
"Allahu Akbar Allahu Akbar!"
Rio dengan lirih melantunkan adzan di telinga bayi mungil dengan hidung mancung dan bibir yang kini membentuk tawa saat mendengar suara Rio.
"Ya ampun, huhuuuu cantiiiik," isak Abbas sambil mengusap air matanya.
"Elah, si Anggun banget tampangnya. Liat tuh natap gue sinis gitu," desis Junot.
"Lu-nya yang suka negative thinking!" desis Meneer. "Itu dia lagi senyum ke gue."
“Gue nggak pernahngeliat cewek cemberut ke lo,” desis Junot.
“tetep aja gue jomblo, lu nya yang dapet duluan.”
“Gue sama Jenny nggak pacaran.”
“Ternyata lo berandal, kerjanya matihin hati anak dewa...”
“Njing, ngiri bilang Boss!”
(Iya, ini akan jadi judul novel setelah “Mas, Eling Mas”, makanya percintaan Junot dan Jenny nggak terlalu dibahas di sini. Piss wekekeke).
"Yang bener aaja Dok! Sakit banget Woooe!!" terdengar teriakan Anggun dari dalam ruang bersalin.
"Tahan ya buuuu, cuma lima jahitan kok, sebentaaaaar lagi,"
"Mentang-mentang saya udah pernah dijahit sebelumnya dan baru melahirkan, dipikir saya kebal apa?!"
"Bu Anggun adalah wanita terkuat yang saya tahu, ibu itu idola di kalangan para penyintas loh. Pasti bisa tahan kok bu, ya?"
"Suuakiittt Doookkk!! Cepetin dooong!!" teriak Anggun lagi.
"Kenapa si Anggun?" tanya Abbas.
Rio menyerahkan si bayi ke salah satu suster untuk dibersihkan dan dilakukan pemeriksaan.
"Lagi dijahit," kata Rio.
"Kok teriaknya sekarang? Tadi melahirkannya kayaknya hening,"
"Iya, melahirkannya lancar. Meringis dikit, ngeden seadanya, langsung meluncur keluar si Freya. Beratnya cuma 3 kilo sih. Tapi Alhamdulillah sehat, hehe."
"Sering ditengokin yaaaa jadi jalannya udah lentur," goda si Meneer.
"Ditengokin gimana?" tanya Abbas.
"Perjakanya jangan ketahuan banget dong Bas."
"Emang lu dah nggak perjaka?"
Meneer diam
Junot mengalihkan perhatian, "Melahirkannya tadi, tapi sakitnya sekarang?" tanya Junot.
"Iya, lagi dijahit. Tanpa bius."
Semua diam.
__ADS_1
"Tanpa dibius…" ulang Junot.
"Katanya hanya sebentar kok sakitnya, tanggung, daripada keluar biaya lagi buat anestesi ini itu, nanti dites alergi lagi, nanti diperiksa lagi. Kulit masih kebas harusnya habis melahirkan." kata Rio.
"Kayaknya nggak kebas tuh…"
"Naaah udah selesai ya Buuu. Nggak sakit kan?"
"Sakitnya dijahit lebih saya ingat darilada sakit pas melahirkan Dok!!" seru Anggun emosi.
"Ibu kan Wonder Woman. Cincay lah buuu,"
"Bisa aja sih ngambil hatinya…" gumam Anggun setelahnya. Dia langsung kicep,kalem.
Geng Savage hanya mendengarkan obrolan dari balik tirai sambil merinding.
"Ras terkuat di bumi. Ibu-ibu judes, yang melahirkan habis itu dijahit nggak dibius," kata Abbas.
"Ada yang paling kuat Bas," kata Dokter Kemala yang sudah berada di samping mereka sambil menyeringai. Tampaknya pasien yang tadi hepatitis sudah berhasil ditangani, terlihat dari wajahnya yang cerah.
"Siapa dok?"
"Ibu-ibu operasi sesar. Jahitan belum kering tapi udah disuruh nyusuin bayi sambil duduk." kata Dokter Kemala.
"Tapi dijahitnya dibius kan?"
"Ya iya, Dua tahun juga bakalan masih terasa. Kan diirisnya tujuh lapis. Itu kalo bayi udah numbuh gigi terus nyusuin, nggak sengaja digigit sampe dada berdarah, sakit lagi itu bekas operasi di perutnya. Mana harus ngurusin cucian setumpuk… jangan sampe deh di paksu nekat nerjang polisi tidur, bisa pingsan-pinsan itu nahan nyerinya."
Rio, Abbas, Junot dan Meneer langsung merinding.
"Perjuangan istri kamu sampai segitu. Ngenesnya…"
Dokter Kemala menggelengkan kepalanya tanda prihatin. "Si anak pake Bin/binti nama suaminya,"
Semua diam lihat-lihatan.
Dokter Kemala hanya terkekeh. "Jangan khawatir, pahalanya sangat besar, kok. Aamiin,"
"Aamiin," gumam Rio.
(Tante Author nggak curhat ya, diriku Tim dijahit nggak dibius 3x wekekekek. Di luar itu sebenarnya Ras terkuat di bumi adalah ‘ibu-ibu yang operasi sesar tapi mertua galak dan kebetulan dia tingglal di rumah mertua, dan si ibu masih survive sampai sekarang bertahan hidup mengasuh anak-anaknya dikala suaminya nggak ngebelain dia sama sekali. Al- Fatihah untuk ketenangan hati si ibu-ibu- di luar sana. Kamu kuat sekali Bestie...
