Rascal In Love

Rascal In Love
Satu Lagi Rascal Yang Lagi 'In Love'.


__ADS_3

“Mbak Anggun...” Isma berdiri di samping ranjang Anggun sambil menyeringai. Wajahnya sudah lebih cerah sekarang. “Kalo menyusui sakit nggak?”


Anggun menaikkan alisnya, “Aku sih nggak ya, mungkin kulitku tebal. Perih sedikit dan agak risih saja.”


“Asiku sudah keluar sedikit-sedikit ini, kemarin dipijat punggungku sama ibuk. Badanku jadi segar.”


“Yang penting hatimu tenang, Ma, jadi metabolismu tubuhmu lancar.” Kata Anggun, “Nanti aku tetap kirimin stok ASI ya, bilang saja kalau kamu ingin mandiri.”


Isma mengangguk. “Aku dan ibu sepakat, bagi-bagi tugas di rumah. Ibu kan nggak bisa lama berdiri sekarang tapi dia suka memasak. Dia juga ingin ikut andil untuk menyetrika pakaian karena bisa dilakukan sambil nonton tv. Sementara aku sisanya Mbak.”


“Bagus itu. Tapi kamu juga harus siap-siap belajar untuk bisa melakukan semuanya sendiri Isma, ibumu sudah tua, pasti ada saat-saat ia ingin leyeh-leyeh. Kau belajar saja bikin desert lihat tutorial yutub. Nanti lama-lama kalau sudah terbiasa, kau jadi bisa mengerjakan semuanya. Hati-hati juga soal anak kedua, jangan terburu-buru seandainya belum mampu.” kata Anggun.


“Iya benar Mbak, aku kepikiran ke sana memang. Merencanakan kehamilan itu penting daripada aku baby blues Mbak.”


“Ma, Isma!” si ibu mertua cicih membuka bilik Anggun dan menongolkan kepalanya. “Kamu dulu kerja apa di kantor?”


“Aku Admin Tante,” jawab Isma.


“Kita butuh orang buat jadi kasir di toko sembako. Ada suster juga di rumah cicih bisa lah Adya nebeng diasuh. Bagaimana kamu mau kerja sama kita nggak? Kan deket rumah kita sekali naik transjak. Ini suamiku kan sudah nggak kuat berdiri asam urat sering bengkak kakinya.”


“Iya in saja Ismaaaa, buat lah hatiku tenang! Toko dipegang orang tua semua keluhannya sudah sakit pinggang lah, bengkak lah, gigi lah. Bagaimana aku nggak kepikiraaaaan,” terdengar suara cicih dari dalam bilik.


“Kamu jangan ngeremehin kita-kita dong!” Ibu Mertua cicih memukul menantunya pakai bantal.


“Lah! Yang tiap hari ngeluh siapa sih Mah. Aku kan khawatir... khawatir nggak cuan. Hahahaha!” Lalu cicih terdiam. Dan sesaat dia menongolkan wajahnya sambil menatap ke arah Anggun, “Nggun, gue punya toko tas juga. Barang impor, kualitas mirror bran desainer-“


“Gue anti barang KW, sudah kebanyakan duit belinya yang asli.” Dengus Anggun


“Gue tahu lah itu!” cicih melambaikan tangannya, “Maksud gue, mau tanem modal nggak? Banyak barang bagus dateng gue nggak bisa beli semua.”


“Ya boleh lah kalo itu. Awas lo nggak cuan gue jadiin ART di rumah gue...”


“Lu tanem modal berapa?! Kalo 50 juta invest sebulan dapet –“


“200juta aje...” desis Anggun sambil menyambar ponselnya. “Rekening lu berape?!”


“Cincay lah toko baru!! Bisa buka toko xuping rhodium juga!!” Cicih kesenengan. “Isma, ntar bantuin gue juga di toko baru! JWCicih. Kerenkan namanyaaa?!”


“Nggak keren. Alay...” gumam Anggun.


Jadi sore itu, setelah teman-teman barunya kembali ke rumah mereka masing-masing, keluarga masing-masing, sejenak kamar kelas II itu agak sepi. Ada dua pasien baru di pinggir sana, tapi karena Anggun dijadwalkan pulang sore ini, ia hanya santai saja duduk di ranjang sambil menggendong Freya.


Wah... tiga hari di rumah sakit sudah banyak sekali pelajaran hidup yang bisa ia ambil.


“Pijetin gue kek sekali-kali kayak mamanya Isma itu, biar asi gue lancar...” gerutu Anggun.

__ADS_1


“Kalau haus kasih sayang gue bilang saja terus terang. Bentar- HOEEEKKK!!” Adinda muntah di ember. “Anti mualnya nggak mempan.”


“Kebanyakan obat lu, jadi kebas kan sekarang...” Anggun mengulurkan tangan dan mengelus-elus punggung Adinda. Ibu Tirinya itu menyeruput Jus Alpukatnya untuk nutrisi.


“Gue harus pulang atau nggak ini?!” tanya Anggun.


“Ya pulang lah cuy, di sini ada lebih dari 100 suster dipekerjakan. Walau pun gue pakai BPJS pelayanannya lumayan bagus.”


“Mau penyesuaian nggak?”


“Pingin sih, biar Hana dan Laras bisa nginep juga di kamar ya.”


“Ya gue dan Freya juga bisa nimbrung nungguin lo.”


“Asyik juga rame-rame. Ada kabar dari Rio?”


