Rascal In Love

Rascal In Love
Abbas Sang Penyelamat


__ADS_3

Siang itu,


Di parkiran Rumah Sakit.


Intan duduk di mobilnya sambil berpikir.


Seharusnya ia sudah keluar dari RS itu dari tadi.


Kalau saja ia tidak terlambat 1 menit.


Kalau saja ia tidak mempersilakan pasien tua renta duluan masuk lift.


Tahu begitu ia langsung turun saja lewat tangga darurat.


Tadinya ia lakukan itu agar ia tidak terlihat mencurigakan.


Tapi ia malah jadi terlambat 1 menit, kini ia tidak bisa keluar begitu saja dari lingkungan RS ini.


Polisi di sepanjang pintu keluar, memeriksa semua mobil yang keluar, menanyai setiap orang yang keluar.


Mereka bahkan melakukan pencarian ke segala sudut RS.


Intan hanya bisa diam di mobil, karena...


“Diam!!” seru Intan kesal.


Bayi yang ia letakkan di kardus, menangis tak berhenti.


“Diam kubilang!! Diaaammm!!” jerit Intan frustasi.


Ia angkat bayi itu dan ia timang beberapa saat.


“Diam ya Naaaak, mamah lagi cari cara untuk keluar dari sini, setelah itu kita bisa pergi ke laur negeri.


“Kamu anak Papah Rio, anak Mamah Intaaan, pasti kamu anak yang pintar, yaaa...” Intan menimang-nimang bayi itu.


Namun bayinya tidak berhenti menangis.


Intan kebingungan.


Ia tahu bayi ini belum minum. Seharusnya ia siapkan juga sufor tadi.


Tapi ia buru-buru.


Di pikirannya, ia harus mengambil anak Rio, sebagai ganti anaknya.


Anaknya yang tidak pernah dilahirkannya, namun di pikirannya anak itu ada.


Ya, Intan memang hamil anak Andri, janin berusia 3 bulan hasil pergaulan di luar batasnya itu harus gugur setelah Intan depresi di kala Andri meninggal. Intan tidak mau makan tidak mau minum, dan ia hanya duduk sambil menggumamkan nama Andri.


Saat itu Andri bahkan tidak tahu kalau Intan sedang hamil.


Anak orang kaya yang jatuh cinta dengan preman jalanan, bedanya yang ini berakhir tragis.


Setelah beberapa bulan dalam keadaan depresi dan kehilangan bayinya, Intan membeli boneka yang ia sebut ‘anaknya’. Ia mulai move on, mulai bisa masuk sekolah. Tapi jelas teman-temannya menjauhinya karena di setiap intan ada kata ‘anak gue’ berkali-kali.


Walau pun akhirnya Intan bisa lulus sekolah, tapi ia masih dalam kondisi labil.


Saat teman Andri berkunjung memeriksa keadaannya, ia menyebut 1 nama. Bahwa Andri meninggal karena menggantikan Rio di Lap ke 2. Berita hoax itu terpatri di benak Intan, kalau pembunuh Andri adalah Rio. Padahal Andri sendiri yang mau bertanding untuk cari muka ke Rio.


Tapi saat ia tahu sosok Rio... obsesinya malah berubah ke cowok itu.

__ADS_1


Saat melihat Rio, ia menemui kenyataan kalau ia sebenarnya sudah lama keguguran. Bahwa yang dia sebut ‘anak gue’ hanyalah boneka, tidak bergerak dan tidak bicara.


Intan mulai terobsesi, dan mulai mencari tahu bagaimana cara agar bisa menemui Rio.


Ia minta ayahnya untuk memasukkannya ke Amethys University. Ayahnya tentu dengan senang hati melakukannya, karena dipikir Intan sudah sembuh dari depresinya dan mau mulai memikirkan masa depannya.


Tapi saat ia berhasil bertemu Rio... seorang wanita yang sangat cantik memeluk pria itu. Wanita yang sedang hamil besar, dengan aura seorang Ratu.


Intan merasa kalah.


Kalau ia tidak bisa mendapatkan Rio...


Bayi itu yang akan ia dapatkan.


Sebagai ganti Rio, sekaligus anaknya.


Sebuah mobil memasuki lot parkir di sebelahnya, mobil sedan mewah. Dan Dug!!


Intan merasakan moncong mobil itu menyenggol bumper mobilnya.


“Gimana sih nyetir kok nggak pake mata?!” Intan hampir saja keluar dari mobil untuk mendamprat pemilik sedan itu.


Tapi ia segera ingat kalau ia sedang dalam persembunyian. Bisa gawat kalau ia keluar dan menarik perhatian. Ia sedang berpakaian suster dan sedang menggendong bayi, masa dia keluar dari mobil?!


