Rascal In Love

Rascal In Love
Penculikan JJ (1 of 3)


__ADS_3

Tapi...


Seperti yang sudah di duga... belum sampai Singapura, tragedi pun terjadi.


Sore itu Rio pamit pulang karena harus mendampingi Anggun dan Adinda di rumah sakit. Tentu saja ia akan dikawal secara ketat. Junot sedang ngemil sambil browsing lewat laptopnya dan Jenny duduk di sampingnya sambil mengurusi tugas kuliahnya.


Tampak mata Jenny yang besar memicingkan mata saat ia sedang membuat konsep sebuah logo, maskot untuk produk air mineral terkenal. “Dari depan bagus tapi pas dari samping kenapa tetesan airnya jadi kayak benih laki-laki begini yak, wekekekek,” ia terkekeh sendiri saat menampilkan hasil kerjanya.


“Benih laki-laki, bilang saja sper m4, bersahaja sekali ya Anda.” desis Junot.


“Ditambahin ekor agak panjangan jadilah kecebong...” gumam Jenny sambil mencoret-coret layar drawing padnya. “Pusing dah gue. Mentok...” dan dia ngedumel sendiri sambil garuk-garuk kepala.


“Jeje, gue balik duluan,” desis Rio sambil mengacak-acak rambut Junot.


“Jeje siapa coeg?!” desis Junot.


“Ya lu berdua lah, hehe,”


“Gue nggak rela, sumpah.”


“Udah sana habisin Hello Panda lo. Ketahuan Anggun bisa dipalakin lo,”


“Ya nggak usah ngomong-ngomong.”


“Mas Rio, aku mau ngomong...” sahut Jenny sambil meletakkan laptopnya dan berdiri. Lalu ia merangkul bahu Rio dan menuntunnya keluar ruangan.


Sejak kapan Jenny dan Rio akrab? Begitu batin Junot.


Jawabannya... ya ini pertama kalinya mereka berinteraksi.


“Mau apa, neng?!” tanya Rio setelah mereka di depan lift. Di sekeliling mereka banyak berjaga bodyguard namun mereka berdiri agak jauh.


“Junot mau ketemu bapakku.” Desis Jenny.


“Untuk apa?”


“Entahlah apa maksudnya, tapi aku nangkepnya dia itu ingin memastikan mengenai identitas diriku ke papah. Masalahnya papah di Singapur dan Junot maunya ketemu langsung.”


“Kau iya-in?”


“Ya iya. Aku udah pesen Jet segala.”


“Gampang bener kamu dibegoin junot, hehe.”


“Bukannya aku nggak tahu maksudnya di balik itu. Ini kode untuk mengetahui aku serius dengan perasaanku atau tidak.”

__ADS_1


Rio menyeringai semakin lebar. “Bukan, Jen. Sebaliknya.”


“Sebaliknya bagaimana?”


“Dia ingin kamu menjauh, sebenarnya. Di saat seperti ini dia malah minta ke Singapur? Itu bukan tipikal Junot. Dia itu adalah anak yang paling berhati-hati dalam setiap langkahnya. Dia pikir kamu bakal tolak tawarannya. Ternyata kamu iya-in. Kamu nekat ya?”


“Hah...? Begitu ya?!”


“Ah, elah, Jenny, Jenny. Kamu ini jatuh cinta tapi kamu malah nggak tahu siapa Junot sebenarnya. Dia nggak sepolos itu, Jen. Malah aku lebih percaya pendapatnya dibanding yang lain kalau soal menentukan pilihan.”


“Mas, aku ingin dia mengakuiku.” Kata Jenny. “Jadi aku akan ambil tantangannya.”


“Yaaaah.” Rio berkacak pinggang, lalu ia menatap ke arah jendela.


Langit sudah mulai gelap. Anggun pasti khawatir dengannya.


“Mas Rio. Aku punya gelang couple. Di dalamnya ada pelacak. Boleh ya Mas Rio pakai. Kalau kami tak kembali aku harap Mas Rio mau mencari kami.”


“Gelang couple?! Kamu ini...”


“Please Mas, dipakai. Hanya sampai kasus ini selesai. Anggun pasti akan mengerti kalau Mas Rio yang jelaskan. Terus terang aja kami ke Singapur pasti harus diam-diam, Mas.”


Rio menatap para Bodyguard yang berjaga.


