
Ciara keluar kamar dengan perasaan bahagia, ia sudah tidak sabar ingin segera mengikuti lomba menyanyi mewakili sekolah dan menjadi pemenang. Gadis itu kini sudah berpakaian rapih, mengenakan seragam putih abu-abu dan bersiap berangkat ke sekolah setelah selesai berdandan di kamarnya.
Ciara pun bergerak menuju meja makan, matanya mengedar kesana-kemari mencari orang di rumah tersebut. Ciara sungguh heran sebab biasanya sang kakak sudah duduk lebih dulu disana sebelum dirinya datang, tapi kali ini tak ada siapapun di meja makan yang membuat Ciara menjadi penasaran.
"Ih kak Galen kemana sih? Masa iya dia belum bangun jam segini? Padahal biasanya dia bangun lebih dulu daripada aku," gumam Ciara.
Setelah bergumam memikirkan sang kakak, Ciara akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar kakaknya dan mengecek apakah Galen sudah bangun atau belum. Ciara melangkah dari meja makan sambil berteriak memanggil nama Galen berharap pria itu mendengarnya.
"Kak, kak Galen ayo bangun! Kakak!" teriakan Ciara yang cukup keras terus menggema.
Namun, langkah Ciara tiba-tiba terhenti saat namanya dipanggil oleh sang pelayan yang bekerja di rumah itu. Dia adalah Sinta, atau biasa dipanggil mbak Sinta baik oleh Ciara maupun Galen. Wanita berusia tiga puluhan tahun itu baru bekerja disana selama beberapa bulan menggantikan pelayan lama yang mengundurkan diri karena urusan lain.
"Non Ciara!" sang pemilik nama menghentikan langkahnya saat Sinta meneriakinya, Ciara sontak menoleh lalu tersenyum ke arah Sinta.
"Eh mbak Sinta, kenapa mbak?" tanya Ciara penasaran.
"Non tadi saya dengar-dengar lagi nyari den Galen ya?" tebak Sinta.
"Iya mbak, abisnya kak Galen belum bangun juga sampe sekarang. Padahal bentar lagi kan aku harus berangkat ke sekolah mbak," ucap Ciara.
"Tapi non, den Galen udah bangun daritadi kok. Malahan den Galen tadi pergi pagi-pagi sekali, mungkin non Ciara masih di kamar," ucap Sinta.
"Apa? Emang kak Galen pergi kemana mbak? Kok dia gak bilang sama aku?" tanya Ciara terkejut.
Sinta menggeleng pelan, "Saya juga kurang tahu non, den Galen tadi cuma bilang mau pergi. Dia gak bilang mau kemana," jawabnya.
"Yah terus siapa dong yang antar aku? Masa iya aku berangkat sendiri?" ujar Ciara.
"Tenang aja non, kan ada pak supir yang udah siap-siap di depan. Non Ciara mending sarapan aja dulu!" ucap Sinta.
"Iya sih, kalo gitu aku mau sarapan deh. Makasih ya mbak atas infonya," ucap Ciara.
"Sama-sama non, saya juga mau lanjut beresin di belakang ya non?" pamit Sinta.
__ADS_1
"Iya mbak," singkat Ciara disertai anggukan kecil.
Sinta langsung melangkah menuju dapur meninggalkan Ciara, sedangkan Ciara sendiri kembali ke meja makan untuk menyantap sarapan yang sudah tersedia disana. Gadis itu memakan dengan lahap dan cepat, hari ini ia ingin lebih cepat sampai di sekolah karena suatu hal.
"Pagi Ciara ponakan om yang cantik jelita!" tiba-tiba suara Davin terdengar di telinga Ciara, sontak gadis itu menoleh dan menemukan pamannya disana.
"Hah om Davin??" Ciara terkejut dengan kedua mata terbelalak saat melihat kehadiran Davin di rumahnya.
"Hai cantik! Kamu kok makin cantik aja sih Ciara? Om jadi gak tahan deh buat ajak kamu ke apartemen om lagi," goda Davin.
