
Saat masalah manusia sudah selesai, ujiannya di dunia usai sudah, ia akan berpulang. Seperti novel, saat semua konflik telah usai, maka lembarannya akan habis, dan akan tamat.
**
"Rio…" Anggun berdiri di depan Rio yang baru saja selesai sarapan dan akan bersiap untuk mengutak-atik motornya.
"Hm?" Rio menaikkan alisnya dan menatap Anggun dengan lembut. Ia bahkan menghampiri Anggun dan mengecup dahinya.
"Kamu masih sakit? Aku keterlaluan ya?" Rio memeluk Anggun dan mengelus kepalanya.
"Emmm… Bukan itu. Aku nggak sakit, tapi aku juga sakit,"
"Gimana?"
"Aku berencana ke dokter,"
Rio membelalakkan matanya, "Astaga… Aku benar-benar kelewatan!"
Anggun menggeleng, "Bukan sakit karenamu. Entah apa yang kulakukan rasanya mungkin memang belum cukup menghapus dosa saking banyaknya orang yang kusakiti dulu tanpa sengaja,"
"Eh?" Rio mengernyit sambil menatap Anggun. Ia merasakan adanya keanehan di diri Anggun. Gadis itu tampak sedih, tidak meledak-ledak seperti biasa, dan tampak ragu.
Ditambah… Ia takut Rio akan meninggalkannya. Yang jelas, Rio berkenan atau tidak berkenan, ia tetap akan menempuh jalur operasi.
"Aku hamil," kata Anggun sambil menatap wajah Rio. "Entahlah anak siapa,"
"Ah, Alhamdulillah!" Rio langsung memeluk Anggun dengan hati-hati, "Kamu nggak bercanda kan? Kamu hamil beneran kan? Ya Allah Alhamdulillah!"
Pemuda itu bahkan mengusap wajahnya sambil mengucap doa.
"Kenapa kamu senang?" Anggun mengernyit tak suka, "Aku bahkan jijik dengan diriku sendiri, sudah mengandung anak penjahat! Janin ini mengingatkanku lagi kepada kejadian itu!"
"Anggun,"
"Ini bahkan bukan anakmu, kenapa kamu senang?!" seru Anggun hampir menangis.
"Ini anakku, karena kamu istriku. Walau bukan nasabku, tapi dia dititipkan padaku," kata Rio. "Anggap saja aku bapak sambungnya,"
“Tidak bisa semudah itu, Rio! Aku tidak menginginkan anak ini ada! Dia adalah perwujudan dari betapa aku disakiti. Kamu tidak merasakan yang kurasakan! Aku tidak ingin merawat anak ini! Kalau bicaramu semudah itu, kau saja yang hamil!!”
“Anggun,”
“Aku akan menggugurkannya!!” seru Anggun sambil berbalik dan masuk ke dalam kamar.
Rio hanya tertegun melihatnya.
Lalu menghela nafas.
Hamil atau tidak, Rio mengerti, itu hak Anggun.
Tapi terus terang saja, ia merasa ada yang salah dalam tindakan itu.
Bukan keinginan Anggun untuk hamil di luar nikah, bukan keinginannya untuk didzalimi, dan bukan dengan sengaja ia berzina. Ia dipaksa.
Keinginan Tuhan, Sang Maha Pencipta.
Untuk memilihnya mengandung anak yang tak diinginkan siapa pun. Kecuali Rio.
Sambil menarik nafas panjang, Rio mengetuk kamar dengan perlahan. “Sayang... Anggun,” panggilnya lembut. “Terserah kamu akan mempertahankan janin itu atau tidak. Tapi sesuai janjiku dan tujuanku menikahimu secara agama, aku akan selalu berada di dekatmu, membantu kamu, dan menerima apa adanya kamu, sudah sepaket dengan segala resikonya. Kita akan lalui ini berdua, Anggun. Ada aku di sini.”
Selanjutnya... Rio memutuskan untuk meninggalkan Anggun sejenak. Gadis itu butuh sendirian untuk menangis.
**
Sementara itu.
“Ada orang mau bunuh diri dari lantai lima, Rayhan, kamu cek ke lokasi!”
