
Malam itu, Anggun yang sedang menggendong Freya tampak mencebik saat melihat Adinda cengengesan.
“Ngapain lo di sini Bumer?!” desis Anggun sebal, ”Ini udah lewat jam besuk!”
“Lo nggak liat nih infus di tangan gue, Hah?! Mantu macam apa lu nggak tau kalo mertuanya hiperemesis sejak Reno 3 bulan?!”
“Salah lu sendiri kenapa nggak minum multivitamin heh? Lo kebanyakan ngobat pas muda, jadinya kebal kan sekarang?! Itu adek-adek gue, Laras dan Hana, di rumah nggak ada yang ngurusin tuh! Kuat-kuatin dong!!” sahut Anggun.
“Ah, ada bapaknya ini yang ngurusin. Gue nih bela-belain biar bisa sekamar sama lu nih, buat jagain lu! Respek dong! Mana ada mertua yang baeknya kayak gue, udah hamil gede, hiper-emesis, bersedia jagain lo pula!” Adinda menoyor dahi Anggun.
“Jagain gue gimana?! Yang ada nambah beban gue!!” seru Anggun kesal. “Tuh Freya liat tuh Nenek! Kalo kamu udah gede, udah bisa ngomong, omelin nenek ya!”
“Gue udah jadi nenek di usia gue yang ke 29 tahun, waaaw!”
Tapi kemudian mereka berdua terdiam saat melihat mertua Isma masuk ke dalam ruangan, sambil mengenakan name tag ‘tamu’. Bukan hanya mereka berdua, semua orang di kamar itu memperhatikan si ibu mertua.
Isma yang sedang berbaring, langsung terduduk saat melihat ibu mertuanya, namun perih di perutnya langsung melanda, jadi ia mengernyit dan hanya bisa bergerak duduk perlahan.
“Sudah, tak usah duduk. Baring saja dulu, nanti jahitannya terbuka lagi.” Desis Ibu mertua sambil menepuk-nepuk bahu Isma.
Semua orang sampai menaikkan alisnya melihat tingkah si ibu mertua.
Dan si ibu mertua pun akhirnya melihat ke arah Anggun, lalu menghela nafas dan menipiskan bibirnya, antara dia kesal atau segan. “Terima kasih ya Mbak Anggun, sudah menyelamatkan nyawa cucu saya.” Katanya.
Tampaknya Saiful sudah memperlihatkan video di ruang NICU.
Lalu Ibu mertua pun menutup bilik Isma rapat-rapat. Tampaknya mereka akan bicara berdua dari hati ke hati.
**
Di lain tempat...
“Mah...?” Junot mepet-mepet ke mamahnya yang sedang ngemil chitato nggak bagi-bagi di depan TV layar raksasa.
“Ya sayang?” Mamah Junot cantik jelita dan kulit putih menyilaukan. Tubuhnya mungil tapi dadanya besar. Wajahnya mirip Junot, imut macam anime. Tapi tingkahnya entah bagaimana selalu seksi aja, bukan karena gaya berpakaian, dia pakai gorden juga akan terlihat seksi. Sangat wajar kalau pria sedingin papanya Junot bisa terpikat. Namanya Nirwana, dan sosoknya memang bagaikan bidadari penghuni surga.
“Tahu Pak Avramm nggak?”
Mama Wana meletakkan Chitatonya di samping sofa, sengaja agak jauhan dari Junot agar mencegah diembat diam-diam.
“Perusahaannya yang di Singapura minggu lalu baru saja menjalin kerjasama denagn Opal Corp untuk peluncuran saham-“
“Oke jadi kenal.” Potong Junot. “Kalo anaknya, tahu nggak?”
“Anaknya... hm, kalo tak salah yang sulung pindah ke Indonesia sudah lama, bahkan kuliah di sini kok. Tapi Mamah nggak tau dia nempati rumah yang di Rawamangun atau yang di komplek sebelah ya?”
“Anaknya kuliah di Amethys aku minggu lalu ketemu.”
“Anaknya cantik loh, tinggi semampai!”
“Dan penuh tattoo,”
__ADS_1
“Kamu jangan ikutan bikin,ya...” Mama Wana mencoleh hidung mancung Junot sambil mengerling. Kenapa sih harus main mata, kan jadi eneg si Junot.
“Mamah nggak usah Sok Imut, aku lebih imut dari mamah. Ini anaknya Pak Avramm minta aku jadi pacarnya.”
“Kalau mimpi tidur dulu, Junot. Paling tidak tumbuhin jenggot biar bisa serasi sama anaknya Pak Aramm.”
“Nih isi WA-nya... nggak ada yang kubales,”
“Itu fake Chat.” Tuduh Mamah Wana
“Mama ih!”
