Rascal In Love

Rascal In Love
Rencana Junot Yang langsung Gagal


__ADS_3

Saat Junot kembali ke kantor ayahnya, Rio sudah ada di sana, bersama dengan IPTU Rayhan dan Pak Banyu. Junot menyapa Rio dan bertanya, “Gue perlu tahu atau nggak?”


Rio pun menatap ke arah Pak Banyu. “Karena sudah merambah ke keselamatan lo, rasanya gue harus kasih tahu. Lo ingat waktu gue lama nggak masuk sekolah?”


“Iya, katanya lo ditangkep polisi. Dan mendekam di penjara. Gue dan anak-anak sampai-“ lalu Junot berhenti. Dan menatap Iptu Rayhan. Ia lupa kalau perihal jaminan yang dikumpulkan Geng Savage harusnya rahasia. “...khawatir.” hampir saja dia keceplosan.


“Ingat nggak waktu Anggun juga waktu itu nggak masuk sekolah lama. Dan tahu-tahu kami sudah menikah?”


“Iya, kita pikir kalian menikah karena Anggun sudah hamil duluan. Tapi sungguh, Rio. Itu urusan keluarga lo. Kita nggak menghakimi macam-macam yang penting kalian saling menyayangi.” Buru-buru Junot menambahkan.


“Nah, kejadian itu ada hubungannya sama Pak Kinto dan Ikhsan. Terutama Ikhsan. Si Ketos itu.”


Saat Rio berbicara mengenai Ikhsan, raut wajahnya keras, tapi tangannya terkepal dengan kuat. Junot bisa merasakan aura mencekam langsung mengelilingi Rio.


“Not, singkatnya, saat itu Ikhsan merencanakan pembunuhan terhadap Anggun dengan menyewa sindikat penculik, Anggun dilecehkan oleh mereka, dan kebetulan waktu itu gue yang memergoki kejadian itu. Gue Alhamdulillah bisa nolongin Anggun. Kasus itu berakhir damai dengan Pak Kinto membayar sejumlah uang sangat besar kepada Anggun. Lalu Ikhsan diasingkan keluar ngeri, Pak Kinto juga merelakan sejumlah perusahaannya dijual untuk membayar ganti rugi. Dan gue sebenarnya sudah lama menikahi Anggun. Tapi kami bisa tetap bersekolah karena ada dispensasi dari menteri pendidikan dan menteri agama.”


Saat mendengar cerita itu dalam satu paragraf saja, Junot sekilas berpikir kalau Rio sedang bercerita isi manga (komik) terbaru.


Tapi saat melihat benang merah dari runutan kejadian, seketika Junot merasa kalau semua ini nyata adanya.


Ia jelas tidak bisa berbicara apa pun.


Ia hanya diam.


Tapi tangannya gemetaran.


“Papah tahu?” tanya Junot dengan suara seakan tersedak.


“Papah tahu, dan 12 Naga tahu karena Kinto memiliki banyak proyek dengan kami. Tentu kami harus tahu yang terjadi di balik ini. Makanya...” Pak Artha menepuk-nepuk bahu Rio. “Untuk memiskinkan Kinto supaya dia tidak bisa lagi kembali ke negara ini, kami mengambil alih seluruh asetnya. Dan Papah kebagian hal yang paling Kinto pertahankan. Tambang Emas...”


Junot sampai limbung dan berpegangan ke meja agar dia bisa tetap berdiri.


Ini serius...


Kasus ini serius.


“Sampai sebulan lalu Papah belum bilang ‘Iya’. Dan rencananya tanah itu mau dieksekusi Prabasampurna. Namun karena Banyu Rejoprastowo di sana menjabat sebagai Direksi, maka bisa dibilang konflik kepentingannya terlalu kentara. Jadi ya sudah, Papah kalah suit.”


"Dan saat itu Papah menghubungi Jenny? awalnya bagaimana?"


