
Iptu Rayhan berkacak pinggang dengan kesal. Dia sekarang sudah berada di lantai lima gedung terbengkalai. Di depannya ada Adinda, berdiri di tepian dan menghadap ke arahnya.
“Tolonglah...” desis Iptu Rayhan.
“Aku capek.”
“Sama.”
“Kemana pun aku pergi mereka ada. Mereka bahkan mengikutiku sampai Pademangan,”
“makanya kamu letakkan GPS itu di sana, di masjid Pademangan?”
“Itu beneran ketinggalan. Waktu aku melihat-lihat isi tas, ada itu. Pas kuamati, eh mereka datang mengejarku.”
“Jadi dari pada dibunuh mereka, lebih baik kamu bunuh diri?”
“Bunuhdiri?” Adinda tampak berpikir, lalu mengangkat bahunya. “Yang penting anak-anak sudah ada yang menjaga. Niatku menolong Rio dari awal juga itu kok,”
“Iya aku tahu kamu sudah bilang pas kita ketemu pertama kali.”
“Percintaan kita adalah hal yang fatal. Aku berlari sekuat tenaga saat dari arah portal aku mendapati salah satu anak buahnya muncul. Mereka sampai datang ke rumah kamu untuk mengejarku,”
“Sudah kubilang jangan keluar rumah, kamu malah belanja sayur, sendirian,”
“Kupikir di sana aman, kan safe houe.”
“Ya namanya safe house, jadi yang aman hanya di dalam rumah. Kalau di luar rumah namanya safe area, Eriiii,”
“Makanya, aku capek dikejar-kejar, belum ketemu jalan lain.”
“Ya jangan bunuh diri dong,”
“Siapa yang... hm,” Adinda tampak berpikir lagi, lalu menggeleng dan menghela nafas. “Jadi menurut kamu, lebih baik mereka menembakku, gitu?”
“Kalao kamu bunuh diri, dosanya berlipat ganda. Sudah kamu bercinta tanpa ikatan pernikahan denganku, kamu juga menekan Rio supaya ehem sama kamu, belom tobat pula kamu sudah membunuh diri kamu sendiri, belum kamu menentang KehendakNya untuk tetap hidup. Tuh... mendingan hidup di dunia masih bisa melihat anak-anak kamu, kita tak pernah tahu ke depannya akan jadi apa Eri.”
Adinda terekkeh mendengar perkataan Rayhan. “Mereka ada di bawah tuh...” Adinda melirik ke bawah.
“Preman yang menyerang Rio itu?” Itu Rayhan mengernyit.
“Sisa anggota yang selamat. Mereka sudah tidak bisa mengganggu Rio, mereka ketakutan. Ya jadi mereka kini mengincarku.” Adinda melirik ke bawah
__ADS_1
“Iya, mereka menyamar jadi polisi. Kamu tidak hafal seluruh anggota dari Polres. Jadi itu dimanfaatkan oleh mereka.”
Iptu Rayhan menyeringai.
“Biar saja mereka muncul. Tandai, saja. Jadi begini rencananya, cantik...”
“Rencana apa?”
“Mau menikah denganku tidak?”
“Hah?”
“Mau menikah denganku, tidak?” Iptu Rayhan mengulangi kata-katanya.
“Kamu gila! Kamu bakal dipecat! Keluarga kamu bisa terancam kalau bersamaku!”
“Kita pancing mereka keluar.” Dan ponsel Iptu Rayhan pun berdering. “Bentar, dari Anggun.”
Adinda hanya menarik nafas panjang.
Lalu sejenak, Iptu Rayhan menyerahkan ponsel itu ke arah Adinda, “Anggun mau ngomong nih.”
“Sama aku?”
“Ck!” dan ia menangkap ponsel yang dilemparkan Rayhan padanya.
**
“Sayang... kayaknya kita nggak jadi pulang.” Rio berbelok ke arah putaran dan meluncur ke lokasi berbeda.
“Eh? Ada apa?”
“Adinda mau bunuh diri.”
“Hah?! Bego kuadrat!!”
“Aku dapat kabar dari Iptu Rayhan.”
“Hubungi Pak Iptu! Mana ya i-pod cadanganku...” Adinda mengaduk-aduk tasnya. “bilang dia tetap terhubung denganku!”
Rio menghela nafas.
__ADS_1
“Pak Iptu!!” seru Anggun saat Iptu Rayhan bilang ‘halo’. “Mana si bego? Saya mau bicara dengannya!” seru Anggun emosi.
“Pelan-pelan sayang nanti suara kamu hilang lagi,” desis Rio.
“Apaaa?” terdengar suara Adinda.
“Pe Cun, nggak bisa ya lo ninggalin anak-anak lo gitu aja ke gue! Ibu macam apa lo Woey!!” seru Anggun.
“Lo nggak ngerti situasi yang gue alami sekarang!” seru Adinda.
“Gue mau ngomong, tapi lo harus jawab pake emosi,”
“Hah? Apa sih?’
“Besok lo harus ke Thailand beneran,”
“Gue nggak ada duit An jaaaay, jadi gue pending dulu! Ini baru mau gadai-in perhiasan lo buat urus imigrasi dan beli tiket eh mereka udah muncuuuul! Gue cuma aman di sini di atas gedung! Mereka nggak ngejar ke atas karena keburu heboh!”
“Jadi kamu bukannya mau bunuh diri?” tanya Iptu Rayhan kaget.
“Jadi lo nggak mau bunuh diri nih?” tanya Anggun terkesima.
“Ya nggak lah! Gue masih waras!”
“Halah...”
“Yang beranggapan seenak jidat kalo gue mau bunuh diri kan calon suami gue!” seru Adinda.
“Siapa calon suami lo?” kernyit Anggun.
Iptu Rayhan langsung jongkok sambil menghela nafas.
“Yang barusan ngelamar gue, mana nggak bawa cincin. Maen minta gue nikah-nikah aje!” sindir Adinda.
“Ya udah lo turun dulu. Yang penting pulis udah tahu kan siapa aja yang bukan anggota, siapa yang terorojing? Habis itu lu pake dah duit gue buat oplas di Thailand! Kalo perlu lo beli dah rumah di sana! Biar Pak Iptu nyusul sekalian ke sana!” seru Anggun sebal.
Dan berakhirnya Drama Of The Year.
“Duitnya dari mana , sayang?” tanya Rio tegang
“Kujual-jualin aja tasku semua, buat biaya tinggal si Adinda di Thailand. Mayan tuh ada yang ratusan juta...”
__ADS_1
Rio sebenarnya ingin bicara kalau ia dapat 10 miliar dari Pak Banyu untuk simpananan. Tapi ia akhirnya urung bicara karena ia ingin tahu sejauh apa aksi Anggun menyelamatkan seorang yang bahkan ia benci.