Ia sendiri saat ini belum tahu siapa kawan siapa lawan. Semudah itu antek Kinto menyamar menjadi Cleaning Service, maka bisa saja salah satu dari mereka jadi Bodyguard.


Apa yang ada di gelang itu?


Akan dijelaskan di Bab selanjutnya.


Yang pasti, malam itu, saat semua tertidur, Jenny diam-diam masuk ke kamar Junot. Maksudnya ruangan dadakan di area kantor Pak Artha yang dijadikan kamar Junot.


**


“Junot...” Jenny mengguncang-guncangkan tubuh Junot.


“Hm? Ngapain kamu di sini sih? Kamar pengawal di seberang sana...” keluh Junot sambil malas-malasan. Ia memicingkan mata dan berusaha duduk sambil mengucek matanya yang perih.


“Katanya mau ke Singapur. Jetnya udah siap.”


“Hah? Passportku kan di rumah Jen!”


“Sudah diambil barusan. Aku minta tolong orang dari PI.” Jenny menyerahkan sebuah pouch dari desainer dan meletakkannya di depan Junot. Pouch milik Junot.


“Pakaianku?”

__ADS_1


“Nggak perlu nanti kita beli saja. Toh aku rencana besok pagi sudah balik lagi ke sini kok.”


“Berasa gampang banget!”


“Kalau ada uang apa pun mudah, kan? Ini kan mau kamu. Aku hanya mengusahakan.”


Junot mencebik untuk mengejek Jenny. Ia kemakan omongannya sendiri. Nyatanya Jenny bukannya menjauh malah makin lengket. Mana nekat pula nih cewek.


“Kan bisa habis kasus ini selesai, Jennifer Avramm.” Decak Junot.


Jenny menghela nafas dan menyampingkan poni di dahi Junot. Rambut pemuda itu dicat pirang. Dan di balik poni itu ada alis tebal yang unik dan bulu mata yang lentik. Mata Junot sayu dengan manik coklat yang menawan.


Jenny memang sebenarnya sudah lupa dengan wajah anak SD yang digigit anjing saat itu. Jenny hanya ingat seragamnya merah putih dan berdarah-darah, terkapar di atas aspal dalam posisi terlungkup.


“Melihat kamu yang hidup dengan selamat dengan sosok seindah ini... rasanya aku nggak sanggup menunggu lebih lama lagi. Kamu tahu saat bertemu kamu di lapangan kampus pagi itu, aku diliputi kelegaan yang luar biasa. Bahwa kamu nggak mati. Rasanya aku sampai tidak bisa menahan diriku untuk meraih kamu.” Desis Jenny.


Junot diam dulu.


Ia ingin tahu hal apa lagi yang akan diungkapkan Jenny.


“Sejak aku dapat tugas dari Om Artha, aku mulai mengamati kamu. Kalian sekeluarga masih ke gereja yang sama dengan saat kita kecil dulu. Lalu kegilaan kamu ke motor bodong lumayan mengagetkanku. Kamu lebih ahli di mekanik ya ternyata dibanding komputer. Tampang imut kayak cosplayer tapi hobbynya manly.” Kata Jenny sambil tersenyum dan memperhatikan Junot.


Kali ini Jenny tidak maju dan ‘menyerang’ Junot. Ia hanya  duduk di pinggir ranjang Junot.


Jadi perasaan Jenny timbul karena... rasa bersalah.


**


Dan seingat Junot, terakhir mereka memasuki mobil dan dalam perjalanan menuju bandara.


Setelah itu ia tak ingat lagi, dan malah terbangun di ruangan asing yang berantakan seakan di dalam sebuah toko bangunan.


Banyak material berserakan di sekitarnya.


Dan kepala Junot sangat pusing.


Dengan matanya yang buram dan perih, Junot bisa melihat kalau Jenny juga dalam keadaan terikat di kursi sepertinya, namun ia sedang berteriak ke pria sangar di depan mereka.


Jenny tampak sangat marah.


Bahkan meludahi wajah si Pria.


Junot mengelengkan kepalanya untuk mengumpulkan oksigen, agar kesadarannya segera pulih.


Ia masih bingung apa yang terjadi.

__ADS_1


Dan ia jadi lebih bingung lagi saat melihat... pria sangar itu mencabut laras pendek dari pinggangnya, dan menembak paha Jenny.


__ADS_2