Ranjang Panas Pamanku

Ranjang Panas Pamanku
Bab 39. Pilih mana?


__ADS_3

Davin dan Ciara turun dari mobil begitu mereka tiba di apartemen lelaki itu, namun sesaat kemudian mereka dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil hitam yang berhenti di dekat mereka. Ciara sangat mengenali mobil tersebut dan ia yakin kalau pemiliknya adalah papanya, itu sebabnya ia tersenyum dan berharap papanya bisa membantu dirinya untuk lepas dari jeratan pamannya itu.


Benar saja yang dipikirkan Ciara, itu memang mobil Gavin yang sengaja menyusul mereka kesana. Sontak Davin menggeram kesal ketika melihat Gavin keluar dari mobilnya, satu tangan pria itu sudah terkepal menandakan ia benar-benar emosi karena kakaknya itu selalu saja ingin menghalangi niatnya memiliki Ciara seutuhnya.


"Hey Davin! Berani sekali kamu bawa pergi Ciara tanpa seizin saya, memang dasar laki-laki tidak tahu diri! Kamu itu benar-benar bikin saya emosi Davin!" ucap Gavin.


"Lo bicara apa sih bang? Gue udah izin kok sama mbak Nadira, dan dia ngizinin gue buat bawa pergi Ciara," ucap Davin membela diri.


"Iya, tapi Nadira kasih izin kamu buat bawa Ciara pulang ke rumah. Bukan malah dibawa ke apartemen kamu ini, dasar laki-laki tidak tahu diri! Kelakuan kamu ini tidak pantas untuk diampuni Davin!" geram Gavin.


"Apaan sih? Emang apa salahnya kalau gue bawa Ciara kesini? Lagian gue yakin kalau dia gue pulangin ke rumah, dia pasti gak akan ada yang urusin disana," ucap Davin.


"Tahu apa kamu tentang keluarga saya Davin? Lebih baik kamu lepaskan dia sekarang!" sentak Gavin.


Davin menggeleng dan memegang erat tubuh Ciara seraya menyembunyikannya, ia tidak ingin dan tidak akan pernah memberikan Ciara kepada abangnya itu sampai kapanpun. Bagi Davin, hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk dapat memiliki Ciara dan membuat cintanya terbalaskan.


"Itu tidak akan terjadi bang, gue bakal ajak Ciara tidur disini malam ini dan lu gak bisa halangi niat gue!" ucap Davin tegas.


"Kata siapa saya gak bisa halangi kamu Davin? Walau saya sendirian, saya juga tetap bisa mengambil Ciara dari kamu secara baik-baik atau dengan kasar!" ucap Gavin.


"Lo mending lupain itu deh bang, kita biarin Ciara memilih dia mau tinggal sama gue disini atau ikut sama lu!" ucap Davin memberi solusi.


Gavin mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti mengapa adiknya itu terlihat sangat yakin jika Ciara akan memilihnya dan mau tinggal bersamanya, sebab Davin berani mengusulkan untuk bertanya langsung pada Ciara. Gavin pun curiga kalau ada sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Gimana bang? Lu pasti setuju kan sama usul gue?" tanya Davin.


Gavin menatap wajah putrinya yang juga terlihat tak setuju dengan apa yang diusulkan Davin, tentu saja Ciara akan terpaksa memilih Davin sebab ada video panasnya yang dipegang dan disimpan oleh Davin di dalam ponselnya. Gavin juga merasa kalau apa yang diusulkan adiknya adalah bukan hal yang baik.

__ADS_1


Sementara Davin masih tetap diam menanti jawaban kakaknya itu, ia sesekali tersenyum dan melirik ke arah Ciara yang berada tepat di sebelahnya. Davin sangat yakin jika Ciara pasti akan menurut dan memilihnya, meski harus ada paksaan terlebih dahulu nantinya.


"Saya tidak setuju dengan usul kamu Davin, serahkan saja Ciara ke saya!" ujar Gavin.


"Enak saja, gue susah payah bawa Ciara kesini. Masa gue mau serahin dia gitu aja ke lu? Ada usahanya dikit dong bang, lagian usul gue tadi itu kan adil toh. Kenapa lu malah gak setuju?" ucap Davin.


"Saya tahu kamu sudah merencanakan sesuatu dibalik usul kamu itu Davin, jadi saya tidak akan terima usulan itu. Ciara harus ikut dengan saya apapun yang terjadi, kalau kamu masih terus menghalangi niat saya ini, saya akan terpaksa serang kamu dan tidak akan segan-segan untuk melukai kamu!" ucap Gavin.


"Lo pikir gue takut sama lu, bang? Silahkan aja lu maju, gue ladenin!" tantang Davin.


Disaat Gavin hendak bergerak mendekati Davin, tiba-tiba saja Ciara bersuara meminta kedua lelaki itu untuk tidak bertengkar. Ciara memang takut dengan Davin dan tak ingin bersamanya, tetapi ia juga tidak mau jikalau ayah serta pamannya itu sampai harus berkelahi seperti ini.


