Rascal In Love

Rascal In Love
Malam Dingin


__ADS_3

Malam itu mendung, dengan hawa dingin akibat gerimis.


Rio selesai mandi dan Anggun menidurkan Freya di box bayinya. Wanita itu berdiri dan berjalan ke arah closet, mengambilkan Rio kaos oblong dan celana training yang biasa digunakannya untuk tidur.


Namun, belum sampai ia berjalan kembali ke arah Rio, pria itu sudah memeluknya dari belakang.


Anggun terkikik karena geli saat Rio mengecup lehernya.


“Kangen meluk kamu kayak gini...” gumam Rio.


“Hm,” Anggun mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Rio. Pria-nya itu selalu berpotongan rambut cepak, terasa bagai beludru di jemari Anggun.


Anggun menoleh ke samping lalu mengecup pelan bibir Rio.


Sesekali ia melirik Freya, bayinya itu masih tertidur. Ia memang membedong Freya untuk kenyamanan agar tidak mudah kaget. Namun kaitannya ia longgarkan agar kaki Freya bisa bergerak dengan leluasa. Tapi tampaknya Freya tidur pulas dengan nafasnya yang teratur.


Anggun merasa tenang, ia segera membalas ciuman Rio yang menuntut.


Tautan lidah pria itu selalu membuatnya kakinya gemetar. Rasanya ia selalu lumpuh saat Rio menggodanya. Sudah sebulan berlalu dan Rio selalu menahan dirinya. Karena Anggun belum selesai masa nifas, dan adrenalin Rio terpacu kuat. Sebisa mungkin Rio menyibukkan dirinya , padahal Anggun bisa-bisa saja kalau diminta melayani suaminya dengan cara lain.


Dan sebulan ini, mereka bahkan tidak berciuman.


Rio takut lepas kendali.


Ia takut jahitan Anggun belum kering, atau Anggun terlalu capek mengurus Freya. Anggun tidak ingin memakai babysitter, jadi semua mengenai Freya diurus sendiri. Mereka sangat beruntung karena Pak Banyu memiliki banyak ART yang sigap membantu Anggun dan Rio. Jadi semua kebutuhan Anggun sudah disiapkan.


Tapi Anggun selalu merasa bersemangat menjalani hari-harinya. Makanya ia siap-siap saja kalau Rio ‘minta’. Tapi ternyata saking cintanya ke Anggun, Rio memilih menahan diri.


Masalahnya...


Setelah semua masalah berakhir dan kondisi membaik.


Anggun terlihat lebih cantik dari biasanya. Mungkin karena perasaan wanita itu sudah tenang.


Rio pun melepaskan ciumannya dan berdiri di depan Anggun, masih dengan handuk tersampir di pinggangnya.


Dengan lembut ia mengangkat tangan Anggun dan mengambil sesuatu di laci lemarinya.


Kotak kecil dari kristal. Di dalamnya ada sekuntum bunga mawar.


“Waaah, cantiknya! Isinya apa?” mata Anggun berbinar.


“Coba buka.” Desis Rio.


Perlahan Anggun membuka tutup kotak itu, kuntum mawar otomatis terangkat, dan kelopaknya terkembang. Di tengah kelopaknya, tersemat sebuah cincin berlian dengan ukiran unik.


Anggun terpekik terpesona melihat cincin itu.


“Coba lihat ukiran di baliknya...” kata Rio.


Di sana, tertulis : My World, Anggun dan freya.


“Aaaaw Riooooo!” Anggun terharu dan matanya langsung berkaca-kaca.


“Nanti kalau Freya punya adik, ganti cincin, ganti grafir.”


“Iiih...” Anggun memeluk Rio dan mengecup bibir pria itu. “Makasih sayang... kalau Freya besar, bisa kuwariskan padanya.”


“Ya kalau bisa jangan untuk dia dong. Kita belikan yang lain untuk Freya. Ini kan punya kamu, sayang.”


“Hehe, aku suka cincinnya, desainnya elegan banget.”


“Dari LSJ.”


Anggun langsung terdiam.


“Hm... dari LSJ.”


Rio terkekeh dan menyeringai. “Iyak, dari LSJ.”


“Adaaaa...” Anggun memutar jarinya.


“Ada.” Sahut Rio cepat. “Makanya kubilang, itu punya kamu.” maksud mereka adalah microchip pelacak.


