
Jadi, tanpa semua orang sadar, sekitar dua bulan yang lalu, Justin Otello Connor, alias Junot, sudah diincar oleh penculik.
Sindikat itu tadinya mengamati sekitar lingkungan Junot, namun berhasil dihentikan oleh para sekuriti di komplek perumahan mereka yang sebenarnya memang satuan pengamanan bayaran Pak Artha.
Tapi mereka tidak menyerah, mereka terus-terusan mengamati keluarga Pak Artha dan sampai menyamar jadi mahasiswa di Amethys, untuk mencari celah.
Dan kebetulan... Jennifer Avramm adalah Mahasiswi di Amethys. Dan dia sedang magang di salah satu Kantor Private Investigator milik Praba Grup. Kalau bukan karena kasus ini, pasti...
“Aku nggak bakalan tahu kalau kamu mahasiswa baru di Amethys.” Desis Jenny sambil memeriksa pergerakan CCTV. Orang-orang kantornya sudah membekuk kawanan penculik.
“Kan sudah Papah bilang, nggak ada ruginya kamu mendekati Jenny. Justru harus dekat-dekat, kan?”
“Ya tapi nggak gini juga kali Pah! Papah likuidasi perusahaan mafia lagi ya!!” tuduh Junot.
Pak Artha hanya menyeringai.
“Kali ini bukan Mafia, tapi oknum di kantor pemerintah,” kata Mamah Wana.
“Pemerintahan yang mana Mah?!”
“Ada deh...”
“Jadi aku bakalan diculik tanpa tahu siapa yang menculikku? Kalau aku jadi setan terus aku harus menghantui siapa?!”
“Ya gentayangan ke Papah lah...” jawab Mamah Wana.
“Nggak bakalan ada yang nyulik kamu. Kalau pun ada, kayaknya itu aku sih... hehe.” Desis Jenny.
Junot langsung pasang tampang malas ke Jenny, “Nggak lucu, Conan Edogawa,” ujar Junot.
“Untuk sementara ini kalau di kampus, kamu tetap bersama Jenny ya Not. Kalau di Kelas, Pak Ivander akan mengawasi kamu, usahakan dekat-dekat dengan Jenny dan Meneer, jangan sampai kamu sendirian.”
“Meneer tahu hal ini Pah?”
“Nggak tahu sih.” Kata Pak Artha
“Jangan sampai tahu deh, nanti dia heboh...” gumam Junot akhirnya.
Lalu keadaan hening karena atasan Jenny sedang mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya mengenai cara mengamankan keluarga Pak Artha.
Mau tak mau, fokus Junot ke arah Jenny. Cewek itu mengangkat tangannya untuk menguncir rambut panjang hitamnya ke atas sehingga membentuk kuncir kuda. Di area lehernya penuh tattoo dengan desain unik dan terlihat mahal dari grafirnya.
__ADS_1
Juga gerakan tubuh Jenny yang maskulin sekaligus feminin membuat jantung Junot langsung berdebar-debar.
Rasa bibir Jenny yang manis masih tersisa di sudut mulut Junot.
Sang Tuan Muda Connor pun... terpesona.
Ini bukan pertama kalinya mereka dalam situasi menegangkan. Sering kali begini kalau Papahnya ada proyek baru. Lihat saja Mamah Wana sudah santai-santai di sofa depan tv di ruangan kantor Om Artha sambil browsing. Saat ini memang kantor Pak Artha adalah tempat teraman karena full penjagaan.
Dan Junot diharapkan selalu ada di samping Jenny.
Samar, wangi parfum Jenny yang wanginya khas independent woman, yang kalau ia lewat dan kita menghirup udaranya pasti langsung tercetus satu kata, Boss Lady, menyerang hidung mancung Junot.
Ciuman Jenny brutal, tapi menghipnotis.
Dan Junot rasanya... ingin lagi.
Namun khayalannya harus terhenti, karena ponselnya berdering.
Video Call dari Meneer.
Yang saat diangkat ternyata Meneer sudah bersama Om Kevin. Di belakangnya ada Rio dan Abbas juga. Dan terdengarlah suara Meneer yang panik.
“Not!! Junoooot!! Lo dimana? Kenapa? Ada apa? Kurang apa?? Pacar lo ternyata bukan cewek sembarangan Not!! Lo hati-hati sama dia! Ini gue pinjem stun gun di kantor Papah! Gue anter sekarang ke lo ya!!” teriak Meneer heboh. Sampai-sampai seruangan Pak Artha dengar suara Meneer.
