
Anggun dibawa masuk ke dalam rumah sakit menggunakan kursi roda. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Suasana di rumah sakit yang menangani pasien khusus ibu dan anak ini terbilang ramai ternyata. Banyak juga ibu-ibu yang di-dorong dengan kursi roda dan raut wajah kesakitan.
Bahkan banyak yang berjalan pelan-pelan karena tidak dapat kursi roda.
“Aku ngurus administrasi dulu Pah,” kata Rio.
“Jangan, Papah aja, kamu jaga-jaga di samping Angg- laaah dia kemana?!”
Saat dicari, ternyata Anggun sudah berada di seberang koridor, sedang membantu seorang wanita yang tampaknya sudah waktunya melahirkan dan kesulitan berjalan.
“Duduk Mbak, duduk! Pakai kursi roda ini!” sahut Anggun.
“Kami sudah di sini dua jam, Bu, tapi belum ada penanganan. Istri saya sudah sakit sekali, kemungkinan pengurusan BPJSnya belum selesai.” desis laki-laki di sebelah sang wanita yang kini wajahnya berpeluh keringat, terlihat sekali kalau ia sudah lama mondar-mandir.
“Memang apa yang terjadi?” tanya Anggun berang.
“BPJS saya nunggak setahun, bagi kami lumayan berat untuk membayar 35ribu per kepala, sedangkan yang harus saya tanggung ada 6 kepala, dengan mertua dan orangtua saya juga. Saya dari kemarin memberatkan orangtua saya yang terkena diabetes, ternyata istri saya juga terkena HBsAg. Uang saya sudah habis untuk biaya pemeriksaan ini-itu pasca melahirkan.” Kata laki-laki di sebelah si wanita.
“Ibu, maaf, ini bapaknya nunggak BPJS sudah setahun, Dan ibunya punya HBsAg, jadi penanganan harus khusus. Sedangkan dokter yang menangani pasien belum datang.”
“Kalau belum siap punya anak ya jangan hamil dooong,” terdengar nyinyiran seseorang dari arah kursi tunggu.
“Heh! Kalo ngomong pake otak!! Rejeki dan tragedi bukan lo yang ngatur!!” seru Anggun langsung berang, entah ditujukan ke siapa. Ia teriak saja biar semua ruangan dengar.
Manusia tidak bisa menghakimi orang lain seenaknya sendiri.
“Bukannya kami belum siap punya anak bu, tadinya ada dana lebih kok. Tapi tiba-tiba saat dia hamil, cobaan datang silih berganti. Orangtua sakit, lalu saya terkena PHK karena perusahaan tempat saya bekerja bangkrut. Sementara pengeluaran ini-itu tidak berkurang...” kata si suami. “Semua terjadi begitu cepat, Bu. Saya bisa apa?” sahut si Suami.
Cairan kekuningan mulai merembes ke betis si wanita itu, ia semakin mengaduh kesakitan.
“Anggun, mundur, jangan sampai kena cairan.” Rio menarik Anggun agar menjaga jarak.
(Hepatitis B adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus. Hepatitis B adalah penyakit yang ditularkan melalui kontak dengan cairan tubuh pasien, seperti darah dan produk darah, air liur, cairan ******, cairan ******, dan cairan tubuh lainnya. Namun tidak ada bukti penyakit ini bisa menular lewat keringat.
Hepatitis B tidak menular begitu saja. Hepatitis B tidak bisa ditularkan melalui dudukan toilet, kenop pintu, bersin, batuk, berpelukan atau makan dengan seseorang yang terinfeksi hepatitis B).
“Ssssh!! Sudah-sudah, Rio!”
“Hah?” Rio hanya melongo.
“Kartu debit, sini Kartu debit!”
“Astaga...” Rio merogoh dompetnya dan memilih kartu debitnya.
“Yang platinum, yang bisa transfer 100juta!” sahut Anggun.
