
“Kalau kita kerjain sedikit nggak akan ada yang tahu kan?”
“Mana itu tuaknya, langsung aja ditenggak biar dia nggak ingat apa-apa,”
“Janganlah bang, biar saja dia lihat semua, lebih greget.”
Ikatan di pahanya terasa menyakitkan, ia berusaha menutupi bagian wanitanya sekuat tenaga dengan kakinya, namun semua terlipat sedemikian rupa hingga tak bisa digerakkan sedikit pun. Kedua tangannya diikat ke belakang, sama solidnya sampai tidak dapat digerakkan sama seklai.
Perih rasanya bagai disayat-sayat pisau!
Suara tertawa di sekitarnya bergaung... kepalanya pusing.
Perih... perih... ia sadar yang terjadi, ia sedang diiris dua. Dimulai dari bawah. Ia berusaha berteriak, namun tak ada suara yang keluar.
Mama...
Aku janji, perih mama yang selanjutnya adalah berkah.
Rasa sakit yang selanjutnya tidaklah menyiksa.
Mama kuharap kamu bahagia dengan kehadiranku ke dunia.
***
Anggun membuka matanya
Ia langsung terbelalak.
“Astaghfirullah....” ia berusaha duduk dengan susah payah, perutnya yang semakin besar membuatnya tidak bisa langsung bangun dalam posisi duduk.
Perlahan dalam posisi miring ia bangkit, lalu menatap ke sebalah, ke arah suaminya, Rio yang kini masih dalam posisi tertidur.
Anggun duduk bersandar di atas ranjang, menunduk sambil mengatur nafasnya.
Perutnya bergoncang lembut.
Satu gerakan,
Dua gerakan,
Lalu beberapa kali lagi seakan dede janin sedang berbicara dengan dirinya.
“Kamu ya nak yang membangunkan mama?” Anggun mengusap perutnya dengan sayang.
Ia pikir penanganan medis saat itu membuatnya tidak bisa memiliki anak. Entah sudah berapa pil yang ia tenggak untuk meluruhkan sisa-sisa cairan mani di dalam rahimnya untuk mencegah kehamilan. Ia bahkan yakin kalau saking banyaknya tindakan medis rahimnya sudah rusak.
“Terima kasih ya sayang...” gumam Anggun. Ia pasrah saja mengenai keadaan janinnya. Dokter bilang, seharusnya diberi jeda setahun dua tahun untuk hamil, karena efek obat peluruh masih ada. Bisa berbahaya kalau segera hamil.
Tapi 9 bulan berlalu, keadaan dede bayi aktif dan kondisinya baik. Hasil check up tidak ada kendala, dia tumbuh sehat.
Keajaiban.
Tapi ada... masa-masa seperti ini di saat Anggun mimpi buruk, suara itu ada menenangkannya.
Suara anak perempuan.
Tangan mungil yang menggenggam tangannya dan membasuh air matanya.
Tapi terkadang, suaranya seperti anak laki-laki, Berlari bersemangat menghampirinya. Namun wajahnya belum terlihat.
“Apa pun sosokmu, engkau adalah amanah Tuhan untuk Mama. Hebat kamu Nak, masih janin sudah bisa memeluk Mama,” Jemari Anggun menelusuri puncak perutnya, mencari kaki atau tangan dede janin, lalu ia gelitik lembut.
Dug dug dug, tendangan dari dalam.
“Hehehe,” kikik Anggun geli.
__ADS_1
Ciuman mendarat di lehernya.
Rio terbangun mendengarnya berbicara sendiri.
AH, bukan bicara sendiri, tapi sedang mengobrol.
“Mimpi lagi, sayang?” gumam Rio sambil mengecup bahunya.
“Hm...” gumam Anggun.
Ciuman-ciuman Rio di sepanjang lengannya dan berakhir di punggung tangannya.
Betapa besar pria di sebelahnya ini menunjukkan kasih sayangnya, sampai-sampai nyawa pun ia korbankan untuk sang istri tersayang.
“Kamu perlu apa?” tanya Rio.
“Air dan pelukan...”
“Sebentar ya,” dan pria itu pun turun dari tempat tidurnya dan menuju bar kecil di sudut kamar. Ia menyiapkan segelas teh manis hangat untuk sang istri, dan menatap kekasih hatinya dengan kening berkerut.
“Aku tak apa-apa,” kata Anggun sambil tersenyum, namun getir.
“Hm, iya aku yakin kamu tak apa-apa.” Jawab Rio pelan.
Namun Anggun bisa membaca kalau suaminya khawatir padanya.
“Apa kabar Dede?” tanya Rio sambil meletakkan teh manis di sebelah Anggun, lalu pria itu menunduk sambil mengecup puncak perut Anggun.
Dug!
Tendangan lagi.
