Rascal In Love

Rascal In Love
Hidup Baru


__ADS_3

Pengumuman,


Karena tingginya animo pembaca terhadap novel ini, dan banyak pertanyaan yang belum terjawab, maka kami putuskan novel ini akan kami lanjutkan.


Big Love,


Diriku. (Siapa hayooo?)


**


Malam itu udara pengap dengan aroma hujan di kejauhan. Meneer, alias Damian Cakra, menggeber gas motor seken modifnya sambil menatap fokus ke arah depan. Sementara di sebelahnya, teman baiknya, Rio Tyaga, membetulkan posisi helmnya sambil menarik gasnya.


Di depannya berdiri Abbas dengan bendera usang.


Meneer mengenakan Vega R-nya, dicat berwarna emas dan hijau. Sedangkan Rio mengenakan motor Satria pink fanta yang diberi aksen glow in the dark.


Iya, memang norak warnanya. Tapi yang penting bisa terlihat di kegelapan malam.


"Ini balapan motor terakhir," seru Abbas, "Setelah ini kita naik level jadi balapan karier! Hahahahaha!!"


"Bacot," gumam Meneer dan Rio berbarengan.


"Pertandingan persahabatan, Babak Final, Meneer versus Rio!"


"Wohoooo!!" seru penonton yang bisa dibilang sangat ramai sampai memenuhi bahu jalan.


"Steady… GO!!" Abbas menurunkan benderanya.


Meneer dan Rio tancap gas.


**


Iptu Rayhan duduk bersila di atas kap mobilnya sambil menopang dagunya dengan tangan. Ia sedang mengawasi jalannya pertandingan yang sudah berlangsung dari pukul 10 malam. Sekarang sudah pukul 1 dini hari.


Ini Area yang disewa oleh Abbas, ia menggunakan uang bapaknya untuk mendapatkan izin menggunakan jalan tol yang belum beroperasi untuk balapan motor.


Sialan bener sih si Abbas. Dengus Ipty Rayhan dalam hati. Anak itu sudah berjanji akan merahasiakan lokasi, tapi kenapa yang nonton pertandingan bisa sebanyak ini?! Rata-rata cabe-terongan pula. Remaja-remaja tanggung bergaya mentereng cenderung bikin geleng kepala, yang jadi salting saat melihat beberapa mobil polisi ternyata berjaga di lokasi.


Untung saja Iptu Rayhan berinisiatif berjaga. Kalau tidak sudah porak poranda semuanya.


Dari kejauhan, Rio memang melaju lebih lambat dari Meneer, tapi Iptu Rayhan bisa mempelajari gerak Rio. Dia tidak berapi-api dan obsesi menang seperti Mener, jadi gerakannya santai dan tidak gegabah. Meneer cenderung nge-gas dengan kasar dan tanpa rem.


Tapi Rayhan tahu, Rio sedang menyimpan tenaganya untuk garis finish.


Benar saja, beberapa detik, sekitar 100 meter dari garis finish, Rio memaksimalkan gasnya. Lalu melesat bagai angin mendahului Meneer yang langsung melongo.


"ANJIIIR RIOOOO!!" Abbas teriak-teriak kegirangan pakai toa.

__ADS_1


Suasana semakin riuh, Rio perlahan mengerem motornya dan berhenti sekitar 50 meter di depan.


Kalau dihitung dari kecepatan, Meneer Memang lebih unggul dari rekor sesi Junot dan Agung di sesi pertama pertandingan. Tapi Rio lebih cerdas memanfaatkan alur. Ia tidak asal mengendarai motornya, tapi ia bekerjasama dengan si ‘Satria’ dan memaksimalkan fungsi motor itu.


Menurut Rayhan, walau pun motornya dibalik pun, Rio tetap akan unggul.


"Gue bilang jangan geber di awal Meneeeeeer," dengus Junot sambil melempar-lempar kunci inggrisnya, "Kan ancur kan pacar lo?! Mau pulang naek apa haaah? Mobil patroli?!"


Meneer membuka helmnya sambil cemberut. "Stirnya miring ke kanan Not," ia beralasan begitu.


"Otak lu yang miring!" seru Junot sebal.


Rio parkir di sebelah motor Meneer sambil menengadahkan tangannya.


Meneer dengan mengerang menyerahkan… sertifikat perjanjian atas jual beli dan kepemilikan dengan cap sidik jari Meneer untuk Kotak yang berisi action figure Roronoa Zoro limited edition yang jadi hadiah.


"Manteeeeep!" seru Rio girang.


Iya, gara-gara itu mereka memutuskan tanding motor lagi. Demi sebuah 'mainan' boneka-boneka'an tokoh anime kesayangan dengan desain super rumit.


Sertifikat itu juga mereka buat sendiri kok, semacam gentleman agreement. Bahwa siapa pun yang memenangkan pertandingan, Meneer akan menyerahkan action figurenya secara sukarela. Namanya juga anak-anak. Sebelum jadi pebisnis beneran, latihan barter investasi dulu pakai mainan mahal.


