
“Apa urusannya sama gue?” Rio berdiri tegak dan melipat kedua tangannya ke depan dadanya.
“Ya banyak lah urusannya sama lo! Gara-gara lo gue kehilangan Andri!”
“Kalau yang benar-benar kehilangan harusnya malah trauma dan nggak bisa ngelupain, bukannya malah ganti cowok, dong, Bambangwatiiii!” Rio menggelengkan kepalanya, tapi di lain pihak ia penasaran sama Intan. Karena ia tidak pernah melihat sosok ini sebelumnya. Rata-rata mahasiswa yang bisa masuk ke Amethys University memiliki koneksi dengan konglomerat dan taipan. Sementara Andri, setahu Rio, hanya remaja dari kampung kumuh di bawah jembatan. Sekolahnya juga hanya sampai SMP karena sibuk mabok dan membegal. Suatu hal yang bikin heboh kalau pacarnya adalah cewek dari kalangan terhormat seperti Intan. Sudah pasti orang kaya sih kalau lihat dari outfitnya si Intan.
“Tidak bisa! Harus ada yang menggantikan posisi Andri! Paling tidak, harus ada yang bertanggung jawab atas hidup anak-anaknya!”
Intan menatap Rio dengan raut wajah yang aneh. Antara sedih, sekaligus berharap, panik dan khawatir. Juga manipulatif.
Rio hanya bisa diam tertegun.
Apa maksud Intan dengan ‘anak-anaknya’?
“Lo tuh... sebenarnya siapa? Beneran pacarnya Andri?” tanya Rio lebih hati-hati.
“Gue-“
“Sayang,” Anggun datang dan memeluk lengan Rio dari belakang, lalu mengecup bibir Rio, “Maaf yaaaaa mual terus ini, tapi aku sekarang laper lagi, hehe,” katanya sambil mengelus perutnya yang sudah membesar.
Intan terpaku ke arah perut Anggun.
Rio masih menatap Intan sambil mencium bibir Anggun, “Habis ini kita makan ya, kamu nggak usah ikut Ospek ya,”
“Aku ikut kok,”
“Hah?! Kamu ikut ospek?!”
“Ospek Amethys beda loh sama Ospeknya kampus lain,”
“Tapi kalo kecapekan?”
“Ya tinggal duduk... hehe,”
“Anggun,”
“Nggak apa-apa sayaaaang,” Anggun mencium bibir Rio lalu menyeringai bersemangat.
Dan saat Rio menoleh, Intan sudah tidak ada di sana.
“Siapa tadi?” tanya Anggun.
“Hm... dia katanya pacarnya Andri. Itu geng motor yang meninggal,”
“hah? Pernah ada kejadian geng motor meninggal?!”
“Banyak,”
“Serius?!”
“Makan yuk, nggak usah cerita yang serem-serem lah...”
“Tapi aku mau tahu-“
“Duuuh kamu nih kebanyakan ribetnya deh! Lagi hamil loh kamuu,” desis Rio sambil merangkul pinggang Anggun dan jalan ke arah kantin.
**
Dua minggu setelahnya...
“Ooooh Miss ATM! Kau begitu melegakan hatiku saat aku merasa tidak ada tunai dalam dompetku! Bagaikan angin segaaaar kau curahkan keramahanmu sambil bilang : sisa saldo anda Rp. 14 miliar!” dengan lantang Abbas merayu Mesin ATM.
“Bas! Lo lagi ngerayu ATM apa nyombong hoy!!” seru Mas Kating sambil lempar sandal. (Kating : Kakak Tingkat)
__ADS_1
“Nyombong Mas, kan malah malu kalo anaknya David Yudha isi ATMnya cuma 80ribu,” seru Abbas.
“Emang isi ATM lo Cuma 80 ribu kan? Udah kepotong biaya administrasi itu. Ngaku aja laaaah!” seru Anggun sambil mengelus perutnya.