Iptu Rayhan mengernyit mendengarnya. Kenapa harus dia yang ditugaskan? Ada banyak orang selain dirinya yang bertugas di Polres. Ini karena ia kebetulan saja sedang mengusut kasus Rejoprastowo Family, Rio dan keluarga barunya, jadi ia sering nongkrong di Polres. Kantornya yang sebenarnya kan di Polsek Kemayoran. Ia juga sedang sibuk mencari keberadaan Adinda, rasanya malas sekali menambah pekerjaan.
Dalam hatinya, ia mengomel. Jelas saja ia tidak ikhlas. Baginya saat seseorang memutuskan bunuh diri, jiwanya sudah tidak berada di dunia. Sulit bagi sesama manusia untuk membujuk, kecuali Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati manusia.
__ADS_1
“Panggil psikiater juga dong untuk mendampingi saya ke lokasi...” gerutu Iptu Rayhan.
Ia menggenggam ipod milik Anggun, yang ditinggalkan Adinda untuk mengecoh polisi.
“Ke mana kamu... jangan aneh-aneh dong! Sudah cukup kamu lari!” batin Iptu Rayhan mengomeli Adinda jarak jauh.
Masih terbayang begitu cantiknya wanita itu saat bergerak di atasnya. Saat mereka berciuman, saat mereka saling menggoda. Rayhan sudah memberikan semua yang terbaik, apakah tidak cukup bagi Adinda, apakah ia dianggap berlebihan memperlakukannya?
“Ada identitas yang sudah diketahui?” tanya Iptu Rayhan ke si pelapor.
“Wanita Muda. Usianya sekitar 30 tahunan. Ada yang memfotonya dan mengirimkannya ke kami.
Iptu Rayhan mengambil ponsel si pelapor untuk lebih jelas melihat foto TKP, “Lokasinya?”
“Gedung Kosong di Jalan Danau Sunter bagian Selatan. Tahu lah pasti Pak, orang sering banyak yang foto-foto di sana,”
“Ohiya, saya tahu gedung ini,” desis Iptu Rayhan sambil men-zoom foto seseorang yang berdiri di lantai 5 gedung itu.
Iptu Rayhan mengernyit.
“Ya Tuhanku,” desisnya.
Dan ia langsung berlari ke arah parkiran mobil dengan panik.
Betul,
Adinda-lah yang ada di lantai lima gedung itu, berdiri di tepiannya.
**
“Antarkan aku ke dokter ya?” agak siang, Anggun menemui Rio lagi.
Gadis itu sudah lebih tenang sekarang. Tapi matanya bengkak.
Rio yang sedang membongkar motornya berdiri dan menghampiri istrinya. “Kamu udah nggak papa?”
Anggun mengangguk.
“Kita ketemu dengan Dokter yang menangani visum kamu dulu saja ya? Paling tidak ia tahu track record kamu dan bisa mengeluarkan legalitas tindakan aborsi,”
“Aku ganti baju dulu ya sebentar. Kotor kena mesin,” kata Rio
Tapi Anggun memeganginya, menghentikan langkahnya.
“Rio, aku takut.” desis Anggun.
“Iya...” hanya itu yang bisa Rio ucapkan. Karena ia tidak mengerti persis bagaimana ketakutan yang dirasakan Anggun.
”Kenapa harus ada kejadian ini... Kenapa bertubi-tubi. Aku lelah..” desis Anggun.
Rio hanya bisa diam.
“Kalau kamu... bagaimana kamu? Sejujurnya dari dalam hati terdalam! Agar aku bisa mengantisipasi situasi yang belum terjadi. Tolong bicara yang jujur!” Anggun sangat khawatir dan sedih. Bisa dibilang lebih ke arah panik. Ia masih tidak percaya ada pria seperti Rio yang bisa menerima segalanya apa adanya tanpa pamrih.
Rio pun menghela nafas dan duduk di salah satu kursi plastik di depan Anggun. Ia menggenggam tangan Anggun dengan tangannya yang masih belepotan cat dan sisa oli, sambil tersenyum lembut ke arah gadis itu.
“Aku sudah katakan perasaanku di awal tadi. Tidak berubah sampai sekarang.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena aku mencintaimu."
"Hanya karena itu?"
"Anggun, kita berdua ini... anak yang terbuang. Aku terpaksa yatim piatu dalam kondisi kematian orang tua yang tiba-tiba dan tak wajar. Sementara kamu tidak diinginkan ibu sejak awal. Kita pernah hancur, dipaksa dewasa, kemudian saling menemukan. Bagaimana mungkin aku tega membunuh janin itu Anggun?”
