
Siang itu, Anggun baru dapat melihat secara langsung sosok suami Isma dan ibu mertuanya.
“Ini apa Bu?” tanya Isma.
“Ini susu kambing campur madu, kamu kan ASI nya tak keluar. Masa kamu biarkan dia menangis kelaparan? Ini minuman bagus untuk kesehatan, sini ibu beri ke anakmu.”
“Tapi bu, Isma baca dari Instagram kalau bayi itu tidak boleh diberikan asupan apa pun selain ASI, nanti bisa-“
“Kamu ini! Ibuk ini sudah membesarkan 6 orang anak salah satu suamimu sendiri! Pengalaman ibuk sudah lebih banyak dibanding kamu! Ibu urusin semuanya sendiri dari mereka orok loh!”
“Bu, aku masih ragu deh,”
“Udah kamu diam saja, ibu tahu yang terbaik! Kamu itu baru sehari jadi ibu-ibu aja udah sok tahu mau ngajari-“
Dan Anggun pun menekan tombol emergency.
Beberapa detik kemudian, seorang suster menghampiri kamar itu dan langsung menghampiri bilik Anggun.
“Ya Bu Anggun? Bisa dibantu?” tanya Sang Suster, tampak ramah dan berbeda perlakuan mereka dibanding dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin karena sepak terjang Anggun sejak semalam cukup terpatri di benak para Suster.
“Itu Sus,” Anggun menunjuk bilik depannya. “Yang butuh bantuan ibu-ibu di depan saya ini, karena ibu Mertua bersikeras bayinya harus minum Susu Kambing campur Madu karena ASI ibunya belum keluar.” Kata si Anggun sambil menuding bilik depannya.
“Hah? Susu kambing campur Madu?!” Sang suster langsung menoleh ke arah bilik depan, dan menatap botol susu dengan isi cairan kekuningan yang sedang disuapkan ke mulut si bayi berusia beberapa jam itu.
“Astaga!! Tidak boleh Bu!!”jerit si Suster.
“Ah! Anak-anak saya nggak papa dikasih ginian dari lahir! Buktinya sehat-sehat saja sampai besar!” Omel si Mertua, suaranya terdengar sampaike keluar kamar.
“Ya makanya angka kematian bayi di jaman ibu dulu lebih besar jumlahnya dari jaman sekarang! Statistik menunjukkan terjadi penurunan angka kematian bayi sebesar 90% dari tahun 50an! Ini baru yang kelahirannya terdaftar di puskesmas loh bu, belum di pelosok desa-desa!” sahut Susternya sambil mengambil botol susu itu dari tangan si mertua.
“Suster jangan lebay deh! Si Isma aja yang kurang subur! Sok-sok’an pakai operasi sesar segala makanya ASInya nggak keluar!” si Ibu Mertua merebut kembali botol susunya.
“Selama masih ada di lingkungan rumah sakit, kami TIDAk mengizinkan dilakukan hal-hal di luar prosedur! Termasuk memberikan Susu Kambing pakai Madu! Atau pun makanan dan minuman yang lain, selain ASI dan sufor ya ibuuuuu!”
__ADS_1
“Kami ini bayar mahal di sini malah diperlakukan seperti ini?! Waaah nggak beres nih rumah sakit!!”
“Hey, berisik! Yang bayar mahal di sini bukan hanya Anda, kami yang kebrisikan juga bayar mahal! Sampai ibu memberikan segala macam minuman aneh-aneh ke bayi di depan mata saya, saya akan mencap ibu mertua ini sebagai Tersangka Percobaan Pembunuhan ya Bu! Saksinya saya.” Kata Anggun kalem, sambil makan keripik.
“Dan Saya!” Ibu mertua di sebelah Anggun juga berujar. “Saya bersedia bersaksi kalau terjadi hal yang tidak beres dengan bayi itu.”
“Ya, saya juga!” Ibu-ibu di depan sana juga berujar. “Paksu gimana? Kok diam saja kayak nggak punya taring? Anakmu lagi disiksa sama ibumu sendiri loh Paksu!”
“Ya gimana, dia kan ibu saya,”
“Jadi dirimu oke-oke aja nih kalau anakmu disiksa? Waaah, laki kok nggak beres. Nyesel saya satu kamar sama keluarga ini.” Desis salah satu ibu-ibu.
“Isma.” Panggil Anggun. “Itu anakmu, kamu yang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. Bukan ibu mertuamu, bukan Suamimu. Kamu yang berhak menentukan apa pun yang terjadi dengan anakmu. Kami kembalikan padamu, Isma.”
“Ya mbak, kalau di sini aku aman, tapi kalau pulang ke rumah bagaimana nasib aku mbaaak, aku tinggal masih satu rumah dengan mertua.”