“Ih, Papa ditendang,” kekeh Rio sambil mengusap lembut perut Anggun.
Lalu pria itu mengernyit. “Sayang, Kok bagian bawahnya terasa lembek ya?”
“Besok pagi check up ya?”
“Iya deh... aku jarang nyeri soalnya. Ini terasa... bagaimana ya, seperti pegal di area Vivi.”
“Pegalnya bagaimana?”
“Agak sakit seperti haid,”
“Jangan tegang...” Rio mengelus lembut punggung Freya. “Kamu tahu kan sekarang ada aku. Sebentar lagi ada Freya,”
“Aku tidak takut. Itu hanya masa lalu. Tapi memang terasa nyata. Mungkin masa lalu masih menghantuiku.”
“Apa yang kamu lihat?”
“Tiga orang itu... selalu tiga orang itu. Pria hitam, sangar berkumis. Lalu ada si penjaga pintu, pria pendek dengan tatto pedang, lalu ada pria botak dengan parfum menyengat dan mata merah.”
“Ah, aku tahu ketiganya, yang berkumis itu menegurku di depan pintu. Yang tatto pedang di dalam.”
“Ya.” Anggun pelan-pelan berdiri karena ingin ke kamar mandi, “Tadinya aku bermimpi buruk juga, tapi bayangan mereka samar-sama. Kini entah bagaimana terasa semakin nyata. Dan wajah mereka bertiga selalu ada.”
“Kamu bahkan tidak memimpikan Ikhsan, padahal dia biang keladinya.”
Anggun menggeleng.
“Syukurlah.” Desis Rio sedikit menggerutu.
“Biar saja dia dalam pelariannya. Selama ada kamu, aku aman.” Desis Anggun.
“Pelan-pelan.”
__ADS_1
“Eh?”
Anggun terdiam.
Lalu mengernyit sesaat.
“Rio...”
“Ya?”
“Rio, siapkan mobil, aku telpon dokter.”
“Kenapa?”
“Ada cairan banyak sekali keluar merembes.” Herannya Anggun tetap tenang.
“Mana?”
“Masih ditahan pembalutku. Aku pakai pembalut karena belakangan sedikit keputihan.”
“Sebanyak apa?”
“Lebih banyak dari normal seperti ada air yang tak bisa ditahan keluar sendiri.”
”Hah?!”
“Siapkan mobil dan ambil koperku dari lemari.” Anggun menunjuk ke arah closet di ruangan sebelah.
Tapi Rio hanya berdiri di sana.
“Rio?”
“Astaga...” desis Rio.
“Astaga Anggun!! Kenapa kamu tenang-tenang saja!!” jerit Rio sambil menuju ke arah lemari. Ia mengeluarkan koper pink yang isinya sudah ditata Anggun beberapa hari sebelumnya.
“Mobil mana kuncinya!!” seru Rio panik
“Di laci konter seperti biasa, ih... halo dok? Ketuban saya pecah,” suara Anggun masih tetap tenang.
“Papaaaah!! Papaaahh!!” seru Rio sambil buka pintu dan lari ke lantai bawah.
Anggun bisa mendengar Rio berteriak menggedor pintu kamar Pak Banyu di lantai bawah, lalu berlari kembali ke atas didampingi Pak Banyu.
“Ketuban kamu pecah Nggun?! Cepetan ke dokter!!” Seru Pak Banyu
Anggun mengangkat tangannya minta semua jangan terlalu berisik. “Ya Dok, tidak. Saya tidak nyeri, hanya sedikit pegal saja. Oh harus disuntik mual? Iya paling perjalanan ke sana 10 menit. Herannya dede janin aktif dok, ini dia nendang-nendang. Nanti di lihat saja tensi saya, saya belum sempat ngecek mandiri. Mudah-mudahan Freya tidak terlilit tali pusar...” Anggun masih berjalan pelan-pelan-pelan sambil menyesap tehnya.
“Rio pakai baju dulu dong!!” seru Pak Banyu.
Pak Banyu turun ke lantai bawah untuk berpakaian secepat kilat.
Rio dengan panik mengambil pakaian dari lemari dan mengenakannya lalu memeriksa berkas-berkas.
“Hey sayang?” panggil Anggun.
“Apa?”
Anggun mengecup bibir Rio. “Doakan aku kuat. Apa pun yang terjadi nanti, kami berdua mencintaimu.”
“Anggun... aku udah nggak bisa mikir.”
“Ih tenang saja lah..." Anggun mengibaskan tangannya. "Duh aku tiba-tiba lapar nih. Ada pizza yang buka nggak ya?”
"Pizza lagi? Kemarin kamu habis dua loyang Anggun!!"
__ADS_1
"Pesen pizza dulu biar pas dirumah sakit aku bisa langsung makan."