“Tapi... kalau kita lakukan sekarang kita tidak harus menyakiti hatinya, bentuknya masih janin, diukur dari terakhir aku haid bisa jadi usianya belum tiga bulan. Kalau dilakukan sekarang, belum terlambat untuk aborsi, Rio.”
“Kamu benar. Dan kamu juga masih trauma. Yang penting kamu jangan memaksakan keadaan, semampunya kamu saja. Kamu mau aborsi, oke. Kamu mau mempertahankannya, kutemani, sampai anak itu dewasa dan bisa menapaki dunianya sendiri.”
Anggun menarik nafas lalu mengangguk.
__ADS_1
“Semampunya aku...” ucapnya pelan mengulangi kalimat Rio.
“Ya, manusia hanya bisa berencana.”
Anggun kembali mengangguk. “Yuk? Mumpung Papah belum tahu,”
“Aku ganti baju dulu,” Kata Rio sambil beranjak dan mengecup pelipis Anggun.
Gadis itu menatap punggung Rio yang menjauh.
Hatinya berdesir, bagai angin sepoi merengkuh jiwanya.
Kehangatan mengalir di nadinya.
Ia dikarunia seorang suami yang sangat baik. Menerima semua yang terjadi dengan ikhlas.
Saat seperti ini masih menunjukkan rasa cintanya.
Tidak kompromi dan tidak protes.
Kini, Anggun merasa lebih tenang.
**
Dokter Kemala, Spog, meletakkan transducernya dan tersenyum. Alat USG itu hanya menampilkan gambar hitam putih yang tidak diketahui Rio dan Anggun. Buram dan rasanya seperti TV rusak saja.
“Saya sudah cari kemana-mana, tidak ada kantong makan, dan tidak ada janin. Tapi ada beberapa telur yang aktif sih,” kata Dokter Kemala.
“Bagaimana dok?” serentak Anggun dan Rio bertanya.
“Kamu tidak hamil, Anggun...”
“Hah? Test Packnya positif dok!”
“Konsumsi beberapa jenis obat juga bisa mengakibatkan hasil tes positif palsu di test pack. Contoh obat yang dimaksud, seperti obat penenang, antikonvulsan, dan obat hipnotik. Kamu masih minum rutin semuanya sampai sekarang kan?” tanya Dr, Kemala.
“Y-y-yaaa saya masih sering panik kalau bertemu banyak orang,”
“Terus... alat testpacknya sudah kedaluwarsa nih...” Dr. Kemala membaca tanggal yang tertera di kemasannya. “Kamu beli di mana alat ini?”
“Saya titip salah satu ART, saya kan masih sekolah jadi tidak bisa beli beginian.”
“Ya mungkin ini punya ART kamu yang sudah lama disimpan, coba kamu tanyai dia lagi.”
Rio sampai-sampai menyangga kepalanya di pinggir meja saking gelinya. Ia hanya bisa tersenyum memaklumi keadaan yang terjadi.
“Tapi saya lihat, kamu sudah jauh lebih baik ya Anggun. Kamu Hebat. Saya banyak menemui kasus seperti kamu ini, dan tak jarang bunuh diri. Apalagi saat semua meninggalkannya. Ia korban, ia tak bersalah, tapi dia di jauhi seakan ia kuman di saat ia butuh dorongan. Kamu harus banyak-banyak bersyukur Anggun, kamu punya Rio yang setia mendampingi, kamu punya Papah yang menerima semuanya.” Dr. Kemala menyudahi sesi hari itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Anggun memeluk lengan Rio.”Makasih,” kata Anggun.
‘Iya,”
“Makasih,”
“Kamu udah bilang itu 10 kali, iyaaa,”
“Makasih sayang...”
“Iya sayang,”
“Makasih banyak...”
“Iyaaa...”
Obrolan mereka hanya sebatas itu sampai tiba kembali di rumah.
Hari ini sekali lagi Anggun diperlihatkan Anugerah tak ternilainya.
Ketulusan hati Rio melebihi apa pun.
Cara pemuda itu berbesar hati, sampai menerima segalanya membuat Anggun berjanji, bahwa seperti halnya Rio begitu baik memperlakukan dirinya, Anggun juga kan bersikap begitu untuk Rio.
__ADS_1
Lalu...
Apa kabar dua sejoli yang satu lagi?