
Anggun keluar dari ruang NICU dan duduk di sebelah Rio. Sementara di saat yang bersamaan Adinda datang dari lantai 3, tempat konsultasi dokter kandungan, dan bergabung bersama mereka.
Anggun dan Adinda reflek menatap ke arah Jenny.
Jenny hanya mendongak sambil tersenyum.
“Gahar woy,” gumam Adinda sambil mengelus perutnya yang membesar.
“Lo yang kemarin diangkat jadi Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa,” sahut Anggun langsung.
“Kalo bukan gara-gara Tatto dan gender, gue udah jadi Ketua,” kata Jenny penuh percaya diri.
“Habis ini gue nyalonin diri ah,” desis Anggun. Jiwa kompetisinya langsung bergejolak.
“Jadi lo bakal saingan sama gue,” desis Jenny sambil berdiri dan menantang Anggun.
“Nggak masalah, gue nggak punya tatto dan IPK gue bakal tinggi. Lebih-lebih, gue punya banyak jaringan di kampus daripada lo,”
"Kita lihat aja sampai mana inteligensi lo bekerja untuk hal kepemimpinan, cewek manja macam lo apa mampu jadi Ketua?"
"Gue nggak selemah penampilan gue. Barusan gue dijahit nggak dibius!"
"Jadi seorang ibu nggak sama dengan jadi pemimpin. Apalagi kampus kita termasuk istimewa,"
“Kampusnya kan punya nyokap gu-“
“Diem Lo!!” seru Anggun dan Jenny memotong kalimat Abbas.
Abbas hanya mengerang sebal. Lagi-lagi semua tidak terima kalau dia adalah pewaris.
“Gimana Freya?” Rio memeluk Anggun dari belakang untuk meredakan suasana.
“Kondisinya stabil, nyusunya banyak banget loh Sayang, dia pasti kehausan dari tadi... Pinter dia langsung bisa mengenali sumber asi,” kata Anggun. “Lalu... maaf Rio aku nggak izin kamu dulu,”
“Kenapa?”
“Tadi aku juga menyusui bayi lain, badannya sudah mulai membiru karena tiba-tiba dia tidak mau menyusu dari sufor dan juga air susu ibunya tidak keluar. Kerjanya menangis saja, di lain pihak, Isma juga hanya bisa menangis.”
“Oh,aku tahu Isma... yang diomeli sama Mertuanya terus kan? Yang suaminya OB dikantor Papah?” tanya Rio.
“Iya, dia.”
“Kita harus jaga hubungan baik, kamu ibu susunya. Freya harus mengenali saudara sepersusu-annya.”
“Mulai sekarang aku akan memasok kebutuhan ASI Adya juga,"
“Ya sayang tak apa, semoga setiap tetesnya adalah berkah bagi kita...” Rio menempelkan dahinya ke dahi Anggun dan memeluk pinggang wanita itu.
“Hm, kamu tahu kan apa artinya ini?” tanya Anggun
__ADS_1
“Apa?”
“Itu berarti seorang ibu harus merasa bahagia. Karena kalau Sang Ibu tertekan, menderita, frustasi, si bayinya juga merasakan. Tindakan Adya adalah buktinya, ia mengeluarkan semua amarah dan rasa depresi Isma. Jadi ia tidak mau minum dan terus menerus menangis.”
“Iya, aku percaya itu. Apa pun kondisi kita, punya uang atau tidak, hidup pas-pasan atau kaya raya, asalkan kamu tersenyum padaku dan anak kita, semua pasti Dilancarkan OlehNya. Karena kamu adalah ridho bagi rezeki-ku.”
Terus-menerus Rio mengeluarkan kata-kata manis untuk Anggun. Rio tahu, istrinya itu sebenarnya masih merasa shock atas diculiknya Freya tadi. Buktinya Anggun tidak membahas kasus itu sama sekali, malah bersenda gurau dengan Jenny dan Adinda. Juga ia malah menceritakan Isma dan anaknya.
Jadi sebenarnya Anggun sedang dilanda rasa trauma yang hebat.
Ia hanya tidak ingin semua orang tahu.
“Kamu akan jadi ibu yang baik sayang, kamu yang kukenal adalah wanita tangguh dan kuat, Kamu tidak membiarkan sehelai rumput pun menginterupsi tindakanmu. Jadi Freya di bawah didikanmu akan menjadi anak yang hebat. Aku harap, kamu juga membesarkan hati Isma dengan cara begitu, tanpa harus menghakimi suaminya. Isma dan suaminya harus satu suara, karena ini adalah rumah tangga mereka sendiri.”
“Tidak bisakah mereka berpisah saja? Kelihatannya suaminya Isma kok tidak tegas dan malah takut dengan ibunya?”
“Suaminya Isma hanya takut menjadi anak durhaka. Surganya masih terletak di kaki Ibunya. Tapi dia harus pandai menengahi antara istri dengan ibunya. Suami yang sebenarnya diuji dengan cara yang begitu. Perpisahan seharusnya adalah jalan keluar paling terakhir.”
“Jadi sekarang intinya suaminya dulu ya?”
“Ya, dalam diri wanita selalu ada rasa bersaing. Kadang ibu dan anak saja bersaing, Apalagi mertua dan menantu? Suaminya Isma harus tahu bahwa dia harus bisa memuliakan Istrinya karena di sana lah letak kebahagiaan rumah tangganya, sepaket dengan ridho dari ibundanya karena restu beliau memberi berkah ke keluarganya.”
“Kalau dipikir, tugas suami itu berat juga ya?”
“Seorang manusia dipercaya menjadi pemimpin, pasti memikul tugas yang lebih berat dibanding yang lain. Kamu tahu ada kiasan mengenai laki-laki?”