“Katanya...” Anggun menekan tombol di ponselnya dan membaca WA dari Rio. Ternyata kabar dari suaminya itu sudah banyak. Anggun diam sebentar untuk membacanya dan seketika wajahnya langsung pucat.


“Nda... kayaknya kita memang harus pindah kamar... dan pindah rumah sakit.” Desis Anggun. Wajahnya berubah jadi pucat.


“Maksudnya?”


“Ke yang penjagaannya lebih ketat. Kita pindah ke Garnet Medical Center sore ini. Yang berurusan dengan Om Artha adalah seseorang dari masa lalu.”


**


“Harus ngawal sampai dalam?” tanya Junot.


“Justru yang paling diwaspadai ya di dalam toilet, di mana tak tampak cctv karena alasan Hak asasi.”


“Hm,” tapi Junot memutuskan untuk tidak canggung. Ia membalik tubuhnya dan menghadap ke arah urinoir untuk menuntaskan kebutuhannya, dan Jenny berdiri bersandar ke dinding sambil menyulut rokoknya.


Saat gadis itu menghembuskan asapnya ke bawah... wajahnya terlihat tampak lega, sekaligus kelelahan.


Junot menyadarinya lewat kaca di depannya.


Pantulan wajah Jenny yang seakan capek. Keningnya berkerut tanda memikirkan sesuatu.


Junot malah merasa seperti beban bagi gadis itu.


Dan seperti biasanya, Junot memang dianugerahi perasaan sensitif yang lebih besar dibanding cowok seusianya, dia lebih kalem, namun bisa lebih merasa khawatir kalau terjadi hal yang tak beres.


Dan saat itu Junot mengambil keputusan, kalau ia harus bekerja sama dengan Jenny dalam hal ini.


Karena, saat Papahnya sudah mengambil suatu keputusan, pasti ada kepentingan banyak orang di baliknya. Bukannya Pak Artha main asal ambil proyek saja demi cuan. Junot bisa membaca ada kesepakatan lain di balik ini yang hubungannya ke negara.

__ADS_1


Dan setahu Junot, Kinto Pramudi secara misterius sudah mengubah kewarganegaraannya. Pasti ada yang ia hindari di Indonesia.


Dan...


Apa hubungannya Pak Kinto dengan Rio? Kenapa raut wajah Rio langsung berubah, seakan sangat marah dengan sosok itu?


Tapi feeling Junot mengatakan kalau kemarahan Rio tidak seharusnya diketahui banyak orang. Jadi pemuda itu memutuskan untuk tidak mengorek keterangan lebih lanjut, kecuali Rio sendiri yang bilang.


Tapi...


Junot mulai tertarik dengan sosok yang ada di belakangnya ini.


Sosok Jenny yang misterius. Gadis itu belum menunjukkan siapa sebenarnya dia.


Junot mencuci tangannya, Jenny masih memperhatikannya.


Lalu pemuda itu berdiri menghadapnya. Diberi jarak agak jauh tentu, karena tinggi Jenny sekitar 175an ditambah sepatu Docmart-nya bersol tebal 3 cm. Hampir sama dengan tinggi Meneer yang 180an.


“Kebohongan apa lagi yang kau sembunyikan dariku?” tanya Junot, “Selain kamu detektif swasta merangkap bodyguard.”


“Aku tak pernah berbohong padamu.”


“Ah ya... ‘menyembunyikan sesuatu’ beda dengan ‘berbohong’, ya.” Junot mencebik sinis, “Kalau nggak ditanya ya tak usah dibicarakan. Benar? Dasar manipulatif...”


Jenny merasa tersentil, “Aku menyembunyikannya pekerjaanku dengan pertimbangan dan sesuai dengan permintaan Papah kamu.”


“Tidak perlu sampai bilang cinta padaku demi pekerjaanmu. Dasar murahan.”


Jenny ternganga mendengarnya. “Siapa yang kau sebut murahan?!” Ia membuang rokoknya ke lantai, menginjaknya dan menghampiri Junot. “Kapan kau buka pikiranmu itu dengan tidak mewaspadai semua orang?!” ia menunduk dan menghadang Junot dengan tatapan marah.


“Karena ada orang-orang seperti kau lah yang selalu membuatku waspada.” Junot mendorong dada Jenny sedikit. Terasa gundukan tak asing di tangannya. Junot agak jengah tapi sekarang  bukan saatnya sopan santun.


“Kau bekerja untuk Papahku, untuk mengamankanku. Lakukan saja tugasmu. Jangan bawa-bawa aku ke dalam urusan pribadi.”


“Dan kau marah karena tak bisa menerima kenyataan kalau bodyguardmu seorang wanita? Dasar cemen...” Jenny berusaha memancing kemarahan Junot.


Tapi Junot tidak terpancing tentu saja, ia tersenyum sinis. “Jadi apakah aku layak menggantungkan keselamatanku padamu, hey kakak bodyguard? Tahu arti kata emansipasi wanita kan? Aku banyak maunya, kamu siap-siap saja...”


Dan Junot meninggalkan Jenny menuju ke arah ruangan Pak Artha.


“Apa sih maunya!!” Jenny tak bisa mengendalikan emosinya dan memukul dinding keramik toilet.


Ia baru tahu...


Kalau Junot menyebalkan seperti ayahnya.

__ADS_1


Junot hanya cengengesan di luar sana. Ia akan mengerjai Jenny. Kali ini ia bersikeras untuk memegang tali kekang Jenny. Ia akan membalikkan keadaan.


__ADS_2