
“Anggun, Rio,” Sapa Pak Banyu saat mereka tiba di rumah. Anggun dan Rio akhirnya duduk di ruang keluarga, di depan Pak Banyu. Mereka menatap Pak Banyu dengan bertanya-tanya. Karena tidak biasanya Pak Banyu berbicara serius dengan mengumpulkan semua orang kecuali untuk hal-hal penting.
“Kalian kan masih tinggal di rumah, manfaatkan saja barang yang ada di rumah. Banyak bahan makanan di kulkas, pakai saja sesuka kalian. Tapi kalian malah beli makan kalian sendiri, rumah ini sudah seperti kos-kosan,” tampaknya Pak Banyu baru mendapatkan laporan dari ART yang kemarin menemani Anggun ke pasar.
“Kami sedang simulasi, Pah,” kata Anggun.
“Simulasi?”
Mereka berdua mengangguk, “Berapa yang kami habiskan dalam waktu sebulan, apakah Rio harus kerja tambahan lagi, atau aku ikut cari kerja juga,”
“Papa masih bisa membiayai kalian,”
“Uang Papa disimpan saja untuk kebutuhan pendidikan cucu-cucu kelak,”
“Cucu- Ya Ampun,” Pak Banyu terkekeh sambil mengusap wajahnya, “Pemikiran kalian terlalu jauh,”
“Bagaimana pun Anggun adalah tanggung jawab saya Pah. Tinggal masih nebeng sama papah saja saya malu sebenarnya,”
“Papa malah keberatan kalau kalian tinggal terpisah,”
“Tapi-“
“Sebentaaaaar,” Pak Banyu mengangkat tangannya, “Papa ingin kalian tinggal di sini, di rumah ini, bersama Papa dan mungkin saja ibu baru dan cucu-cucu papah kelak. Rumah ini sangat besar untuk Papa tempati sendirian. Papa mengerti kalian butuh privasi. Yaaa, Papa sangat mengerti. Papa juga yakin kalau Rio berusaha keras menghilangkan anggapan orang-orang kalau kamu menikah dengan Anggun karena harta,”
Rio berdehem, membenarkan.
“Tapi... sejak kapan kamu termakan isu tak jelas orang-orang di luar sana Rio? Seandainya kamu gold digger pun itu kan urusan kita, bukan orang lain. Kita yang tahu kondisi sebenarnya di balik itu, dan Papa rela-rela saja kamu klaim semua harta Papah, kalau itu untuk kebaikan keluarga kalian,”
Rio dan Anggun saling lirik.
“Ya memang Papa akui gaya hidup Anggun harus ditekan. Karena dia tidak menggunakan penghasilan dengan bijak selama ini. Dan sikapnya yang angkuh ini langsung ‘ditegur’ oleh Tuhan dengan cara yang menyakitkan. Namun banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Jadi tolong... jangan tinggal terpisah ya. Temani Papah di sini. Kalian bisa rombak seluruh lantai dua jadi rumah kalian, biar Papah tempati lantai satu. Nanti ART bisa dibagi, Papa yang menggaji semuanya,”
“Jangan Pah,” desis Anggun.
“Anggun, Rio...” lagi-lagi Pak Banyu menghentikan kalimat Anggun. “Anak-anak adalah titipan Tuhan. Pernahkah kalian bertanya-tanya, apakah mungkin se-Allahu Akbar Tuhan menitipkan sesuatu yang berharga, yaitu anak-anak, tanpa kompensasi jasa? Tidak mungkin kan?”
Rio dan Anggun lagi-lagi saling lirik.
“Jadi... harta yang Papah miliki sekarang, bukan hanya untuk kebutuhan Papah. Ada porsi papah di sana, ada juga porsi kalian sendiri. Hanyaaa, dititipkan lewat papah sebagai wali. Malah, Papah yang akan kena azab kalau sampai memakai rejeki yang harusnya milik kalian! Istilahnya, ada anak durhaka, pasti ada juga orang tua yang durhaka.”
“Hm...” gumam Rio dan Anggun.
“Dipikir-pikir, uang Papah ini kan jumlahnya lebih dari cukup untuk dimiliki sendirian. Kebutuhan Papah hanya sepersekian persennya kok! Jadi pasti ada rejeki kalian di sana, kalian masih butuh rejeki itu. Entah itu untuk anak kalian, untuk cucu kalian, bahkan mungkin untuk disalurkan ke orang-orang tak mampu di luar sana. Benar? Dikurangi 2,5% saja itu pun masih tersisa banyak! Pasti ada maksudnya Papah terus menerus diberi rejeki melimpah,kan?”
Rio menggaruk kepalanya.
“Berat banget obrolannya...” gumamnya sambil tersenyum masam, Tapi terus terang saja ia sepenuhnya mengerti perkataan Papanya itu.
“Jadi tolonglah, kalian berdua...”
“Ya Pah?”
“Tinggal saja di sini,”
“Baik Pah,” desis Anggun. Tak banyak argumen lagi karena sudah capek, lagi pula dalam hati dia bersyukur tak harus cuci baju dan ngepel sendiri.
“Tapi nanti agak berisik nggak apa ya Pah,” kata Rio.
__ADS_1
“Astaga Rio, Papah juga pernah muda, kali! Lahir nggak langsung tua!”
“Maksud saya, rada berisik soalnya mau geber motor kok, Week,” goda Rio.
**
Mereka masuk ke kamar dalam keadaan banyak pikiran,
“Gimana menurut kamu? Sejujurnya,” kata Anggun sambil meletakkan tasnya dan melepas sepatunya.