“Dih Rio kok curigaaaaaan,” rajuk Anggun.

__ADS_1


“Lebih ke trauma sih, takut kamu hilang. Kejadian belakangan ini mempengaruhi mentalku.”


“Ini pasti mahal banget dong?!”


“Diskon kok.”


“Diskonnya pasti mahal ya?”


“Yaaah, tabungan setahun amblas. Uang bisa dicari, pakai jungkir balik nangis darah, nanti aku sungkem ke Pak David minta dikasih kerjaan. Jadi OB juga gapapa lah.”


“HAHAHAHAHA!! OB yang tinggal di rumah gedong!!” Anggun terkakak. “Betewe, aku juga jadi business woman loooh, ini si Cicih jualan tas KW masa devidenku 500% Yang!”


“Kulihat kualitas tasnya bagus-bagus kok, kulitnya lentur.”


“Iya tapi kan nggak asli.”


“Jangan menghakimi Anggun, kamu belum pernah menjadi seperti mereka.”


“Hem... iya kamu benar.”


“Walau pun memang tidak dibenarkan sih.”


“Aku niatnya Cuma bantu cicih jualan.”


“Kalau bantu aku, bisa nggak?”


“Bantu apa?”


“Ini,” Rio membuka handuknya. “bantu lemesin.”


Anggun terkikik sambil mesem-mesem.


“Sudah bisa kan?” tanya Rio.


“Sudah dooong, aku juga kangen ih,”


“Aku cek dulu ya, takutnya jahitannya masih ada.”


Anggun melepaskan pelukan Rio dan duduk di sofa tantra yang ada di dalam closet.


Anggun meloloskan undiesnya, lalu perlahan duduk di lekukan paling tinggi sofa. Dan perlahan merentangkan kedua pahanya. Rio menghampirinya sambil menggigit bibirnya.


Melihat keadaan istrinya yang seakan menantangnya, ia merasa lapar seketika.


Gerakan Rio perlahan, ia agak membungkuk dan menatap Anggun dengan pandangan berkilat. Rangkaian otot yang menegang di sepanjang leher, lengan, dan dadanya adalah visualisasi terbaik untuk Anggun.


Ini suamiku... aku wanita yang sangat beruntung.


Aku mendapatkan Sang Raja Hutan.


Bertekuk lutut di atasku, Sambil berujar,


“Yang mana duluan yang akan kamu persembahkan padaku?”


Anggun menarik nafas tanda gugup.


Rio sudah lama tidak merasakan kehangatan. Pasti pria itu sangat berhasrat padanya.


“Semuanya, paduka. Pilih saja yang mana...” desis Anggun sambil mende sah menggoda Rio.


Ujung ibu jari Rio membelai pinggiran kewanitaannya. Getaran yang membuat kaget menjalar di kulit Anggun.


“Cantik. Bentuknya bagus. Jahitannya hampir tak terlihat...” desis Rio.


“Jangan kamu rasakan, takutnya masih ada sisa nifas. Walau pun ku cek terakhir panty-ku bersih.”


“Hm,” desis Rio sambil mengecup lutut Anggun.


Sejengkal demi sejengkal, sedikit-sedikit, ia sapukan bibirnya ke sepanjang kaki Anggun.


Anggun kembali mende sah sambil reflek menaikkan pinggulnya.


Diperlakukan begitu saja oleh Rio membuatnya basah.


Sebesar itulah rasa cintanya ke suaminya.

__ADS_1


“Nggak butuh effort nih,” Rio menyeringai sambil mengamati bagian tubuh Anggun yang lembab.


“Menurut kamu kenapa?” Anggun mengangkat tangannya dan menarik leher Rio supaya lebih dekat dengan tubuhnya. Bagian tubuh yang tegang menempel erat di kewanitaannya. Terasa hangat dan kokoh, menekan cl1t Anggun sampai wanita itu tersentak.


Begitu hebatnya sensasi saat bersentuhan. Masing-masing saling menggesekkan area paling sensitifnya, seakan saling mengenal sebelum menjelajahi lebih lanjut.


Rio agak menunduk saat Anggun menciumi rahangnya, lehernya, dadanya, sampai sentuhan agak menekan dari pria itu di sepanjang punggungnya, yang terasa begitu sensual. Rio sampai di area bokong Anggun dan ia angkat sedikit agar sesuai dengan posisinya.