“Kita banyak mendengar kesetaraan gender atau perjuangan wanita akan hak-haknya, betul?”
“Ya?”
“Tapi apakah wanita memahami laki-laki saat kami diminta memahami wanita?”
“Hm... coba kudengarkan, sayang...”
“Wanita, tidak akan bisa menjadi laki-laki karena hal ini, seberat apa pun wanita mencoba merubah gendernya, ia tidak akan kuat.” Rio mengecup dahi istrinya. “Sesuatu yang sampai detik ini masih kuperjuangkan. Dan mungkin sampai aku mati akan kuperjuangkan untuk kamu dan anak kita.” Bisiknya.
“Apa itu,”
“Nafkah.”
“Perempuan yang single mom masih bisa mencari nafkah untuk anak-anaknya.”
“Di situlah letak ketidakberdayaan kami. Perempuan yang single Mom menafkahi anak-anaknya akan dua kali lipat dihargai. Tapi bagaimana dengan laki-laki?”
“Ya itu kan memang kewajibannya,”
“Apa kamu bayangkan bagaimana sedihnya kami? Bingungnya kami? Kami juga manusia, kami juga memiliki rasa pengecut, tidak percaya diri, dan banyak juga hal-hal yang tidak bisa kami lakukan saat situasi tidak mendukung.”
“Maksud kamu?”
__ADS_1
“Laki-laki akan dihargai apabila dia memberi nafkah. Kalau nafkah itu berhenti, dia tidak akan dikasihani, ia akan jadi tidak berguna. Ia akan terbuang, ia akan dihujat kanan-kiri, atas -bawah. Ia tidak akan berharga sebagai manusia. Tidak akan dia dikasihani seperti perempuan, tidak akan ia diberi sentuhan lembut seperti anak-anak. Sampai mati bahkan tidak akan ada yang mendoakannya. Saat itu semua terjadi, bayangkan kesedihannya?”
Anggun hanya diam.
“Menurut kamu ke mana kami harus mencari ketenangan batin di saat kami tidak mampu memberi keluarga nafkah?”
“Ke mana?”
“Ke ibu. Yang sayang pada kami hanya ibu. Karena doa ibunya adalah pengharapan baginya. Terbayang tidak kalau ibunya adalah wanita dingin? Atau ibunya tidak sayang padanya? Atau ia sejak kecil dididik tanpa kasih sayang seorang ibu? Atau bahkan ibundanya sudah tiada?”
“Ah...”
“Maka kesedihan kami akan berubah menjadi amarah, akhirnya Ke hal lain yang berdosa. Minuman keras, wanita lacur, akhirnya berimbas ke KDRT, kriminalitas, dan lainnya. Aku bicara mengenai laki-laki normal sepertiku ya , bukan yang memang psikopat dari sana-nya.” Kata Rio. Karena sang ibundanya sudah pergi saat ia sedang sangat membutuhkan kasih sayangnya.
“Ah... kini aku mengerti kenapa Saiful tidak tegas ke ibunya. Karena seorang istri masih bisa meninggalkannya tapi ibunya tidak akan meninggalkannya.” Kata Anggun. “Aku juga pernah dengar istilah itu, Rio. Kalau wanita sudah berpenghasilan lebih, ia tidak butuh laki-laki. Tapi kalau laki-laki berpenghasilan lebih, ia butuh banyak wanita.”
“Sebenarnya laki-laki itu makhluk menyedihkan. Diharuskan kuat walaupun dia sebenarnya lemah, namun saat dia kuat dia harus lemah lembut. Pengendalian diri intinya. Itulah pemimpin. Untuk berjihad, kami harus berperang. Kalau wanita, pahala setara jihad saat apa? Kamu Tahu?”
“Saat kami... membantu tugas suami mengurus rumah tangga. Karena tugas kami sebenarnya hanya mendidik dan mengasuh anak.”
“Bayangkan pahala yang diterima Single Mom?”
“Ya sangat banyak.”
“Bagaimana kalau Single Father?”
“Hm...”
“Sudah bersyukur menjadi wanita?”
“Sangat bersyukur. Hehe.”
“Kasus Isma ini... banyak sekali diderita oleh rumah tangga, Mertua yang tak akur dengan istrinya. Dan sepanjang zaman merupakan penyebab kedua perceraian terjadi. Penyebab perceraian yang nomor satu adalah masalah nafkah. Mungkin wanita hanya bisa bilang ‘ya itu tugas suami, memang begitu tugasnya, jangan mau enaknya saja adegan ranjang’ padahal di balik itu, kami ini sedang memutar otak bagaimana cara memenuhi semua kebutuhan ditengah kelumit ibukota yang sangat kejam ini.”
“Okeee,”
“Jadi kamu tahu harus apa kan untuk Isma? Pasti Saiful sedang kebingungan sekarang.”
“Isma yang harus bicara dari hati ke hati dengan Mertuanya. Bukannya Saiful. Isma yang harus mencoba berdamai. Di lain pihak, mertua harus legowo dengan wanita pilihan anaknya, kalau ia memang sayang ke Saiful pasti dia akan mencoba berdamai dengan menantunya.”
“Pintar kamu sayang...” Rio mengelus kepala Anggun dengan sayang.
“Rio...”
“Ya?”
“Saat kamu nanti tidak mampu lagi mencari nafkah dunia, kamu cukup memberiku Nafkah batin. Maka aku akan dengan senang hati berjuang demi keluarga kita.”
“Ehemm!!” terdengar deheman Abbas. “Dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Woy lo semua udah bayar kontrakan belom?! Nunggak, diusir lo dari dunia!”
__ADS_1