
Pagi itu...
Ah, tidak. Subuh itu...
Anggun terbangun karena suara menangis yang sangat lirih dari bilik di depannya.
Ia pun menengok ke kanan, dan ke kiri. Lalu mencoba duduk.
Ia merasa risih.
Dan tenyata bajunya sudah basah.
“Walah, kenapa ini...?!”
Pas ia sentuh-sentuh sedikit dasternya, cairan itu ternyata keluar dari pu ting susunya.
Ia penasaran, ia jilat sedikit jarinya.
“Lah, manis?” Betapa senangnya Anggun saat menyadari kalau ia sudah memproduksi ASI. “Alhamdulillah,” desisnya sambil mengusap wajahnya. Ia tidak sabar ingin bertemu Freya dan segera menyusuinya.
Tapi tangisan di depannya ternyata cukup menggelitik rasa ingin tahunya.
Anggun pun mencoba turun dari ranjangnya dengan cara berguling ke samping.
Perih terasa di bagian bawahnya. Sangat nyeri sebenarnya, tapi ia masih mampu untuk mencoba berdiri.
Saat menapakkan kaki di lantai, Anggun diam sesaat sambil berpegangan ke pinggir ranjang. Ia sedang mengukur kekuatannya, apakah ia bisa menapak ke lantai karena kemarin kehabisan banyak darah, atau tidak. Kalau tidak, ia akan berbaring kembali,.
Ternyata, ia cukup kuat. Ia tidak merasa pusing. Bisa jadi karena ia banyak makan kemarin.
Dengan perlahan, ia menghampiri bilik di depannya.
“Bu? Ibu kenapa?” tanya Anggun dari luar bilik.
Terdengar isakan. “Eh? Nggak apakok Bun,” desis penghuni bilik depannya.
“Kalau ada yang perlu diceritakan, silakan ya Bu, namanya juga baru melahirkan, daripada nanti Babyblues...” kata Anggun.
“Saya belum bisa duduk, Bun, kemarin baru secio.” Kata suara itu. Kode kalau Anggun bisa membuka bilikitu.
__ADS_1
Tampak seorang ibu muda duduk di atas ranjang sambil menggenggam Tisue, wajahnya sembab. Di pangkuannya ada seorang bayi yang sedang diberi susu dari dot.
“Waaah, baby boy. Ganteng ih! Siapa namanya?” Anggun melirik Box Bayi di sebelah si Ibu, “Adya Wicaksana, wih bagus ini namanya. Ibu nggak ikut-ikutan nama yang susah-susah seperti orang lain!”
“Hehe, makasih Bun. Nama itu sudah ada di mimpi saya seminggu sebelum dia lahir.”
“Lalu kenapa kamu menangis?”
“Aku... ASI aku nggak keluar Bun. Sedih rasanya. Mertua bilang karena aku tidak jadi ibu seutuhnya, karena proses melahirkanku secio.”
“Lalu kamu percaya dengan perkataannya?”
“Yaaaah, aku sih nggak percaya karena sebelumnya sudah diberi edukasi sama suster, dokter, dan aku juga banyak dengar dari medsos. Tapi ternyata, dibilangin sama mertua sendiri, sakitnya bisa dobel...”
“Kalau kamu melahirkan normal, terus gara-gara itu kamu meninggal, hal itukah yang mereka inginkan?”
“Duh,” wanita di depan Anggun itu memiringkan kepala sambil menggeleng, ”Aku nggak tahu, tapi rasanya aku cuma ingin menangis saja terus. Padahal seharusnya setelah lima tahun menunggu ini jadi hal yang membahagiakanku,. Tapi kenapa aku malah merasa sedih ya...”
“Apakah Adya memiliki penyakit tertentu gara-gara kamu secio?”
“Nggak sih Bun, Alhamdulillah dia normal dan sehat.”
‘ya?”
“Dia untuk minum pun harus kamu yang memegangi dotnya. Untuk bangun pun ia hanya bisa minta tolong dengan menangis padamu. Untuk buang air pun harus kamu yang menolongnya membersihkan dirinya. Saat bukan kamu yang menggendong apakah ia menangis?”
“Iya, dia sangat tergantung padaku, Padahal bekas operasiku masih sakit. Untuk mengambilnya dari box bayi saja sulit sekali rasanya. Makanya aku minta bantuan suster untuk membawanya kepangkuanku.”
“Dari sini saja bisa dilihat, kamulah ibu yang sesungguhnya, sayangku. Bayi mengenai ibunya sendiri. Ia tumbuh di dalam tubuh ibunya. Bagian mana yang mengindikasikan kamu bukan ibunya? Kamu tes DNA juga tetap kamu ibunya!”