“Hm,” Rio meletakkan ranselnya di gantungan dan menatap kamarnya yang luas. “kita tetap harus menabung, sih. Kita nggak tahu ada apa ke depannya,”
“Ada apa ke depannya itu... seperti?”
“Seperti... yaaa, konflik keluarga. Kadang ada kasus ibu tiri ingin harta kepemilikan sepenuhnya, atau tiba-tiba Papa kamu terjerat kasus lagi, Kamu tahu Arghading Corp perusahaan yang tidak biasa. Area pertambangan penuh konflik dengan masalah internal di pemerintahan,”
“Masuk akal,” Anggun mengangguk pelan.
“Aku tidak berharap terjadi hal semacam itu sih, tapi untuk dana ya ada baiknya kita mempersiapkan sesuatu terhadap kemungkinan terburuk. Paling tidak kalau terjadi hal di luar nalar kita sudah ada pegangan hidup. Jadi jajan kamu tetap dariku ya,”
“Siap, suamiku sayaaang,” goda Anggun sambil terkekeh.
“Nggak usah bilang-bilang papah, nanti ditentang mati-matian. Dia sih curang ngerayu aku pake mobil keren,”
Anggun terkekeh sambil memeluk pinggang Rio.
Lalu pemuda itu mendekap tubuh istrinya.
Ia mengecup puncak kepala Anggun.
“Sekarang?”
“He’em,”
“Semua?”
“Iya, aku mau lihat semua,”
“Aku mandi dulu ya,”
**
Rio sudah berada di atas ranjang sambil mengutak-atik ponsel saat Anggun selesai mandi. Pemuda itu hanya memakai celana pendek, tanpa baju atasan.
“Kamu udah mandi?”
Rio mengangguk, “Udah, di kamar mandi tamu. Nungguin kamu sih kelamaan,” desis Rio
“Ih, aku kan malu kalau kotor,”
“Tadinya ingin kutahan sampai bulan depan, eh ada yang mencing-mancing pas di kantin,”
“Itu kan untuk mengukuh-kan kalau kamu milikku,”
“Pasti kemakan gosip yang nggak-nggak lagi deh,”
“Soalnya ada pamer body kemarin di lapangan,”
__ADS_1
Rio terkekeh sambil melambai ke arah Anggun dan menepuk-nepuk area sebelahnya, memberi kode untuk Anggun duduk di sana.
“Handuknya dilepas dong,” pinta Rio dengan suara pelan.
Anggun menyampirkan handuknya dan bergeser duduk di samping Rio.
Pemuda itu merubah posisinya, kini ia duduk di hadapan Anggun.
Dengan lekat ia mengamati setiap jengkal tubuh Anggun. Lebam di dada Anggun sudah semakin samar. Rio kini dapat melihat jelas puncaknya yang kecoklatan dan mencuat mungil. Lalu matanya bergeser ke are perut, pusar, dan...
“Buka,” desisnya sambil mengelus lutut Anggun.
“Hmmmm,” Anggun bergumam ragu, “Bentuknya nggak bagus,” desisnya tak enak.
“Kita lihat saja, di bayanganku sekarang yang ada adalah bentuk terburuk. Bengkak dan penuh darah.”
Anggun menarik nafas, “Saat masa pemulihan lebih parah sih, yaaa kalau sekarang sudah jauh lebih baik,”
Perlahan Anggun membuka pahanya, memperlihatkan dirinya seutuhnya.
Rio tersenyum sambil menghela lega, “Cantik...” desisnya sambil mengelus lembut la bia Anggun. Terdengar de sahan Anggun saat Rio menyentuhnya. “Kamu cantik,” Rio menatap Anggun dengan penuh rasa syukur.
“Kuharap tidak mengecewakan,” desis Anggun.
Kepala Rio mendekat ke tubuhnya, lalu mengamati setiap lukanya. Ada beberapa baret di sana, benang yang menyatu jadi daging dan hampir mulus sepenuhnya. Kli tor Anggun tampak terbagi dua, menandakan kalau dulu robeknya sampai di sana.
Entah dengan apa mereka melukai Anggun, tapi kerusakan separah ini tidak mungkin hanya diakibatkan oleh pen 1s. Ada benda lebih besar yang dipaksa masuk.
Rio bertekad untuk membuyarkan bayangan Anggun terhadap masa lalunya. Rem asan jari gadis itu di pinggiran bantal menandakan kalau trauma masih membayanginya. Ia pasti terbayang perih dan nyeri saat Rio melihat tubuhnya, seakan orang-orang itulah yang sedang menontonnya.
Hatinya bergetar.
Ia menatap Rio dengan pandangan kosong, trauma Anggun kembali.
Rio maju dan mengecup dahinya.
“Aku sayang kamu,” bisik cowok itu.
Pandangan Anggun kembali ke realita.
Rio di depannya.
Tersenyum padanya.
Mengelus pipinya dengan lembut.
Rio yang sama, yang saat itu masuk dan menyerang semua orang
Rio yang sama yang saat itu melepaskan lakbannya.
Rio yang sama yang saat itu menyelimutinya dengan pakaian layak.
Rio tahu, Anggun tidak siap saat ini.
Rio sangat mengerti.
Jadi ia rengkuh tubuh gadis itu dan ia peluk dengan erat. “Sesuai janjiku, aku tunggu sampai kamu yang minta sendiri,” bisik Rio.
__ADS_1