Ia merebut ponsel Junot dan menatap wajah Meneer. Mener langsung diam. “Eh... Om hehe... ada di sana juga toh Om? Dikirain masih di kantor, hehe.”
“Memang masih di kantor. Junot yang ke sini kok.” Kata Pak Artha
Jenny langsung menongolkan wajahnya di samping Pak Artha, “Maksudnya ‘pacar’ itu gue kan ya??”
“Lo ngapain di sana Hah?! Cewek gila!! Lo mau apa ke Junot?! Sampe ketemu awas lu ya!! Apa yang mau lo selidiki dari Junot Hah?! Siapa yang nyewa lo!! Tujuan lo apa?! Tu anak masih perjaka jangan diapa-apain!!” seru Meneer.
“Go blok emang si Meneer...” gumam Junot pelan.
“Bapak kamu mana? Saya mau ngomong...” kata Om Artha ke Meneer.
“Ini Pah,” Meneer langsung mengulurkan ponselnya ke Papahnya, yang memang sebenarnya nggak tahu apa-apa tapi dipaksa terlibat karena anaknya kelewat panik. Papah Meneer, Om Kevin, dengan ogah-ogahan akhirnya menerima Video Call dari Pak Artha.
“Ada apa Adik Ipar yang lebih tua 35 tahun dari saya? Sehat? Encok? Sudah minum multivitamin dosis tinggi?” Om Kevin enteng sekali menghadapi Pak Artha. Dipikir-pikir memang mereka tak pernah akur sih dari pertama bertemu.
“Masih bisa ngangkat istri ke kasur kok, nggak usah khawatir soal stamina. Justru kamu gimana? Kan mudanya kebanyakan obat kuat. General Check up masih batas aman? Dengkul kamu kopong nggak? Jantung aman?” tanya Pak Artha
__ADS_1
“Aman, cuma agak anemia saja karena kebanyakan makan ciki saja kemarin. Kan saya masih kecil ya jadi cemilannya ala warung. Kalau dibandingkan situ loooh,” kata Om Kevin sarkas.
“Bawa-bawa usia belum tentu kamu hidup lebih lama dari saya.”
“Biasanya tokoh antagonis umurnya memang lebih panjang sih...”
“Jadi mengenai masalah ini,” Om Artha akhirnya memutuskan untuk menyudahi permusuhan mereka dan jadi gencatan senjata dulu.
“Ya, Om. Siapa lagi yang diajakin gelut?”
“Saya itu sedang mengeksekusi lahan yang di bawahnya diduga ada tambang emas, di daerah Ajibarang.”
“Masalahnya itu tanah siapa sampai Anda menyewa detektif swasta semacam Jenifer Avramm? Apa keluarga adik ipar dalam bahaya?” desis Om Kevin.
“Kinto Pramudi.”
“OHOKK OHOKK OHOKK!!” Om Kevin langsung batuk-batuk karena kaget. “Panjang umur. Rio, sini Rio... dengerin ini.”
“Ada apa sih?!” tanya Meneer. “Kinto Pramudi siapa?!”
Om Kevin dan Rio saling bertatapan secara rahasia. “Monyet.” Jawab Om Kevin asal.
“Hah? Kinto Pramudi nama monyet? Jenis apa?”
“Jenis yang bertaring. Sudah kamu mundur dulu.” Om Kevin mengibaskan tangannya mengusir Meneer.
“Kayak pernah denger nama Kinto Pramudi...” desis Meneer sambil mengingat-ingat.
“Itu bapaknya Ikhsan Pramudi bukan sih? Ketua Osis kita dulu, yang pas pertengahan semester keluar dari sekolah karena pindahan ke Amrik?” tanya Junot.
“Oh iya bener! Namanya kan unik. Pak Kinto bukannya pejabat ya?! Dulu Bapaknya Anggun manajernya kan ya?” kata Meneer.
“Hadoooh, Ipar gue kacau... makanya kaya. Kalo nggak berani ngambil risiko ya miskin terus kayak saya.”
“Semiskin-miskinnya kamu, iparnya kan saya.”
“Besok pinjem Royal Enfield ya, mau sunmori.” desis Om Kevin.
“Jangan sunmori dulu Kevin!” desis Pak Artha.
“Nyawa saya dalam bahaya ya??”seru Om Kevin ikutan Khawatir.
__ADS_1
“Bukan. sunmori itu singkatan dari Sunday morning ride. Besok kan masih hari Sabtu...”
Om Kevin pun tediam, lalu mencebik, “Saking lucunya jadi nggak lucu, Om.” desisnya sebal.