“Terserah kamu mbak, jangan tanya ke kami. Kamu tahu sendiri resikonya, kamu yang bertanggung jawab terhadap semuanya. Nantinya kamu yang akan disalahkan. Berpikir mbak, Mending disalahkan atau diusir? Kamu yang bisa menjawab sendiri.” Kata ibu-ibu mertua di samping bilik Anggun.
Anggun berhela nafas. “Saya nggak habis pikir. Kok adaaaaa ya Mertua yang tega-teganya sama bayi baru lahir cucunya sendiri loh. Benar-benar hatinya dimana? Jahaaaattt sekali manusia di depan saya ini. Sementara mertua yang lain menyayangi cucunya sendiri lebih besar daripada anak-anak kandungnya loh, Lah kok ini kok malah ngasih Susu kambing pakai madu. Tak terbayang kalau sudah di rumah itu bayi dikasih pisang dan nasi kayaknya. Waduuuuh tegaaa sangat! Jahatnya luar biasa manusia model begini. Semoga kita dijauhkan dari mertua seperti ini ya ibu-ibu...”
“Aaamiiin”. Seru semua serentak.
Bu Isma pun merebut bayi mungil itu dari gendongan mertuanya.
“Ini anak saya. Kalau ibuk mau kasih susu kambing, silakan berikan ke anak ibu sendiri. Tuh Mas Saiful ada, silakan kasih susu kambingnya, ini dotnya masih ada!” kata Bu Isma. “Dan Mas, Kamu mengecewakanku sekarang. Di saat aku bahkan menyerahkan nyawaku untuk anak kamu sendiri! Kamu bahkan tidak bisa menengahi antara ibumu dan aku!”
“Isma, kamu kan harusnya tahu kondisinya, tidak bisa semudah itu, Tidak bisa kamu telan bulat-bulat provokasi orang! Mereka kan tidak tahu kondisi keluarga kita! Kamu sendiri kan belum menghasilkan susu!” kata Pak suaminya Bu Isma.
“Ya kamu kan bisa beliin aku sufor! Untuk anak kamu sendiri saja masa pelit sih? Apa aku harus tes DNA?!”
“Kalau kamu nggak nurut sama ibuk, kamu nggak usah tinggal di rumah ibuk!” kata bu Mertua.
“Bu! Rumah itu kan milik mas Saiful! Kan Mas Saiful sudah balik nama dari nama bapak!”
__ADS_1
“Ya Saiful kan anak kandungku! Kamu kan hanya istri! Kamu orang lain bagiku!” hardik ibu mertua.
“Ibu begitu menyayangi Mas Saiful, harusnya ibu mengerti keadaanku!” sahut Isma.
“Kok perangai kamu jadi berubah sih Isma?” Tanya Paksu yang namanya Saiful.
“Kalau menyangkut anakku, aku nggak mau sabar-sabar lagi ya Mas! AKu akan berikan diirku untuk keselamatannya!” sahut Isma.
“Isma! Aku ini capek-capek kerja cari duit! Jangan dibebankan urusan rumah tangga lagi dong! Itu urusan kamu sebagai perempuan! Rumah tangga itu kerjaan kamu! Kamu yang harusnya bisa pegang semuanya! Dan kamu itu pendatang di rumahku harusnya kamu nurut sama orangtua!” sahut Saiful.
“Waduuuh kasus nih!” seru semuanya.
“Ribut-ribut apa sih?” Pak Banyu, masuk ke kamar Anggun dan mengangkat alisnya saat melihat paksunya Bu Isma. “Loh? Saiful? Istri kamu akhirnya lahiran di sini juga? Katanya mau dibidan?”
“Eh? Pak Banyu? Kok bapak di sini?” Saiful langsung gelagapan.
“Mau nengok anak saya. Ini anak saya...” Pak Banyu mengelus kepala Anggun.
“Wuuuuh,” terdengar seruan para ibu-ibu tim sukses Isma. Sementara Saiful dan si Ibu Mertua jadi tegang. Pria itu tidak mengira anak konglomerat, dari CEOnya di kantor yang hartanya ratusan Miliar bisa menginap di kamar kelas II saat melahirkan, sekamar dengan istrinya pula.
“Siapa Pah?” tanya Anggun.
“OB di kantor Papah,” kata Pak Banyu.
Lalu semua menatap ke arah Saiful. Anggun langsung tersenyum sinis.
“Pah, ada lowongan nggak buat istrinya Mas Saiful ini? S1 Manajemen, pernah kerja jadi supervisor di retail.” Desis Anggun sambil tersenyum lebar.
“Lah, kalau dia kerja, bayinya gimana?” desis Pak Banyu.
“Titipkan saja di rumah kita saat ia bekerja, ART Papah kan kebanyakan!”
Mungkin saja, anak laki-laki yang kerap muncul di mimpi Anggun adalah Adya.
__ADS_1