
Gavin merasa heran sebab telponnya tiba-tiba terputus saat ia sedang berbincang dengan Ciara, padahal ia masih belum mendapat informasi mengenai keberadaan Ciara saat ini. Tentu saja Gavin sangat bingung dan tak mengerti harus mencari Ciara kemana, sungguh ia sangat khawatir pada putrinya itu sebab ia tahu Ciara tengah bersama Davin adiknya yang playboy itu.
Gavin tentu tak mau jika Davin melukai putrinya yang ia sayangi itu, walaupun Ciara bukanlah anak kandungnya tetapi Gavin sudah menganggap gadis itu seperti anaknya sendiri. Gavin tahu betul Davin seperti apa, itu sebabnya ia cemas sekali setelah mengetahui Ciara tengah bersama Davin saat ini dan gadis itu berada dalam bahaya.
"Haish, ini kenapa tiba-tiba mati ya telponnya? Saya coba hubungi lagi juga gak bisa, apa yang terjadi sih sebenarnya? Duh Ciara, semoga kamu baik-baik aja sayang!" gumam Gavin.
Akhirnya Gavin bergegas memacu mobilnya, ia berusaha mencari keberadaan Ciara walau ia tak tahu harus kemana. Namun, beberapa saat setelah pergi dari sekolah Ciara itu, tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip dan berhenti tepat di depannya sehingga Gavin terpaksa menginjak rem.
"Apa-apaan sih tuh mobil?! Sialan banget main berhenti di depan mobil orang gitu aja!" geram Gavin sambil memukul setir mobilnya.
Tak lama kemudian, sosok perempuan keluar dari mobil di depannya itu dan berjalan ke arahnya. Gavin menghela nafas lega karena ternyata yang tadi menyalipnya adalah Nadira, ya istrinya itu lah yang hampir saja ia marahi tadi. Untungnya Gavin belum terlanjur turun dan memaki-maki wanita itu.
Sontak Gavin menyusul turun dari mobil menemui sang istri, ia tersenyum lebar berusaha menenangkan diri setelah tadi sempat agak panik saat tiba-tiba mobilnya disalip. Ia kini berhadapan dengan Nadira yang juga tersenyum di depannya dan mencium tangannya.
"Ternyata kamu sayang, hampir aja aku tabrak loh tadi," ucap Gavin.
"Maaf mas, aku cuma pengen tahu kamu kemana aja. Abisnya aku tungguin kamu di rumah eh gak pulang-pulang, katanya mau jemput Ciara doang," ucap Nadira.
"Iya sayang, niat aku emang mau jemput Ciara. Tapi begitu aku sampai disana, Ciara nya udah pergi duluan sayang," ucap Gavin.
Nadira tersentak kaget, "Apa mas? Kok bisa sih Ciara pergi duluan? Emang dia pergi sama siapa mas?" tanyanya penasaran.
Gavin menggeleng, "Aku juga gak tahu, tapi kalau dari perkataan satpam disana kayaknya Ciara pergi sama Davin deh," jawabnya.
"Oh syukurlah, seenggaknya Ciara bisa aman kalau sama Davin. Udah yuk mas kita pulang!" ucap Nadira.
"Aman darimana? Justru aku khawatir karena Ciara dibawa pergi sama Davin, aku gak mau Davin melukai Ciara dan bikin Ciara kenapa-napa!" ucap Gavin tegas.
"Maksud kamu gimana sih mas? Davin kan adik kamu, masa kamu gak percaya sama adik kamu sendiri sih?" heran Nadira.
__ADS_1
"Dia emang adik aku, tapi sifatnya dan aku itu berbeda jauh. Aku tahu dia playboy yang suka mainin cewek, aku gak mau Ciara jadi korban selanjutnya," ucap Gavin panik.
"Loh emangnya Ciara sama Davin ada hubungan ya?" tanya Nadira.
Gavin menggeleng, "Aku gak tahu, tapi aku yakin ada sesuatu yang ditutupi Ciara tentang Davin," jawabnya.
"Kamu jangan berpikiran negatif dulu sama adik kamu, bisa aja dia gak begitu kan!" ucap Nadira.