Semoga suatu saat kita termasuk ke golongan ‘Mertua yang akrab dengan menantu seperti anak sendiri- Aamiin).
Abbas sibuk mengetik sesuatu di hapenya. Terus dia cengar–cengir.
Tak berapa lama ponselnya berdering.
"Assalamu'alaikum Mah," dijawaboleh Abbas
"Wa'alaikumsalam. Kamu ngobat ya? Mabok jangan-jangan?! Jangan suka cium-ciumin bensin nanti otak kamu jadi cair!" tembak Mamanya Abbas. “Kok tiba-tiba ngirim WA mama isinya kata-kata gombal?! Apa ini i lov u I lov u?! Jangan bilang kamu ngehamilin anak pejabat?!”
Abbas hanya bisa mencibir, Mamanya kalau sedang panik memang bicaranya dalam satu tarikan nafas tapi kalimatnya lebih panjang dari kereta barang. "Sekali-kali bilang i love u Mom, masa nggak boleh?!"
"Bukannya nggak boleh! Tapi nggak biasa. Kalo kamu mau menunjukkan rasa cinta kamu, sekolah yang bener! Lulus kuliah 2 tahun!"
"Hueh! Sadis! 3 tahun lulus aja aku masih skeptis, ini disuruh 2 tahun lulus?!"
__ADS_1
"Summa Cum Laude," sambung mamah Abbas.
"Anakmu ini bukan anak jenius, aku hanya anak senja yang menanti belas kasihan Illahi!"
"Naaah, ini baru Abbas. Mamah kuatir dikira kamu lagi disandera preman makanya bilang I Love U Mom. Hahaha. Sejak kapan mamah dipanggil ‘Mom’ sama kamu, lop lopan pulak,"
"Makasih ya udah ngelahirin aku mah, aku janji akan selalu membahagiakan-"
"Mama nggak butuh omong kosong, pulang nanti itu kuras aquarium di kamar kamu ya! Baunya sampe amis nyebar-nyebar! Mamah udah bahagia dengan yang begitu!"
Dan telepon pun ditutup.
"Salah strategi gue," desis Abbas.
"Bego banget nyoba kata ‘cinta’ ke Xena The Warrior Princess…" gumam Mener sambil geleng-geleng kepala.
“Akuarium apa sih yang ada di kamar lo? Arapaima?”
Abbas memicingkan mata menatap Meneer dengan kesal, “Duyung. Gue nyimpen Putri Duyung di kamar gue, kalo gue horny bisa gue garap, gaya muter-muter sambil nyelem gue ke dalem tangki!” sekalian saja dia bilang begitu karena kesal.
Meneer langsung terbahak mendengar pelampiasan kalimat Abbas. “Fantasi lo tak terhingga Bas...”
**
Anggun menempati kamar kelas II dengan sekamar 4 pasien. Freya, sang Baby Girl, sedang dibawa ke kamar bayi untuk dilakukan pemeriksaan penyeluruhan lebih lanjut.
“Kamarnya nyaman walau pun sekamar 4 orang,” kata Rio sambil meletakkan koper di samping tempat tidur Anggun dan membetulkan posisi tirai.
“Iya, lumayan lah. Paling tidak aku nggak sendirian. “Kata Anggun.
“Tidur yang cukup, sayang. Aku pulang dulu.” Rio mengecup dahi Anggun, sementara sekuriti wanita di belakang Rio mengawasi mereka. Karena memang pasien tidak boleh ditunggui oleh laki-laki untuk menjaga privasi penghuni kamar yang lain.
“Tenang aja sayang, aku udah ngantuk kok.”
‘Eh, aku lupa ngomong ini tadi, karena banyak kehebohan.” Kata Rio.
‘Ya?”
Rio menggenggam tangan Anggun dan mengecup punggung tangan wanita itu, “Terima kasih banyak, sudah bersusah payah melahirkan anak kita. Sudah mau berkutat dengan segala kesakitan, dengan segala hal yang mengancam nyawa kamu, dan mencurahkan segalanya untuk kami berdua. Kamu hebat, Sayang. Kamu hebat...” Rio mengecup dahi Anggun.
Anggun hanya bisa diam.
Dia terpana mendengar Rio.
“Salut untuk kamu. Aku belum bisa sekuat kamu.” Kata Rio sambil mengelus pipi istri tercintanya, dan tersenyum tipis.
“Pulang dulu ya, besok aku ke sini lagi.”
Lalu ia pun menghela nafas. Ia sebenarnya masih ingin lebih lama di sisi istrinya, namun apa daya ia harus mengikuti aturan Rumah Sakit. Anggun sudah memberikan kamar VIP untuk pasien yang lebih membutuhkan. Dan menurut mereka itu jalan yang terbaik. Istirahat sendirian dalam ketenangan adalah hal yang paling diinginkan Anggun saat ini.
Rio pun keluar dari bilik setelah Anggun mengangguk.
“Wah, bapaknya pasti sayang sekali ya dengan ibu.” Kata Sekuriti wanita sambil membetulkan bilik agar lebih rapat,” Ucapan seperti itu sebenarnya adalah hal-hal yang paling dinantikan setiap wanita di hari pertama merek a jadi ibu. Sekedar ucapan terima kasih. Ibu sangat beruntung...”
“Alhamdulillah Bu.” Kata Anggun.
“Saya tinggal ya bu, kalau ada kesulitan bisa langsung tekan tombol merah di samping tempat tidur.” Kata Bu Sekuriti sambil keluar dari bilik.
__ADS_1
Anggun pun akhirnya tertidur karena kelelahan.