Rascal In Love

Rascal In Love
Penculikan JJ (3 of 3)


__ADS_3

BRAKK !!


Pintu itu bagai di dobrak dari luar dengan paksa.


Rio muncul di sana sambil terengah-engah. Pelipisnya tampak terluka dan memar.


“Woh! Lo berdua beneran ada di sini ternyata!” seru Rio takjub.


“Kenapa lo bisa di sini?!” jerit Junot senang. Ia begitu lega melihat sahabatnya ada di depannya.


“Pelacak di gelang Jenny kehubung ke gelang gue...” desis Rio terkekeh sambil melepaskan ikatan Junot.


“Telat banget datangnya Bambang,” gerutu Jenny sambil mengerang kesakitan.


“Semua kepancing untuk datang ke rumah Pak Kinto, tapi gue lacak malah balik arah ke Jawa! Ke rumah ini! Ke tambang ini... gila siapa yang nyangka lo berdua di sekap di proyek bermasalah!” seru Rio senang.


“Gue pikir itu gelang couple, dan lo selingkuh sama Jenny...” gerutu Junot.


“Itu memang gelang Couple, dan harusnya yang nerima bukan gue!” Rio menoyor dahi Junot. “Di plakatnya ada nama lo dan Jenny! Lo nya sih malah cari perkara!”


“Gerak-gerik ni cewek mencurigakan dari awal! Ya jelas gue cari perkara!” seru Junot sambil membuka ikatan Jenny.


“Siapa sih yang kamu omongin...” desis Jenny. Ia sudah mulai pusing karena kehabisan darah.


“Tetap sadar, kalau kita selamat, jangankan pacaran. Tunangan juga aku mau aja!’ sahut Junot.


“Okeh! Aku usahain sadar.” Kata Jenny cepat.


“Masalahnya bagaimana cara gendong-“


“Yuk kita keluar dari sini...” Rio sigap menggendong tubuh Jenny dan keluar dari ruangan itu.


Junot hanya menatap mereka dengan kesal.


Sekali lagi gue dibully karena badan kayak sailor moon. Terlalu ringkih.” Dengus Junot.


**


Namun belum sampai mereka ke arah pintu keluar, dari dalam tambang dan dari berbagai ruangan, banyak orang yang berlarian ke arah mereka.


Rio meletakkan Jenny di lantai dekat lemari jati besar.


“Lo nggak bisa ngelawan mereka sendirian!” seru Jenny mencoba mencegah Rio.


“Setidaknya gue coba...” desis Rio sambil merenggangkan tubuhnya dan mengkretek jari-jari tangannya.


DUAGG!!

__ADS_1


Beberapa orang yang menyerang Rio terpelanting ke udara dan jatuh membentur lemari jati di sebelah Jenny.


“Jantannya kelewatan ini sih...” gumam Junot agak sebal. Dia sebenarnya khawatir dan ingin membantu, tapi kenapa sepertinya Rio tak butuh bantuan ya?!


Tapi kemudian, beberapa orang lagi muncul dari berbagai arah sambil mengacungkan senjata tajam.


Sementara Rio hanya tangan kosong.


Sejenak Rio terdiam karena bingung, ia memutuskan akan berkelit saja saat mereka melayangkan libasan,  menghindar sambil mencari-cari benda keras yang  bisa dijadikan senjata di dekatnya. Namun entah bagaimana tak ketemu, mungkin karena panik.


“Rio!!” Jenny berseru dan melemparkan golok dari tubuh terkapar yang ada di dekatnya. Rio menangkap golok itu dengan sigap, pas tepat di pegangannya.


Bertepatan dengan itu, penyerang di depannya menyabet Rio dengan celurit, namun karena golok sudah di tangannya, seketika Rio melayangkan senjata itu dan


BASH!!


Pergelangan tangan si penyerang pun mengucurkan darah segar.


Teriakan kesakitan menghiasi ruangan. Penyerang 2, 3, 4 dan ada 10 orang lagi serentak menyerang Rio.


Sementara darah di paha Jenny semakin deras mengucur.


Junot secepat kilat mengambil lakban yang tadi digunakan untuk mengikatnya, lalu mengambil lempengan batu pipih di sekitarnya. Ia ikat batu itu mengitari betisnya, dan lengannya, lalu ia ambil linggis dan berlari menuju arena.