"Avramm sedang garap proyek dengan Papah dan dia cerita kalau anaknya magang di perusahaan Private Investigator and Security. Sambil ambil kuliah di Amethys."


"Kebetulan yang mengerikan."


"Jenny sempat menolak." Pak Artha melirik Jenny.

__ADS_1


Junot menatap Jenny dengan pandangan bertanya.


Jenny hanya tersenyum, tapi tak menjawab.


“Papah akan berhadapan dengan banyak mafia.” desis Junot lagi, tak ambil pusing kenapa Jenny sempat menolak. Ia seakan menyimpulkan Jenny akhirnya menerima pekerjaan itu karena jenjang karier akan lancar, dan tentunya uang bayaran yang sangat besar.


“Iya... banyak yang memiliki kepentingan atas tambang itu, Apalagi banyak sekali pekerja ilegal. Kalau dipegang perusahaan, dengan saham 50:50 dengan pemerintah, mereka akan kehilangan pekerjaan. Sekali mendulang emas mereka bisa mendapatkan sekitar 50 sampai 300juta’an. Uang segitu akan membuat mereka bertindak nekat. Karena kalau proyek ini terlaksana, hilang juga mata pencarian mereka.” Jelas Pak Artha.


“Kenapa dulu Pak Kinto memperkerjakan penambang ilegal? Ia tidak bekerja sama dengan pemerintah?” tanya Rio


“Karena untungnya akan sangat besar kalau bekerja sendiri. Ya memang tambang itu berdiri di atas tanahnya. Lebih tepatnya, di atas sana dibangun rumah. Dan di dalam rumah itu ada tambang. Jadi pemerintah tahunya itu rumah. Belakangan tercium saat Kinto menjadi warga US. Dan saya... memiliki piutang dengan Kinto. Untuk pembayaran 120 miliar kompensasinya ke Rio, Kinto berhutang pada saya. Perjanjiannya tidak usah kalian ketahui, bisa runyam. Intinya Kinto ingin perjanjian itu batal. Saya tidak mau. Dan banyak preman yang tiba-tiba berseliweran di sekitar Junot dan Wana.” desis Pak Artha sambil menggelung rambut panjangnya ke atas kepala.


“Keluarga Rio juga terancam termasuk keluarga Iptu Rayhan. Anggun dan Adinda dalam proses pemindahan ke Garnet Medical Center, lalu kamu... baik-baiklah di sini bersama Jenny.” Kata Pak Artha.


Junot masih diam.


Lalu Jenny mendekat dan mengulurkan minuman kaleng ke depan Junot.


Junot menerimanya.


“Percayakan Junot dan keluarga Mas Rio ke saya Om. ‘Layout’nya akan kami perbaiki...” kata Jenny sambil tersenyum


Ternyata selama ini, layout yang ia maksud tidak berhubungan dengan desain multimedia apa pun. Tapi semacam rencana A, B, dan C yang akan diambil untuk mengamankan Junot. Makanya kemarin Pak Artha bilang dia nggak sreg dengan layoutnya, itu karena Jenny minta Junot tetap berkuliah seakan tak terjadi apa-apa untuk memancing si pembunuh bayaran muncul. Tapi untuk itu memang butuh banyak bodyguard. Hal itu dirasa Pak Artha akan sangat mencolok. Untuk menghemat pengeluaran karena memang Pak Artha agak medit, ya akhirnya semua dikumpulkan di satu area.


“Neer,”


“Bro, lo nggak papa? Kata Rio gara-gara proyek Om Artha semua dalam bahaya.”


“Kita nggak papa, lo jangan keluar rumah dulu kalo nggak penting-penting banget Neer.”


“Gue dibilangin nyokap tetap di rumah atau di samping bokap. Ya kebetulan sih jadi nggak kuliah. Hehe. Lagian Pak Ivander katanya juga disuruh ngawal Bossnya untuk kasus Om Artha. Kok jadi gede gini ya kasusnya?”