"Ya gimana lagi sayang? Davin itu memang laki-laki yang tidak baik, aku gak mau dia dekat-dekat sama Ciara anak kita!" ucap Gavin.
Nadira terdiam, lalu Gavin menariknya masuk ke mobil untuk segera mencari keberadaan Ciara.
•
•
Sementara itu, Ciara masih menatap geram wajah pamannya yang baru saja mengambil ponsel miliknya dari tangannya. Ciara tentu tak terima karena tadi ia sedang menelpon papanya dan ingin memberitahu dimana dirinya, gadis itu pun mencoba meminta ponselnya kembali dari Davin.
Davin menggeleng dan menyembunyikan ponsel Ciara di bawah jok, sehingga gadis itu tidak dapat menemukannya. Ciara pun kesal lalu memukul-mukul tubuh pamannya berulang kali sambil berteriak emosi, namun tetap tak membuat Davin berubah pikiran.
"Kamu diam Ciara! Jangan pancing emosi om ya! Kamu tahu kan kalau om emosi kayak gimana? Kamu mau kena masalah lagi?" ujar Davin.
"Aku gak perduli, aku juga gak takut sama om. Kembaliin hp aku, aku mau bicara sama papa dan kasih tau dimana kita sekarang!" ucap Ciara.
"Gak Ciara, kamu nurut dong sama om dan jangan bantah! Jadi anak yang baik sayang!" tegas Davin.
Davin yang emosi akhirnya menghentikan sejenak mobilnya ke pinggir dan menatap Ciara dengan tajam, Ciara reflek menunduk takut disertai tubuh yang gemetar. Ciara sangat cemas saat Davin mendekat ke arahnya, apalagi satu tangan pria itu bergerak mengenai wajahnya.
"Kalau aja kamu mau nurut sama om, pasti hidup kamu akan lebih bahagia sayang. Ayolah, kamu lupakan aja papa kamu yang gak jelas itu! Kamu tinggal sama saya aja ya?" ucap Davin.
__ADS_1
"Apa sih om? Aku gak mungkin bisa lupain papa, papa itu kan papa aku!" tegas Ciara.
"Ya emang, tapi dia bukan papa yang baik buat kamu sayang!" ujar Davin.
"Om tahu apa sih soal papa? Lagian aku yang selama ini tinggal sama papa baik-baik aja tuh, jadi om gausah ngada-ngada deh!" ujar Ciara.
"Ciara, kamu nurut aja dong sama om! Tinggal sama om ya sayang?" bujuk Davin.
"Kenapa sih om maksa banget aku buat tinggal sama om? Kalau om mau lakuin yang kayak waktu itu, oke aku siap om. Aku bersedia buat pasrah dan biarin om lakuin itu, tapi tolong jangan paksa aku buat tinggal sama om!" ucap Ciara.
Davin tersenyum seringai, "Kamu yakin sayang? Bagaimana kalau om lakuin hal yang lebih dari itu?" ujarnya dengan tatapan sensual.
"Maksud om apa? Emang hal yang lebih itu maksudnya gimana?" tanya Ciara keheranan.
"Ya seperti yang pasangan suami-istri sering lakukan, kamu pasti tahu dong sayang. Kamu mau gak melakukan itu sama om?" jawab Davin.
Deg!
Ciara langsung terkejut begitu mendengar perkataan pamannya, "Om ngaco aja sih, ya jangan berlebihan kayak gitu juga! Emang om gak kasihan apa sama aku? Itu sama aja om mau merusak aku tau!" ucapnya kesal.
"Om gak merusak kamu kok, setelah itu om janji akan bertanggung jawab dan menikahi kamu sayang. Kamu gausah khawatir, yang penting kamu nurut aja ya cantik!" ucap Davin.
Ciara menggeleng terheran-heran dengan sikap pamannya itu, "Aku gak mau nikah sama om, aku izinin om buat lakuin hal yang waktu itu aja gak lebih!" ucapnya tegas.
"Ya ya ya, okay om setuju. Sekarang kamu jangan ngambek lagi ya! Kita ke apartemen om dan disana kamu harus lakuin apa yang tadi kamu katakan," ucap Davin.
Ciara mengangguk pelan, meskipun ia sangat takut untuk melakukan semua itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...