Tak ketinggalan, ia mere mas bulatan padat itu. Merang sang libi do Anggun dengan begitu sero nok.


“Pelan-pelan, aku agak tegang...” desis Anggun.


“Mana bisa aku pelan-pelan?”


“Ya kamu usaha-AUHH!!”


Kuku Anggun menancap di sepanjang lengan Rio saat dengan satu hentakan e rotis pria itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Oooh Anggun sayang...” Desis Rio sambil memeluk Anggun dengan erat. “Akhirnya, sayaang...” ia menahan tubuh Anggun yang langsung limbung dan kembali masuk dengan erat. Ia bertahan di dalam sana beberapa saat sampai wanita itu bisa sedikit rileks.


“Kamu masih rapet seperti dulu.” Bisik Rio memuji kemolekan tubuh istrinya.


“Kami memang memiliki elastisitas yang bisa disesuaikan dengan pasangan. Apa bukan milikmu yang terlalu besar?” Anggun mengecup leher Rio. Menyesapnya dan sedikit menggigitnya. Membuat tanda merah seksi di sana.


Rio terkekeh dan mulai menggerakkan pinggulnya sedikit. Anggun mende sah, Rio  mencari spot agar otot Anggun tidak mengganjal miliknya.


Setelah tubuh istrinya sepenuhnya menerimanya.


Ia mulai bergerak. Ia cabut sampai setengah ukuran, lalu ia dorong masuk dengan kencang. Ia tancapkan sepenuhnya sampai anggun mengerang.


Dan berkali-kali ia bergerak, sampai Anggun memeluk tubuhnya dengan erat.


Tapi tidak, ini baru permulaan. Setelah beberapa menit ia cabut, dan ia balik tubuh Anggun sampai dalam posisi menungging. Kejadiannya sangat cepat. Ia masukkan kembali area jantannya, lalu ia dorong sambil ia remas bokong Anggun.


Rio melakukannya sambil mengeluh dan mendesis. Saking merang sangnya tubuh Anggun ia bergerak bergairah. Anggun sudah tidak ingat lagi apa saja yang ia teriakkan, Anggun hanya bisa berpegangan pada pinggiran sofa sampai merem-melek.


Tapi rupanya Rio bisa mengerti kesulitan Anggun menstabilkan tubuhya. Masalahnya kepalanya lebih rendah dari bokongnya, bisa-bisa Anggun tergelincir ke bawah.


Jadi, Rio menghentikan gerakannya, lalu ia raih kedua tangan Anggun dan ia ikat ke belakang punggung wanita itu. Ia ikat dengan tangan besarnya.


“Rio, Rio jangan Sayang, aku bisa-“


“Sssh...” desis Rio menenangkan Anggun.


“Rio aku bisa langsung pingsan!!”


“Nanti kubangunkan kalau Freya nangis."


“Rio, pliss OOOHHH!! Riooo!!” Anggun menjerit saat tubuhnya tanpa pegangan, dengan tangan terikat ke belakang dan tubuhnya ditegakkan, Rio masuk dan menghantam spot nya berkali-kali.


Berulang kali sampai benak Anggun seakan melayang. Anggun tidak bisa berpikir apa pun. Suasana sangat panas dan menggelora. Bahkan Asi Anggun sampai menetes deras, keluar karena rangsangan.


Dan Rio mendengar suara Anggun yang parau malah semakin terang sang. Ia malah bergerak semakin cepat.


Anggun hanya bisa pasrah menghadapi bira hi suaminya.


Malam itu dingin.


Tapi di dalam kamar, gerah dan bergolak.


**


Dengan hati-hati, Rio mengangkat Anggun dari bathtub dan meletakkan  wanita itu di sofa yang sudah ia alasi dengan handuk tebal.


“Aku marah pokoknya.” Gumam Anggun lemas.


Sekaligus sangat malu.


Tubuhnya penuh cairan kewanitaan bercampur urine, bercampur lagi dengan Asi. Tapi saat Rio selesai, Anggun sangat lemas sampai tak mampu menggerakkan tubuhnya yang terasa letih.


Jadi Rio harus membopongnya ke bathtub untuk memandikannya dengan air hangat.


“Iya, besok kubeliin donat.” Kata Rio.


"Sip!” gumam Anggun sambil langsung tertidur.

__ADS_1


__ADS_2