Rascal In Love

Rascal In Love
Sikap Abbas


__ADS_3

Setelah  jam kuliah Rio dan Abbas ke Polres untuk memberikan keterangan mengenai kasus penculikan Freya. Rio memang sudah dikenal sebagian besar orang di sana karena semua mengingat kasus Anggun dulu. Mediasi yang terlaksana saat itu, ditambah dengan perkelahian antara Anggun dan Adinda lumayan menarik perhatian dan jadi bahan perbincangan selama beberapa saat. Apalagi akhirnya Iptu Rayhan malah menikah dengan Adinda.


Ditambah... ada kasus ini.


Tim Investigasi memberikan Rio kopi, sementara Abbas di selasar lantai 3 mengobrol dengan Iptu Rayhan. Karena satu dan lain hal Iptu Rayhan sudah tidak menjabat sebagai kepala di Polsek, ia dipindah ke Polres untuk juga ikut masuk ke Satuan Reserse Kriminal.


“Mas, gue tahu banget Rio nggak kenal sama Andri. Paling salam tompel doang.” Kata Abbas sambil menghembuskan asap rokoknya dan mengerutkan kening sambil menatap Rio yang duduk menghadap ke beberapa orang anggota kepolisian di ruangan kaca. Rio memang tampak santai di sana  bahkan sesekali ia menyeringai. Tapi Abbas tetap saja khawatir ke keadaan temannya itu.


“Salam tompel...”


“Iya kalo kita, paling kasih mereka lah pasokan sekardus intisari ato mix max. Daripada oplosan melulu yang ada pada diabetes.” Abbas bahkan tak tersenyum saat membahas ini. Ia hanya mengingat masa-masa kerena tiupan angin jalanan. Seakan terbang melupakan segala permasalahan yang ada, nyawa pun rasanya tak berharga. Abbas balapan untuk bisa meredakan tekanan batin yang berkecamuk di hatinya. Walau pun ayah dan ibunya tidak menuntutnya ini-itu mengenai masalah perusahaan raksasa Yudha Grup, tapi dibegitukan malah jadi tekanan batin tak kentara yang menghantui diri Abbas.


Kenapa mereka tidak menekannya? Apakah Abbas memang dianggap sangat payah sampai mereka memutuskan untuk tidak menggubrisnya? Padahal Mecca sudah dilatih jadi pebisnis sejak usia anak itu beberapa bulan. Ibu Abbas sering mengajak Mecca ke kantor, mengasuhnya sambil mengurus pekerjaan. Kenapa Abbas tidak? Dan berbagai pikiran buruk lain.


Nyatanya hal itu hanya pikiran buruk Abbas saja.


Karena setelah lulus sekolah dengan nilai Pas-pasan, Ibunya, Bu Susan, mengajaknya bicara dan bilang : ini saatnya melatih kamu menjadi pemimpin.


Sambil menyeringai licik tentunya.

__ADS_1


Ternyata semua itu disesuaikan dengan perkembangan otak Abbas.


Jadi, menurut Bu Susan dan yang sudah dianalisa oleh berbagai pakar, terdapat perbedaan otak pada anak perempuan dan laki-laki sebelum usia 18 tahun. Sebelum memasuki usia 18 tahun pada anak laki-laki otak kanannya akan berkembang lebih dulu dibanding otak kiri. Dimana otak kanan merupakan otak santai jadi yang diinget main, asik-asik saja. Jadi Abbas dibiarkan bermain sampai puas. Karena percuma juga mengajari Abbas ini-itu saat otaknya nggak sinkron dengan realita dunia.


Barulah nanti di atas 18 tahun otak kirinya sama dengan otak kanannya, dimana otak kiri itu otak analisa, otak memikirkan, otak menghitung, dan inilah saatnya ia hidup di bawah ajaran David Yudha yang nyelekit. Hari-harinya setelah wisuda dipenuhi dengan tekanan yang membuatnya merasa jadi orang bodoh sepanjang masa dan berpikir : ke mana aja gue selama ini?!


Jadi itulah sebabnya Abbas kini mengejar ketinggalannya. Ia ambil Fakultas Ekonomi dan belajar bisnis.


Dan ia berhenti sepenuhnya jadi pembalap.


Kalau diingat-ingat... kalau dia mati saat balapan, atau saat tawuran, enak saja si Mecca mewarisi semuanya. Pantesan si Mecca mendukung penuh si Abbas jadi pembalap liar.


“Semua juga tahu itu Bas, tapi ini bagian dari prosedur. Lo udah lihat bapak-ibunya Intan?” tanya Iptu Rayhan


“Bapak ibunya intan?”