"Om, papa, cukup udah jangan berantem terus! Kalian kan saudara, harusnya kalian gak boleh kayak gini tau!" ucap Ciara menengahi.


"Kamu diam Ciara! Laki-laki kurang ajar seperti dia ini harus diberi pelajaran, supaya dia kapok dan gak mengulangi kesalahannya!" geram Gavin.


Gavin tersenyum di sela-sela kemarahannya, ia senang lantaran tahu kalau Ciara putrinya itu lebih memilih dirinya dibanding Davin. Sontak saja Gavin langsung menarik lengan Ciara agar mendekat ke arahnya dan mendekap dengan erat, Ciara diam saja meskipun ia sangat kaget barusan.


"Eh bang, lu gak bisa main tarik-tarik Ciara aja kayak gitu. Pokoknya dia harus tetap disini sama gue, jangan bawa Ciara tanpa seizin gue bang! Gue pengen dia tetap disini," ucap Davin tegas.


"Kamu gak dengar apa tadi yang dibilang sama Ciara? Dia mau ikut sama saya, jadi kamu tidak bisa menghalangi kami!" ucap Gavin.


Karena tidak ingin terlalu lama berdebat, akhirnya Gavin membawa pergi Ciara dari hadapan adiknya dan masuk ke mobil bersama-sama. Davin yang melihat itu hanya diam saja seraya mengusap wajahnya, terlihat betul ia menahan amarah saat Gavin melaju pergi dengan mobilnya. Rencana yang sudah disusun oleh Davin pun gagal, akibatnya ia mengamuk sendiri di area parkiran itu dengan memukuli badan mobilnya.



__ADS_1


Sementara itu, Gavin dan Ciara sudah menjauh dari apartemen Davin. Tampak Ciara mampu bernafas lega karena kini dirinya sudah aman dari hasrat memburu sang paman yang ingin sekali memiliki dirinya seutuhnya, meski ia belum sepenuhnya aman karena Davin masih memiliki video panasnya.


Melihat kecemasan di wajah Ciara, sontak Gavin merasa bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh putrinya sampai panik seperti itu. Gavin pun menoleh ke arah Ciara, ia tersenyum tipis seraya mengusap lembut puncak kepala gadis yang tengah melamun itu.


"Kamu lagi mikirin apa sayang? Kamu kan sekarang udah sama papa, kamu udah aman dan gak perlu takut lagi. Om Davin gak akan bisa bawa kamu pergi dari papa Ciara," ucap Gavin mencoba menenangkan putrinya itu.


"Iya pa, tapi aku tetap aja takut kalau om Davin nanti datang dan marah-marah. Aku gak pengen om Davin sama papa ribut terus, kalian kan saudara jadi gak seharusnya kalian bertengkar," ucap Ciara.


"Bukan papa yang mau bertengkar sama dia sayang, tapi dia yang cari gara-gara sama papa," ucap Gavin.


"Iya tahu pa, itu semua om Davin lakuin karena om Davin pengen aku tinggal sama dia. Kalau menurut aku, harusnya papa gak perlu kayak gitu tadi ke om Davin!" ucap Ciara.


"Maksud kamu gimana? Kamu pengen gitu tinggal sama om Davin di apartemennya? Atau jangan-jangan kamu udah dipengaruhi ya sama dia? Bilang ke papa, apa yang udah dilakuin om Davin ke kamu!" ucap Gavin emosi.


Ciara tersentak, ia bingung harus menjawab jujur atau tidak pada papanya. Sebenarnya ia sangat ingin mengatakan jika selama ini pamannya selalu mengancamnya dengan video panas dirinya, namun ia khawatir papanya akan semakin marah pada Davin dan hubungan sepasang kakak-adik itu malah memburuk nantinya.


"Gimana sayang? Kamu mau kan cerita sama papa? Kamu gausah takut, jujur aja!" pinta Gavin.


Ciara menggeleng pelan, "Enggak pa, om Davin gak pernah ngelakuin apa-apa yang buruk ke aku kok," ucapnya dengan bohong.


Ya untuk kesekian kalinya Ciara terpaksa berbohong pada sang ayah, sebab ia tidak ingin papanya itu terus bertengkar dengan pamannya. Meskipun Ciara juga takut kalau video panas itu tersebar jika tidak segera dihapus, Ciara pun benar-benar dibuat pusing dengan masalah yang menimpanya itu.


Mendengar ucapan Ciara yang terlihat gugup, Gavin pun tak yakin jika apa yang diucapkan putrinya itu sebuah kejujuran. Ia tahu betul Ciara tengah menyembunyikan sesuatu, namun Gavin memilih untuk percaya saja kali ini dan akan coba menyelidiki semuanya nanti.


"Papa yakin kamu bohong sayang, apa kamu diancam sama si Davin itu buat gak cerita ke papa? Sial!" gumam Gavin dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2