“Mereka pasti tahu itu, mertuaku juga seorang ibu, Suamiku adalah anaknya. Tapi yang namanya ego dan merasa lebih hebat... hehe jaman sekarang masih ada saja yang ... uhuk! Padahal kami sama-sama seorang ibu... uhuk!!”
Dan wanita itu menangis lagi.
“Kuatlah sayang, demi Adya. Kalau kamu tak kuat, dan menyerah... dia sama siapa? Walau pun bisa sama bapaknya, tapi jelas ia lebih butuh kamu, lebih tenang bersamamu.”
Wanita itu mengangguk. “Aku akan kuat, aku bisa.” Desisnya. Aku harus tenang karena besok pagi mereka datang. Suami dan mertuaku.”
“Yaaa biar saja mereka datang, berbanggalah dengan pencapaian kamu. Kalau aku terus terang aku takut yang namanya operasi. Kamu hebat, perutmu dibelah-belah demi Adya bisa keluar loh. Harusnya kamu dapat rangkaian bunga mahal dari suamimu!”
__ADS_1
“Dulu dia rajin memberiku bunga, setelah aku hamil aku berhenti bekerja karena aku sering merasa mual, entah kenapa dia rasanya lebih cuek padaku. Mungkin dia capek karena sekarang jadi tulang punggung. Kalau dulukan masih bisa dibantu dengan gajiku.”
“Nama kamu siapa?”
“Aku Isma.”
“Aku anggun,” mereka berjabat tangan.
“Kamu... senang ya sudah keluar ASI!” kata Isma dengan wajah senyum dipaksakan.
“Jangan sedih, biasa saja. Rezeki prang beda-beda, Isma.”
“Tapi Adya nyusunya lancar tuh, sudah habis 100ml... ih kamu hebaaat!” Anggun menoel-noel pipi Adya. Bibir bayi itu membentuk tawa, lalu ia tertidur.
“Dia tidak menyusahkan aku sejak awal lahir. Apalagi dicover BPJS, jadi semua gratis. Aku hanya keluar biaya untuk obat darah tinggiku saja.”
“Tuh kan... ia membawa berkah untukmu, jadilah kuat, Isma!” Anggun berusaha memberi semangat ke Isma.
Dimana ada Anggun di sana ada kehebohan.
Karena merasa risih, Anggun pun akhirnya mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi, rekan ‘seperjuangannya’ menatap sambil menyeringai. Salah satunya ada Sang Mertua dari wanita di ujung. Tampaknya mertua yang satu ini lumayan bestie dengan menantunya.
“Baru lahiran semalam, udah mandi aja Mbak Cantik?” tanya si ibu mertua.
“Risih ibuuuu, lagian nggak terlalu sakit kok lahiran normal ini,”
“Beruntung lah kamu, cucu saya kelilit talipusar, duh kasihan menantu saya udah seneng-seneng mau lahiran normal biar bisa langsung kerja lagi. Ya Qadarullah harus istirahat dulu.”
“Toko nggak ada yang jaga Mah!” sahut si menantu dari seberang sana.
‘Hush! Istirahat lah, workaholic ya jangan gitu-gitu amat toh! Ada suamimu ada Bapak, ada besanku juga, udah 4 tuh yang menghandle kerjaanmu, mbok ya fokus aja ngurusin jabang bayi lah!”
“Tapi mereka bisa nggak-“
“Bisaaa! Bisa yakin aja! Waktu kamu belum ketemu anakku juga kami kok yang handle, hih! Jangan stress lah nanti ASI mu seret! Santai ajaaaa!”si ibu mertua menghampiri menantunya dan memijat bagian punggungnya. “Enak toh? Res-resan toh?! Pompa lah sana biar si kecil senang!”
Anggun hanya mesem-mesem sambil menghampiri mereka. “Baby-mu pasti aktif banget ya sampai kebelit? Dikira normal pasti awalnya nggak ada masalah toh?”
“Betul, Bestie. Pas kemarin malam tiba-tiba dia berbalik 180 derajat ya gue kaget lah! Tadinya mau di bidan jadi ke RS...”
__ADS_1
Dan jadilah mereka mengobrol. Isma hanya tersenyum getir, sambil berangan-angan seandainya mertuanya juga seperti ibu tadi. Anggun dapat melihat tatapan sedih Isma, Ia hanya bisa berdoa supaya Isma diberi kekuatan hati.