“Ya habisnya nggak mungkin lah cewek tomboy sangar gitu nyari cowok yang cutenya yang ketulungan gini!”
“Sama seperti : nggak mungkin pria gondrong, konglomerat, medit luar biasa, pemilik perusahaan aset triliunan tertarik sama anak kos yang nyoba-nyoba jadi sugar baby...” sindir Junot.
“Baca Obsesi Sang Pemikat yaaaa, Ting!” Mamah Wana lagi-lagi mengedipkan sebelah matanya.
“Obsesi Sang Pemikat banyakan ceritanya Om Kevin...”
“Ya memang dia idola ibu-ibu sih wekekekek!”
“Jadi gini Mah, tolong refresh otakku, Aku nggak ingat sama sekali pernah ketemu Jenny di masa lalu. Katanya aku digigit anjing karena nolongin dia, benarkah?!”
“Benar! Kamu sampai pingsan kehabisan banyak darah! Mama sampai panik! Tapi di lain pihak, kamu sudah membunuh anjing itu duluan Junot, kamu hantam kepala anjing pakai bata. Anak sekecil kamu...”
“Itu kejadiannya gimana ya sebenarnya?”
“Heee... jadi... anak itu bukan laki-laki yaaa?!”
“Hah?”
“Di ingatanku, dari arah depan ada bocil, cowok, rambutnya digimbal badannya tinggi, melesat ke arahku sambil bilang ‘lari begooo’ , Terus dia kesandung sendiri.”
‘Hm... “ Mamah Wana menyambar lagi bungkus keripiknya dan mengunyah selembar, “Mama nggak tau yang itu. Ya tapi sosok itu memang Jenny. Rambutnya digimbal model rasta.”
“Oh... itu toh Jenny.”
“Ya.”
“Hm...”
Dan saat itu, seseorang menekan bel di depan pagar.
“Siapa tuh?” tanya mamah.
“Aku aja yang liat.” Junot bicara begitu sambil menyambar keripik di dalam bungkus plastik.
“Hih! Mamah udah bilang ambil sebungkus sendiri di lemari pake minta punya mamah ah!” keluh mamanya saat Junot berjalan ke arah pintu.
Dan di depan pagar sudah ada...
__ADS_1
“Ya Ampun Tuhan Yesus...” keluh Junot saat dia melihat Jenny sudah berada di depan gerbang rumahnya di kawasan Hang Tuah, “Kamu ngapain di sini?!”
“Aku udah bilang mau main kan? Rumahku hanya beda satu blok dari sini.”
“Anjingku galak,” desis Junot.
“Kamu takut anjing sejak digigit.”
“Bapakku galak,”
“Aku udah kirim WA mau main ke sini dan dia bilang oke.”
“Sejak kapan kamu-“
“Bapakmu dan bapakku dulu bertetangga, ya pasti saling kenal lah. Walau pun bapakku udah pindah ke Singapur tapi kan hubungan bisnis tetap terjaga baik,”
“Errrgh...” keluh Junot. “kamu tahu nomornya dari bapakmu ya.”
“ Ya jelas. Ibu kamu di rumah? Aku mau ketemu dong mau minta izin pacaran.”
“Nggak usah sampai melibatkan ibuku segala dong!!”
“Kita kan akan berumah tangga di masa depan, masa aku nggak libatkan-‘
“Siapa yang mau berumah tangga di masa depan denganmu?!”
“Junot, kalau ada tamu persilakan masuk ke dalam dong, jangan teriak-teriak di depan gerbang seperti itu,” sahut Mamah Wana dari dalam rumah.
“Ini bukan tamu Mah, ada orang minta sumbangan,” desis Junot.
Jenny menghela nafas, lagi-lagi dia ditolak Junot. “Ngga ada orang minta sumbangan malam-malam gini Justin,”
“Selama nggak ada protes jadi orang tuaku percaya.” Junot mendekat ke arah gerbang tapi ia tidak membuka pagarnya. Mereka berbicara melalui teralis.
“Apa sih mau kamu?” desis Junot.
“Kamu.”
“Bohong.”
“Oke deh, yang kuincer sebenarnya bapak kamu yang tua tapi ganteng, hehehe.” Jenny mencoba bercanda. Tapi wajah Junot tetap tanpa ekspresi. Cowok itu tidak terpancing.
Jenny akhirnya mencibir dan mengelus tengkuknya. “Harus bagaimana lagi aku meyakinkan kamu?”
“Hey, tahu satu hal?” tanya Junot sambil tersenyum sinis.
“Ya?”
“Aku ingat kamu. Aku tanya ke ibuku.”
“Akhirnya kamu ingat aku!”
__ADS_1
“Dan sekarang setelah ingat, aku jadi benci kamu.”