“Biar saja, itu urusan mereka. Kita nurut saja. Tapi gue butuh lo ini buat menyelidiki... cewek mencurigakan yang ngikutin gue melulu.”


“Nggak bisa bro.”


“Nggak bisa gimana?!”


“Baru sekitar setengah jam yang lalu, semua database tentang Jenny diblock. Kayaknya kerjaan Pak Ivander deh, soalnya ada watermarknya beliau.”


“Kok bisa?! Kan lo baru saja cari tahu dan ketemu kalo dia detektif?”


“Kayaknya memang segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini baru saja di block. Terutama medsos lo, medsos nyokap lo, bahkan info mengenai Anggun, Rio, dan Iptu Rayhan juga di block.” Terdengar Meneer mengetik sesuatu, “Firewallnya dari unit Cybercrime Polri.”


“Pak Avramm memang ada hubungannya dengan kasus ini?”

__ADS_1


“Nggak sih. Tapi berita kalo lo dan Jenny pacaran sudah kesebar.”


“Halah!” gerutu Junot.


“Memang sengaja aku sebar kok beritanya, biar ‘mereka’ kepancing dan mendekatiku.” Jenny tiba-tiba sudah di sebelah Junot, ekstra memeluknya dari belakang.


Junot tidak menggubrisnya.


“Dia ada belakang lo?” tebal Meneer.


“Iya seperti biasa ngikut. Gue macam habis lewat kuburan, kena sawan.” desis Junot.


“Jahat kamu...” Jenny mengecup pelipis Junot.


“Tadi dia ngamuk, sekarang sudah cium-cium gue lagi. Kelihatan banget settingannya kalo di depan bokap gue.” Gumam Junot.


“Lo butuh apa?”


“Beliin gue lolipop sebungkus sama hello Panda kiloan buat ngemil. Dari tadi gue diserang sama asap rokok, berasa penderita pasif gue...” gerutu Junot.


Lalu setelah memutuskan sambungan telepon dari Meneer, Junot melepaskan pegangan Jenny.


Lalu ia duduk di konter file sambil menatap ke arah Jenny. Bukan tanpa tujuan, karena konter itu agak tinggi. Setidaknya kalau duduk di sana, kepalanya bisa setara tingginya dengan Jenny.


“Jenny, aku akan menerima kamu sebagai pacarku, dengan syarat aku mau ketemu bapak kamu dulu. Sebelum itu terjadi, sorry aku anggap kamu palsu, pacar-pacaran demi pekerjaan saja.”


“Harus begitu?? Bapakku lagi di Singapura. Kita belum boleh keluar dari sini. Video Call saja bagaimana?”


“VC kan sekarang bisa diatur pakai AI. Aku maunya ketemu langsung.” Kata Junot.


“Bahaya Junot.”


“Yaaa, kalau begitu jangan dekat-dekat denganku, jangan cium-cium aku, jangan seenaknya pegang-pegang. Aku bisa saja mencap kamu macam-macam atau melaporkan kamu dengan tuduhan ini-itu yang mengarah ke pelecehan.”


Memang maksud Junot adalah menjauhi Jenny. Ia tidak ingin dipegang-pegang sembarangan oleh orang asing. Ia tidak terlalu percaya dengan Jenny walau pun ketagihan ciumannya. Dengan ini diharapkan untuk selanjutnya Jenny nggak akan seenaknya memperlakukannya seakan Junot ‘bukan pria’. Karena Junot imut dan mungil, bisa jadi Junot dianggap seperti  anak kecil yang penurut.


Kalau Jenny melakukan hal ini demi pekerjaan, cewek itu pasti tidak akan berani mengabulkan permintaan Junot karena resikonya sangat tinggi.


Jadi untuk sementara Junot aman dari-


“Oke. Aku pesan jet buat ke Singapur. Tapi kamu harus selalu berada di dekatku.” Kata Jenny.


...


Ini bisa dibilang sial, atau sebaliknya?!

__ADS_1


__ADS_2