Bayi di gendongannya menangis lagi.


Intan menatap wajah bayi itu. “Cantik sekali kamu Nak. Sedang menangis saja cantik...” Intan mengelus pipi bayi itu. “Kalau masih hidup, pasti anakku juga secantik kamu.”


Setitik air mata jatuh ke pipi wanita itu.


“Andri... aku kangen kamu.” Desisnya.


“Aku ingin mati menyusulmu tapi aku tak sanggup.” Ia terisak.


Intan tidak sanggup untuk berbicara lagi, ia peluk bayi di gendongannya dan ia menangis meraung.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk kaca mobil Intan.


Laki-laki berwajah unik, Tionghoa tapi Arab, entah mana yang benar. Matanya yang cekung yang ada di balik kacamata berbingkai hitamnya itu tampang mengernyit.


Intan tahu, ia tidak mungkin keluar mobil.


Laki-laki ini hanya akan menggagalkan rencananya.


Tapi kalau ia tidak buka kaca mobil akan aneh.


Tingkat kegelapan kaca film di jendela mobilnya 70% jadi orang di luar tahu kalau ada orang di dalam mobil, hanya tidak terlalu jelas melihat ke dalam.


Jadi Intan menghapus air matanya, membuka kaca mobilnya sedikit saja, sekedar basa-basi untuk mengusir laki-laki ini.


“Ya Mas?” sapa Intan.


“Mbak, sori banget, saya nyenggol bumpernya.” Dan laki-laki itu adalah Abbas.


“Nggak papa Mas,”


“Nggak papa gimana Mbak? Penyok banget itu,”


“Nggak apa Mas, saya maklumin.”

__ADS_1


“Coba dilihat dulu deh mbak, nanti saya bawa ke bengkel kalau diperlukan.’


“Nggak usah Mas, saya lagi sibuk nyusuin bayi saya ini.” Kata Intan.


Sang Bayi menangis lagi. Suaranya kencang dan memilukan.


Abbas terdiam,ia menatap seragam suster yang dikenakan Intan.


“Oke Mbak,” akhirnya karena tidak ingin ambil pusing, Abbas pun menjauh.


Ia masuk kembali ke mobil dan memarkir mobilnya di sebelah mobil Intan.


Tapi ia kepikiran. Ada suster, bawa bayi di dalam mobil, dan sedang menyusui bayinya. Bukannya ada nursery room ya di RS? Ini kan RS ibu dan Anak. Tidak perlu susah payah menyusui di mobil dong. Apalagi ia seorang suster, pasti ia banyak pekerjaan di dalam RS. Bayinya bisa dititipkan di penitipan anak selama dia bekerja.


Kenapa jadi terasa ada sesuatu yang salah ya?! Pikir Abbas.


Lalu ponselnya pun berdering. Dari Rio.


“Ya yo,”


“Anak gue diculik.”


Abbas diam.


“Hah? Prank lo nggak lucu.”


“Gue serius. Lo dimana?”


“Parkiran.”


“Parkiran RS?”


“Iya,Parkiran RS.”


“Polisi jaga di pintu masuk ya?”


Abbas memanjangkan lehernya, “Iya, banyak polisi, di pintu masuk dan keluar parkir, Juga di pintu pejalan kaki di depan dan belakang gedung. Gue sempet ngider nyari parkir soalnya tadi, dan karena banyak mobil yang nggak boleh keluar tapi volume yang masuk malah bertambah jadi susah dapet. Jadi gue tahu polisi di mana-mana.”


“Freya diculik pas Iptu Rayhan di sini, jadi polisi mudah dikerahkan.”


Abbas diam. “Y-Y Yo... ini beneran nih?”


“Iya beneran.”


“Kenapa suara lo kedengeran baik-baik saja?!”


“Terus gue harus nangis? Nyelesaiin masalah nggak?”


Abbas menarik nafas. Ini sudah serius masalahnya.


Kenapa harus Freya? Dari sekian banyak bayi yang wajahnya sama. Itu berarti dari awal memang sudah ada yang mengincar Freya.


Dan Abbas pun melirik suster di dalam mobil di sebelahnya. Katanya mau menyusui bayinya tapi kok suara tangisnya malah terdengar kencang?!


“Yo, Gue parkir di sebelah barat, di samping mobil Alya putih plat nomer B 28xx PFx, di dalamnya ada cewek pake baju suster gendong bayi. Gue pake Audi A8L merah.”


“Suster... gendong bayi? Di dalam mobil?”


“Mencurigakan, kan...”


Lalu seketika, polisi yang berjaga di area gedung seakan serentak menoleh ke arah parkiran barat. Lalu setengah berlari menghampiri lokasi Abbas. Tepatnya mobil di sebelah Abbas.

__ADS_1


**


__ADS_2