi ketakutan dari wajah Ciara, itulah yang ia inginkan sebab ia sangat berharap bisa membawa Ciara tinggal bersamanya.
Drrttt Drrttt...
Tiba-tiba ponsel Ciara berdering, gadis itu segera mengambilnya dan melihat nama papanya di layar. Ia tersenyum lalu berniat mengangkat telpon itu, tapi Davin malah mencegahnya dan berusaha merebut ponsel Ciara dari tangannya. Untungnya Ciara berhasil menyelamatkan ponselnya.
"Ish, om apa-apaan sih?! Ini tuh hp aku, jadi suka-suka aku lah!" kesal Ciara.
"Kamu mau angkat telpon dari siapa itu sayang? Kamu jangan macam-macam ya sama om, awas loh nanti om sebar video kamu!" ancam Davin.
"Jangan dong om! Ini papa aku yang telpon, masa aku juga gak boleh angkat?" ucap Ciara gemetar.
__ADS_1
"Gak, om gak mau kamu bilang ke papa kamu tentang keberadaan kita. Sekarang kamu matiin aja hp kamu itu sayang!" ujar Davin.
Ciara menggeleng, "Aku tak mau lakuin itu om, aku pengen angkat telpon papa," ucapnya tegas.
Akhirnya Ciara lebih dulu berhasil mengangkat telpon papanya sebelum Davin mengambil paksa ponsel miliknya itu, Davin pun terlihat kesal dan melotot ke arah Ciara bermaksud meminta gadis itu untuk tidak menceritakan keberadaan mereka pada papanya.
📞"Ha-halo sayang! Kamu dimana Ciara? Kamu lagi sama siapa sekarang? Ini papa ke sekolah, tapi kata satpam kamu udah pergi dijemput cowok. Siapa dia sayang?" ucap Gavin dengan nada panik.
📞"Pap-papa.." Ciara terlihat grogi dan gugup saat hendak menjawab pertanyaan papanya, ia melirik wajah Davin dengan ketakutan.
📞"Ya sayang, kamu jelasin aja ke papa dimana kamu sekarang! Papa pengen tahu kamu sama siapa sayang, gausah takut ya!" ucap Gavin.
📞"Eee a-aku..." saat Ciara hendak berbicara, Davin tiba-tiba mengambil ponselnya dan mematikan telpon itu lalu menyimpan ponsel milik Ciara ke dalam sakunya.
Sontak Ciara terkejut dan panik, ia marah-marah meminta ponselnya kembali.
•
•
Sebenarnya Tiara sudah berulang kali mencoba mengusir Nico dari rumahnya, tetapi Nico tak mau dan malah kekeuh ingin tetap berada disana serta memaksa masuk ke dalam rumah itu. Akhirnya Tiara pun mau tidak mau mengizinkan Nico untuk masuk, meski ia sangat menyesali itu.
"Kamu sekarang mau bicara apa lagi Nico? Menurut aku, udah gak ada yang perlu kita bahas lagi. Hubungan kita selesai udah lama, jadi itu semua cuma masa lalu," ucap Tiara.
"Hey Tiara, aku kesini karena ingin memperbaiki hubungan kita yang sempat kandas. Aku mau kita balik lagi sayang," ucap Nico.
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah mau balik lagi jadi pacar kamu Nico!" tegas Tiara.
"Betul tuh, mending lu sekarang cabut dari sini dan jangan pernah balik lagi ke rumah Tiara! Semua yang lu bicarain itu gak akan mungkin terjadi!" sahut Rifka.
__ADS_1
"Heh, kamu diam deh Rifka! Saya gak lagi bicara sama kamu, jadi kamu gausah ikut campur!" ucap Nico menegur gadis itu.
"Sialan lu ya, berani banget lu ngomong begitu sama gue! Gue ini sahabatnya Tiara, jadi gue berhak ikut campur!" ucap Rifka.
"Iya iya, terserah kamu aja!" kesal Nico.
Nico beralih menatap Tiara, ia tersenyum lebar lalu sedikit membungkukkan badannya agar bisa lebih dekat dengan gadis di hadapannya itu. Nico hendak meraih tangan Tiara secara perlahan, tetapi Rifka menyadari itu dan segera menepis tanga Nico dengan kasar sampai pria itu meringis.
"Awhh, lu kenapa sih Rifka?! Tega banget lu tabok tangan gue kayak gini, perih tau!" ujar Nico.
"Bodoamat, suruh siapa lu berani macam-macam sama Tiara? Ngapain coba tadi lu pengen pegang tangan dia? Dasar kurang ajar!" sentak Rifka.
"Rifka, aku gak ada niat kurang ajar. Aku cuma pengen sentuh tangan Tiara aja, aku udah kangen banget pegang tangan dia," ucap Nico.
"Halah alasan aja lu, bilang aja lu mau bertindak mesum kan sama Tiara!" ucap Rifka.
Nico terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ia mengusap dagunya lalu kembali bersandar di sofa dengan kedua tangan menumpu kepala bagian belakangnya. Sedangkan Rifka serta Tiara terus menatap kesal ke arah lelaki itu, keduanya tak mau melihat keberadaan Nico disana lagi.
"Kamu tuh mau sampai kapan sih ada disini? Aku harus beberes, jadi mending kamu pulang deh biar aku bisa leluasa beres-beres! Aku gak punya banyak waktu, tolong ya kamu ngertiin!" ucap Tiara.
"Oh gitu, gimana kalau aku bantu kamu buat beres-beres disini?" tanya Nico menawarkan diri.
"Gausah Nico, aku bisa sendiri. Kamu pulang aja itu juga udah bantu aku kok," jawab Tiara menolak.
"Iya, lagian si Tiara kan ada gue yang bisa bantu. Lu pulang gih sana, jangan bikin masalah!" sahut Rifka.
"Iya iya, ia ini aku mau pulang kok. Tapi, aku bakal kembali lagi kesini besok. Aku gak akan berhenti sebelum kamu mau balikan sama aku," ucap Nico.
Tiara terbelalak tak percaya seraya menggelengkan kepala, sedangkan Nico tersenyum lebar lalu bangkit dari duduknya dan bersiap pergi dari rumah itu walau dengan terpaksa.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...