“Hah? 100juta?! Kamar kamu saja ditambah ini itu cuma 50 jutaan Anggun, itu pun kalau sesar,”
“Ssssh!” Anggun mengangkat tangannya. “Mas, saya deposit untuk biaya perawatan mbaknya, tapi ke rekening rumah sakit ya, bukan ke rekening Mas-nya. EDC mana EDC... bilang dokternya suruh cepet,”
Dr. Kemala datang, ia seharusnya akan melakukan persiapan untuk menangani Anggun tapi dia malah terdiam di Lobby Rumah Sakit karena melihat Anggun teriak-teriak berang.
“Astaga, istri kamu, Mas...” gumam Dr. Kemala.
“Dokter yang khusus menangani pasien berkebutuhan khusus belum datang bu, harus tunggu sekitar 45 menit...”
“Itu sih bahaya namanya sus! Memang nggak ada dokter lain?!” tanya Anggun.
“Saya bisa, sih, tapi saya harus skip kamu, Nggun. Karena tidak mungkin selesai secepat itu.” Dokter Kemala tampak membolak-balik track record Anggun.
“Saya dengan dokter lain saja, tolong tunjuk rekanan Bu Dok,”
“Kayaknya bisa lahiran dengan proses normal sih, kecuali saat pemeriksaan nanti ada hal mendesak. Kamu jangan stress nanti darah tinggi, gagal semua rencana.” gumamnya.
“Pasien ini harus kamar khusus-“
“Ambil VIP standar, saya deposit nih ya, Cepet Sana!!”
“Anggun jangan teriak-teriak, kamu harus simpan tenaga buat ngeden.” Desis Rio.
“Lupa, ih...” Anggun menggesek biaya-biaya persalinan si wanita melalui mesin EDC portable yang disodorkan padanya.
__ADS_1
“Tapi bu, kamar VIP kami kalau dipakai oleh ibu yang ini, untuk Bu Anggun tidak tersedia... karena penuh,”
“Saya Kamar yang kelas II atau III saja, ramai-ramai lebih enak.’
“Tapi Rio nggak bisa nungguin di dalam kecuali jam besuk,”
“Ah dia sih kayaknya santuy,” gumam Rio sambil terkekeh.
Kehebohan tidak hanya terjadi pasca persalinan. Tapi juga menjelang persalinan. Tiba-tiba saja Geng Savage datang semua.
“Lu kenapa ambil di RS sini sih cuy! Kita kan punya akses ke Garnet!!” seru Abbas.
“Garnet jauh, di sini kan bisa 10 menit naik sepeda.” Kata Rio
“Ya siapa juga yang mau ke RS naik sepeda?!”
“Kalo macet gimana? Ini kan Jakarta...”
“Gue sewain heli Riooooo, Rio! Ah elah lo ngeremehin gue mulu sih!!” seru Abbas kesal.
Rio ngakak, “Kita ke sini karena Dr, Kemala praktek di sini juga dan lokasinya dekat. Anggun bahkan kalau chack up sering sendirian diantar motor Pak Sekuriti. Kan gue juga bisa bolak-balik rumah rumah-RS nggak pake lama.”
Suster datang menghampiri Rio. “Bapaknya yang mana ya?”
“Kita semua bapaknya,” desis Meneer kompak sama Abbas.
Langsung diklepak oleh Rio.
“Suaminya Bu Anggun maksud saya,” ralat si suster.
“Dih, kan bapak asuh maksudnya,” gumam Meneer.
“Saya, suster,” Rio maju dan menghampiri Suster
“Ibunya sudah bukaan 8 tapi belum mules Pak,” kata Suster. “Jadi kami beri suntik ya,”
“Lahh!!” seru Mener, “Ada cewek bukaan 8 belom mules, gimana sih Anggun rahimnya dari baja kayaknyaaaa!”
“Riooooo,”
“Tuh dia teriak tuh!!”
“Pizza aku udah di lobby, minta tolong diterima, yaaaa!” seru Anggun.
Semua mencibir.
Beberapa saat kemudian,
“Njir gue menang lagi,” desis Junot. “Payah lo payah payaaah, ini tuh cuma cangkulan! Gitu aja nggak becus apalagi lo main slot!” seru junot sambil melempari Abbas dan Meneer dengan kartu.
Mereka main kartu di lantai ruang tunggu bersalin, di depan ruangan Anggun.
“Gue beli server slotnya...” gumam Abbas pelan.