Tepat saat sebuah Golok diacungkan ke perut Rio, Junot menendang tangan orang itu dengan kakinya, lalu memukul kepala si penyerang dengan linggis.


Junot bisa merasakan retakan di batu, akibat ayunan si penyerang sangat kuat.


Tapi setidaknya ia jadi bisa mengayunkan linggisnya ke rahang si penyerang.


Junot si pemuda imut, pukulannya memang tidak terlalu kencang, namun ia sangat gesit. Karena ukuran tubuhnya yang ringan, ia bisa bergerak lebih cepat dari pria yang tubuhnya besar. Dipadukan dengan Rio yang memiliki tenaga setara singa dewasa, sudah pasti mereka partner berantem yang tak terkalahkan.


Ditambah, sejak mereka kelas 11, saat mereka kalah tawuran dan Pak Artha menghukum Junot, pemuda itu mengambil kelas Taekwondo bagi profesional. Ia tidak ingin kalah lagi. Karena tubuhnya yang mungil ini menjadikannya kaum lemah, tidak sebanding dengan teman-temannya. Paling tidak, kalau ada sesuatu yang terjadi, Junot bisa melindungi dirinya sendiri dulu.


Di saat mereka bekerja sama melakukan pembelaan diri dan pembalasan, Namun ternyata... ada penyerang lagi yang bermukim di lantai atas.


Ia mengincar kepala Rio dengan senapan laras panjangnya.


Sementara arena bawah menjadi ajang pertarungan 2 lawan banyak. Tidak imbang seharusnya tapi mukjizat hampir semua penyerang dapat tumbang tak berdaya.


Oleh karenanya si penembak jitu turun lapangan.


Ia bermaksud melancarkan aksinya dari jarak dekat.


Rio menangkap tangan Junot, lalu mengangkat tubuh pemuda mungil itu, dan melentingkannya di udara. Kaki Junot mengenai tubuh penyerang terakhir dengan keras sampai orang itu terpelanting membentur tumpukan batu di dekat sana.


Junot mendarat di lantai sambil terperangah.

__ADS_1


Lalu ia menatap Rio dengan kening berkerut. “Yo! Lu beneran... astaga keki banget gue!!” seru Junot kesal.


“Wakakakak apa sih Not?!” Rio malah geli sendiri.


“Barusan lo jadiin gue baling-baling bambu wey!! Lu kalo mau ngecengin gue jangan begitu-begitu amat dong! Main angkat-angkat saja sih!!” Seru Junot sambil memukul bahu Rio.


Tawa Rio semakin kencang.


“Ya bagaimana Cuy!Lo pake batu di kaki lo kan efektif kalo kena kepala! Ya gue reflek Not, Sori hahahaha!!”


“Nggak usah ketawa, anjir basi banget!!” Junot masih misuh-misuh.


Mereka kira semua penyerang sudah habis, tapi...


BRAKK!!


Sebuah tubuh meluncur turun dari lantai dua.


Langsung jatuh membentur lantai keras itu.


Kepalanya membentur dasar lebih dulu, darah langsung muncrat ke mana-mana.


Rio dan Junot sampai terperangah melihat adegan itu. Mereka tak mengira masih ada orang di lantai atas.


Dan orang itu memegang senapan.


Dengan peredam pula!


“Anjrit...” gumam Rio dan Junot berbarengan. Mereka menatap ke lantai atas, lalu ke jasad penuh darah itu, ke lantai atas lagi, lalu ke bawah lagi.


Telat sedetik saja kepala mereka bisa hancur.


Tapi... kenapa si sniper bisa terjun dari lantai dua?!


“Kok... ada orang?”


“Bukannya lantai dua sudah gue kosongin tadi ya?”


“Lo liat senapannya deh, dia sniper cuy...”


“Itu lantai duanya lumayan tinggi... kayaknya dia bukannya mati gara-gara jatuh Not. Ada bekas tembakan di jidatnya...” Rio mendekat dan menunduk sambil memicingkan matanya.


Reflek, segera mereka menengok ke arah Jenny.


Gadis itu duduk bersandar sambil terengah-engah. Di tangannya ada Beretta yang tampak masih terjalin di jemarinya yang lentik.


“Peluru nya habis deh... hehe,” desis Jenny sambil terkekeh tipis.

__ADS_1


Lalu tubuhnya limbung dan ia pun terkulai tak sadarkan diri.


__ADS_2