“Coba lo contohin ngerayu ATM sini bumil !!” seru Abbas sebal.
“Kalo gue bisa, kita dapet poin 150 yak! Gimana Kating? Kalo gue bantu Abbas gue dapet 150 poin yak!” seru Anggun.
“Njir, gue nggak berani sama bumil! Ambil dah tuh 150 poin kalo kamu bisa!” seru Kating cewek sambil mengernyit sambil menatap Anggun. Was-was juga dia ada bumil semangat banget ikut Ospek.
“ih! Gue rayu rayu-“
“Angguuuuun,” Rio sudah was-was saja mengawasi tingkah istrinya dari pinggir barisan.
“Bentar sayang, aku bisa, gampang ini!”
“Pelan-pelan Anggun, bentar lagi HPeeeeeeeeeL!” desis Rio memberi peringatan
“Teman-teman, ATM adalah sumber uang, ibaratkan ini adalah Boss kita yang menggaji kita. Jadi anggap kalian minta naik gaji, jadi kita harus rayu dia.” sahut Anggun.
Dan semua diam karena tegang.
“Kan gue yang bakalan jadi Boss-,” gumam Abbas.
“Diem Lo!!” seru semua seakan tidak rela kalau Abbas akan jadi atasan mereka.
Dan hening lagi.
“Boss ATM, Terima kasih sudah bersedia menjadi pemimpin yang sabar terhadap anak buahmu yang tak tahu diri ini, Pak Boss telah mengubah kesalahan kami menjadi pelajaran, tekanan menjadi produktivitas, dan keterampilan menjadi kekuatan. Pak Boss telah mengizinkan saya menjadi bagian dari tim Bapak. Bersama-sama kita akan menjadi tim terbaik yang pernah ada. Kinerja saya dipastikan akan lebih baik lagi seandainya ada bonus tambahan dan sedikit kenaikan penghasilan. Saya janjikan hal itu Pak. Jadi mohon-“
“Kamu mintanya berapa, ambil deh itu Tesla saya di rumah jarang saya pakai,” desis Abbas. Lalu dia diam, dan menatap semua dengan kebingungan, “Mulut gue ngomong sendiri, sumpah!”
Anggun menyeringai.
“200 poin lah buat kelompoknya bumil...”kata Mbak Kating sambil menggaruk kepalanya.
“Rio, Rio sini Rio,” Mas Kating melambaikan tangan ke Rio, memintanya untuk maju ke depan. “Gue penasaran, nih ya temen-temen, kalau Mbak Anggun minta jajan ke Rio, gimana sih kalimatnya?”
Mas Kating sampai memanggil Anggun dengan sebutan Mbak Anggun saking bersahajanya beliau.
“Nggak ada. Dia cuma nadahin tangan dan bilang ‘lipen,’” desis Rio.
“Ayo laaaah ajarin kita cara ngerayu calon pasangan laaah, paling tidak kalau muka udah pas-pasan kayak gue, mulut berbisa lah!”
“Ya udah lo pasrah aja bangooor!” desis Rio sambil meraup muka Mas Kating.
“Pasrah doang?! Paling nggak, ada perjuangannya laaah teken urat malu dikiiit!” seru Mas Kating.
Rio membalik tubuh Mas Kating agar menghadap ke arah istrinya, lalu bilang : “Rayu Nggun,”
“Hah?!” seru Mas kating kaget.
“Gue tutup telinga takut terpengaruh,” desis Rio sambil menutup kedua telinganya.
“Sayang...” desis Anggun menatap Mas Kating. Terdengar sorakan dari pinggir barisan. “ Aku suka bagaimana kita kacau tapi romantis, berapa banyak masalah yang datang dan pergi tetapi kita tetap stabil.”
“E-eh? Iyaaa...”