“Apa-apa lo beli, sekalian bulan lo beli.” Ejek Junot.
“Kita kuliah nggak nih?”
“Nggak, Gue mau ngeliat ponakan gue. Gue bolos.” Kata Meneer.
“Gue juga males. Mending di sini ngeliatin suster,” gumam Abbas.
“Pagi-pagi jam nya Pak Ivander.” Junot mengingatkan.
“Lah gue pagi-pagi Jamnya Pak Baron.” Kata Abbas.
“Itu preman kenapa bisa kerja sambilan jadi Dosen sih...?!”
“Hanya ada di Amethys University, Assassin jadi Dosen. Sekalian aja Pak Arman direkrut!”
“Nggak boleh sama Bu Ayumi, soalnya bisa-bisa semua mahasiswi cantik bikin sekte sesat pemuja Arman.”
__ADS_1
(Pak Arman siapa sih? Wikikikikk!)
“Bolos demi kelahiran ponakan, Nyari-nyari masalah aja sih.”
“BD5M... Bodoamat Dengan Semua Masalah.”
“Amethys kan banyak kepentingan sama pemegang saham lain. Si Ariel aja udah teken tempat padahal lulus aja belom,”
“Jadinya dia kejar paket C ya...”
“Bingung gue, ngapain jodoh-jodohan coba? Kalau mau kaya ya kerja kali,” kata Abbas
“Kerja, kerja kerja, itu slogan Romusha.” Kata Meneer.
“Bukan kompeni?” tanya Junot.
“Romusha aja lah biar gue terhindar dari tuduhan,” desis Meneer lagi.
“Nah itu udah kerja... kerja makan hati mengarungi bahtera rumah tangga. Kan berat juga loh kesehariannya.” Kata Junot
“Berat itu kalo Ariel dijodohin sama nenek lampir. Nah ini sama Bu Ariel, kagak mikir panjang lagi dia mah! Dihujat ya silakan. Gue juga mau... lunasi hutangmu, atau menikahlah denganku!” sahut Abbas.
“Gue bingung sama lo, konglomerat tapi mimpinya recehan.”
Lalu mereka terdiam sambil menatap lantai.
“Siapa yang nggak tau lagi mau ngapain?” tanya Rio.
“Saya,” jawab Abbas, Mener dan Junot serempak.
“Habisin pizzanya ya gaes, Anggun mulai kontraksi.” Rio meletakkan dua loyang di depan mereka. Sudah berkurang empat slice. Banyak juga makannya si Anggun.
“Agung mana sih?” tanya Rio.
“Sibuk sama Mecca.” Jawab Abbas.
“Anjrit... pacaran tuh dua anak?”
“Bukan. Hubungannya belum jelas, tapi saltingnya melampaui batas.”
“Semoga Agung legowo...”
“Setelah kesulitan, pasti ada kesulitan lainnya.” Kata Abbas.
“...Hubungi kami di 081xx-xxx-xxx, Konsultan Keuangan terpercaya, terdaftar di OJK.” Tambah Meneer.
“Konsultan keuangan?”
“Alias pinjaman online,”
“Lama-lama gue jadi Juara 1 nelen sabar sampe kenyang.” Kata Abbas.
Lalu semua diam.
“Ngguuuun, udah ngeden belooom?” Rio berseru ke dalam ruangan
“Ini lagi ngeden sayaaaang,” jawab Anggun kalem.
“Kok nggak kedengeran, parah si Anggun,” Kata Rio sambil masuk lagi ke dalam ruangan.
“Ini lahiran tersyahdu yang pernah gue datengin. Percuma kita tadi heboh-heboh di depan,” kata Meneer
“Nggak papa lah nyelametin gue dari Video Call si Jenny,” desis Junot.
Semua langsung menatap ke arah Junot.
Junot hanya melirik sekilas lalu menghela nafas.
“Kenapa dia bisa suka samalo yang tampangnya ngaco gini?” gerutu Abbas.
“Katanya karena, tampang gue manja tapi tindakan gue manly.” Desis Junot.
__ADS_1
Abbas mendengus, ”Singkat, padat dan bang sat.” Gumamnya.