Glek
Ciara menelan saliva nya dan reflek membuang muka, lalu Davin pun menarik kursi dan duduk di sebelah Ciara sambil mencolek pipinya bermaksud menggoda gadis itu.
"Cantik, jangan buang muka dong!" ujar Davin.
"Ish udah ah om jangan ganggu aku!" sentak Ciara langsung menepis tangan Davin.
•
•
Sementara itu, Galen dan Tiara sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju kantor. Namun, pria itu sengaja mengajak Tiara berkeliling lebih dulu sebab ia masih ingin menikmati waktu berdua dengan gadis itu sebelum mulai bekerja.
"Mas, kenapa malah lewat sini sih? Ke kantor kan lebih dekat lewat jalan yang sebelumnya, kamu mah aneh-aneh aja deh!" ujar Tiara.
"Aku gak aneh sayang, aku kan mau menikmati waktu berdua sama kamu. Kalau lewat jalan yang tadi, nanti lebih cepat dong sampe ke kantornya. Aku gak mau itu Tiara cantik," ucap Galen.
"Haish, kamu kok begitu banget sih? Masa cuma karena pengen berduaan sama aku, terus kamu lewat jalan yang jauh?" heran Tiara.
"Suka-suka aku dong, namanya juga calon suami yang mau berduaan terus sama calon istrinya. Wajar dong sayang? Apalagi sore nanti kita mau foto prewed," ucap Galen.
"Ya ya ya, aku malas bicara sama kamu. Mending aku dengerin musik aja," ucap Tiara.
__ADS_1
Galen tampak tak suka saat Tiara mengambil ponselnya dan memasang earphone di telinganya, sontak saja pria itu langsung merebut ponsel milik Tiara dan membuat Tiara terkejut lalu reflek menoleh ke arah Galen.
"Kamu apa-apaan sih mas? Balikin handphone aku! Aku tuh mau dengar musik biar gak dengerin omongan kamu yang gak mutu itu!" protes Tiara.
"Gak boleh, aku gak izinin kamu buat setel musik kalo lagi sama aku!" tegas Galen.
"Kamu segitunya banget ya mas? Cepet ah balikin hp aku sini!" ujar Tiara.
"Pokoknya aku gak mau balikin hp kamu, ini aku sita sampai kita tiba di kantor nanti. Udah sekarang kamu ngobrol aja sama aku," ucap Galen.
"Ih ngobrol apa sayang? Kamu aja ngomongin yang gak penting terus, aku males!" sentak Tiara.
"Kali ini penting deh, aku pengen tanya suatu hal ke kamu sayang," ujar Galen.
"Yaudah, kamu mau tanya apa mas Galen sayang? Awas loh ya kalo gak penting!" ucap Tiara.
"Hahaha, aku cuma pengen tahu kira-kira nanti pas kita udah nikah kamu mau punya anak berapa sayang?" ucap Galen sambil menahan kekehan.
Mendengar pertanyaan pria itu, tentu saja Tiara dibuat jengkel dan langsung membuang muka. Galen pun tertawa keras, tangannya menarik wajah Tiara agar kembali menatapnya. Tiara yang kesal malah menepis tangan Galen dengan kasar.
"Udah ah aku ngambek sama kamu! Lagi-lagi pertanyaan kamu gak penting, beneran deh aku kesel tau!" sentak Tiara.
"Iya iya, padahal tadi itu pertanyaan penting loh. Aku kan pengen tahu kamu mau punya anak berapa, biar nanti aku bisa siap-siap buat bikin anak sesuai yang kamu minta," ucap Galen.
"Mas, berapapun jumlahnya itu aku bersyukur kok. Lagian aku mana bisa tentuin kita bakal dikasih anak berapa sama Tuhan?" ucap Tiara.
"Ya tapi kan bisa diusahakan sayang, kalau kamu mau sebelas nanti kita usaha terus setiap hari. Atau malah mau dua puluh?" sarkas Galen.
"Ih mas Galen!" Tiara emosi dan mencubit pinggang kekasihnya untuk melampiaskan emosi yang sedari tadi ia tahan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1