“Bilangan tahun yang kita lalui bersama, mengajariku satu hal. Bahwa tak ada yang lebih baik dan lebih tulus, selain dirimu,”
“Waduh...” gumam Mas kating.
“Jadi, bisakah kamu... membelikanku kue pukis? Aku lagi ngidam,”
__ADS_1
“Oke, abang cari pukisnya yaaa, sabar ya sayang, eh dedek, eh Mbak Anggun!”
Dan Mas Kating pun langsung berlari ke arah motornya untuk mencari penjual kue pukis.
“Baguslah, berkurang satu kerjaan gue, nyari makan aneh-aneh. Mana ada kue pukis di tengah arena outbound...” desis Rio sambil membuka telinganya. Dia dengar tapi dengan frekuensi yang lebih kecil jadi tidak terhipnotis.
“Aku masih ngidam naik becak,” desis Anggun sambil menatap Rio lekat-lekat
“Jangan,” Rio kayaknya sudah sedikit kebal.
“Plis,”
“Jangan naik becak dong!”
“Saaaayang plis plissss, maunya dedek loh iniii,” Anggun mulai merajuk
“Aku cariin becak deh, siapa tahu nanti dedeknya seneng,” Mbak Kating malah yang pergi.
“Waaah makasih banyak Tante Kating kesayangaaaaan!” seru Anggun sambil melambaikan tangan dengan semangat.
Dan semua peserta Ospek saling diam. Mas Kating pergi, Mbak Kating pergi.
Jadi...
“Kita dangdutan aja gimana?” usul Abbas.
“Okeeee!!” seru semua.
“Speaker mana speakeeer!”
“Baiklah para peserta ospek yang berbahagiaaaa!” Abbas pegang mic ala-ala petugas Ramayana store. “Kita saksikan tembang kenangan dari Ayu Ting-ting berjudul Sambalado, jangan lupa di sebelah kiri ada prasmanan snack dan di kanan ada bakso dan teman-temannya, tapi Mbak Anggun malah nyari Pukiiis,” kalimat ini diucapkan ala kereta api melesat, tanpa rem.
Teng jedug jedug jedug teng ttong teng jedug-jedug (ini musik latar)
“Anda semua bisa lihat di area coffe shop ditambahkan segalon jus jambu dengan aneka rasaaa, ada jambu stoberi ada jambu susu ada jambu madu ada jambu monyet jangan nunjuk gue yaaaaa,”
Gojek gojek gojek gojek jeng jeng (ini bunyi musik dangdut ala Pasar Baru tahun 90an)
“Jangan lupa ada toilet di arah tenggara 23 derajat lintang kanan dan 15 derajat lintang kiri, bawa tissue basah dan jangan nyampaaaaah,” seru Abbas. “Mari kita bergoyang dengan semangaaaaaat. Musik On!”
Dan saat siang, Anggun dengan elegannya naik becak, keliling lapangan Outbond sambil makan pukis dan mengenakan kacamata hitamnya.Senyum puas terukir di bibirnya.
Rio dan Abbas menggantikan posisi Kating yang kecapekan lagi tiduran nyari kemauan Anggun.
“Lu bayangin sekarang hari-hari gue kan? Jam 2 pagi gue dipaksa buat ke rumah Mas Kaesang Pangarep, dia minta foto sama Mas Kaesang,” desis Rio.
“Mas Kaesangnya mau?”
“Mau. Tapi itu udah agak siang akhirnya.”
“Terus?”
“Anggunnya nggak mau, dia minta fotonya Jam 2 pagi,”
“Terus gimana?”
“Bikin janji lagi buat besoknya dini hari.”
Dan mereka berdua terdiam.
“Semoga lahir dengan selamat dan jadi anak dengan bakti tak terhingga kepada kedua orang tuanyaaa, Aamiin,” kata Abbas sambil berharap calon istrinya nanti nggak aneh-aneh, secara dia sendiri udah rada aneh.
“Aamiin.”
__ADS_1