Sebenarnya Meneer tak ikhlas di perjanjian ini. Gara-gara mulut besarnya…


Semua bermula, saat Anggun datang ke rumah Meneer untuk mengambil perlengkapan bayi.


Begini cerita awalnya.


"Sayang…" Rio memeluk Anggun dari belakang extra mengelus perut wanita itu, kini kita sebut saja ia seorang wanita karena ia akan menjadi seorang ibu muda, lalu mengecup pelipis istrinya dengan sayang, “Kamu nggak apa mau kuliah? Apa tidak sebaiknya setelah si solehah lahir saja?”


“Solehah?”


“Ini, si Anggun-kecil,”


“Yakin banget kamu dia perempuan?”


“Ya udah deh, si Soleh,”


“Yakin banget kamu dia laki-laki,”


Rio melirik Anggun pura-pura kesal, “Lalu apa? Non Binary?!”


“Sampai dia Non-Binary, kukembalikan lagi dia ke perut, mati sama-sama kita!” Anggun malah ngomel.


“Terus aku manggilnya apa, Mamaaaaah?” gantian Rio yang ngomel.


Anggun terkekeh geli sambil mengelus pipi cowok itu.

__ADS_1


(Non Binary : Seorang pria punya alat kelamin khas berupa pen is dan test is. Sementara seorang wanita lahir dengan payu dara, vagi na, dan rahim. Namun, ada pula orang yang tidak peduli apa jenis kelamin yang dimilikinya, ia menganggap dirinya bukanlah kelompok gender wanita maupun pria. Kelompok ini dikenal sebagai genderqueer atau non binary (nonbiner))


Lalu Anggun pun terdiam, tidak menanggapi gurauan Rio.


“Kenapa kamu tiba-tiba-“


“Rio, bagaimana kalau anak kita ‘berbeda’?”


“Berbeda?”


“Aku akan menerima semua keputusan Tuhan yang dianugerahkan kepada anak kita, kondisi apa pun saat dia kulahirkan. Yang kutakutkan adalah... lingkungan mengubahkan menjadi bukan dirinya.”


“Hm,” Rio bergumam sambil menenggelamkan wajahnya di leher Anggun. “Lanjutkan, kudengarkan,”


“Seperti... bagaimana kalau suatu saat dia bilang ke kita, kalau dia non-binary gender?”


“Tidak mungkin itu anak kita.”


“Kenapa kamu yakin?”


“Ya karena kamu ibunya. Remaja yang mengklaim dirinya non-Binary adalah remaja yang kehilangan identitas. Orang-orang yang kehilangan figur orang tua, anak-anak dengan kondisi keluarganya terlalu bebas, atau bahkan terlalu mengekang. Logika mereka tidak berjalan.”


“Apa yang harus kujelaskan kalau dia bertanya?”


“Saat manusia pikirannya sudah buntu, jalan satu-satunya adalah kembali ke Tuhan. Golongan Non-Binary itu, aku bahkan tidak yakin mereka percaya adanya Tuhan. Apalagi kita berada di Indonesia, negara Pancasila, dengan lima Agama yang diakui semua bilang kalau gender manusia itu hanya dua. Laki-laki dan Perempuan. Tidak bisa main ubah. Mereka nekat mengubah, jangan kaget nanti kalau nasib mereka diubah juga sama Yang Maha Kuasa. Dan kamu tahu apa yang lucu?”


“Apa?”


“Ciri khas laki-laki... mereka selalu mencari lubang. Dan se-les bi- les bi nya pasti akan selalu memasukkan sesuatu ke tubuh,””


“HAHAHAHAHHAHA!! Ngaco kamu,”


“Itu kan berarti dari refleksif tubuh saja sudah diatur dari ‘sananya’ kalau laki-laki dan perempuan berpasangan. Apa lagi nikmat yang kau dustakan?!”


“Aku tidak akan memilih kalimat itu untuk menjelaskan ke anak kita mengenai Non-Binary, Ih! Tidak sopan!”


“Anak kita akan berjalan seperti yang seharusnya, karena ibunya kamu dan bapaknya aku.” Desis Rio yakin sambi memeluk Anggun lebih erat.


“Eh, ngomong-ngomong, Tante Nirmala WA aku barusan, kalau aku butuh peralatan bayi ke rumahnya aja untuk lihat-lihat daripada numpuk di gudang.”


“Oh, bekasnya Bella ya?”


“Iya, tapi karena sudah 8 tahun berlalu, kita lihat-lihat dulu ya siapa tahu ada yang rusak.”


Sekitar 8 tahun yang lalu orang tua Meneer mengadopsi seorang anak dari Panti Asuhan milik Gereja, bayi perempuan yang orang tuanya meninggal dengan tragis. Bayi itu dinamai persis dengan nama nenek Meneer, Isabella, dipanggilnya Bella.


“Hm...” Rio merogoh ponselnya, dan menelpon Abbas.

__ADS_1


“Bas, gue mau main ke rumah Meneer. Anggun ada urusan sama Tante Nirmala. Ikutan Yok?”


Malah jadi ramai-ramai ke rumah Meneer.


__ADS_2