“Gue rasa mereka nggak kehabisan kasih sayang sih ke anaknya. Ibunya berkali-kali pingsan waktu besuk Intan. Mereka nggak nyangka kalau dampak kematian Indra segini besarnya. Waktu awal gue nangkep Rio karena kasus ini, karena memang nggak ada yang bisa kita jadikan tersangka atas kematian Andri dan Enes. Apalagi ini balap liar, Bas. Ilegal. Kita tangkep orang yang paling akhir ada di lokasi aja. Rio bebas karena dia bisa diajak kerjasama dengan polisi dan kurang cukup bukti kalau ia provokator atau pun menjabat sebagai Ketua Genk. Paling kita bisa tangkap dengan tuduhan merusak fasilitas umum, sanksi tilang dan judi Ilegal aja.” Kata Iptu Rayhan.


“Kami balap liar untuk mencari sensasi, mencari perhatian orang, taruhan uang, ingin merasa hebat, ingin dipuji, iseng karena tidak ada kerjaan, sebab itulah anak muda melakukan balapan liar. Kami mendapatkan kesenangan dari sensasi balap liar, adar rasa luar biasa yang tidak dapat digambarkan usai balapan.” Kata Abbas.

__ADS_1


“Ya bukannya gue nggak ngerti, Bas. kalian ingin keren karena merasa cupu di realita. Begitu pun Andri dan Enes. Mereka menjadikan Rio role model. Yang kena malah keluarga. Bahkan sampai ke Intan segala.” Kata Iptu Rayhan.


Sekali lagi ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat, “Udah level bahaya ini, tapi UU untuk balapan liar belum tegas hukumannya. Karena mereka, kriminal ini, berlindung dibalik usia. Jaman sekarang anak 12 tahun sudah bisa memiliki kekuatan macam orang dewasa dengan perilaku kriminal yang lebih parah dari orang dewasa, tapi mereka tidak bisa dihukum selayaknya orang dewasa.”


Iptu Rayhan akhirnya menumpahkan segala kekesalannya ke Abbas. “Di arena balap liar banyak remaja-remaja tanggung yang harus kami anggap sebagai bocil biasa, padahal kami tahu sorot mata mereka penuh kegilaan ala ps1kopat yang sangat berbahaya. Aparat pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena terhalang hukum. Ingin rasanya lepas seragam lalu gue pukulin satu-satu sampai pingsan itu para bokem alay, paling tidak kalau mereka sadar, mereka ketakutan dan tahu kalau ada konsekwensi yang harus dibayar kalau berbuat yang mengganggu ketertiban orang lain....”


Abbas terus terang saja mendengar Iptu Rayhan bicara begitu jadi merasa bersalah. Ia adalah bagian dari semua itu dulu. Para remaja tanggung yang kerap berbuat seenaknya.


Di pikiran Abbas, tertangkap pun paling dibebaskan lagi. Yang akan buruk nama orang tua, bukan mereka. Dan Masyarakat Indonesia ini gampang melupakan sesuatu skandal atau tragedi. Tidak pendendam dan pemaaf. Nama baik yang sempat tercoreng, tunggu saja satu atau dua tahun semua akan kembali baik seperti semula lagi.


Tapi ia tidak menyangka ada dampak yang pedih dan sakit... yang tidak terpikir sama sekali saat dulu mereka di arena.


Hal seperti Intan ini...


“Mas Rayhan...” Abbas pun mematikan rokoknya dan berdiri menghadap Iptu Rayhan. Ia menatap Iptu Rayhan dengan lekat. “Maafin gue. Atas segala yang pernah lakukan di masa lalu dan menyulitkan kalian semua.”


Iptu Rayhan sampai bengong melihat tingkah Abbas. Anak konglomerat di 12 Naga, pewaris triliunan dollar, meminta maaf ke polisi ecek-ecek seperti dirinya, secara pribadi pula.


Saat itu Iptu Rayhan tahu, kalau Abbas akan jadi lebih sukses dari bapaknya. Karena ia memahami semua kondisi dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Dan yang paling penting yang tidak bisa dibeli dengan apa pun, adalah adab Abbas yang santun dan berani meminta maaf, padahal tidak sepenuhnya salahnya. Ciri pemimpin yang baik.

__ADS_1


“Astaga Bas...” Iptu Rayhan menggelengkan kepalanya. Lalu memeluk Abbas sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Gue maafin.” Desis Iptu Rayhan sambil terkekeh.


__ADS_2