Rascal In Love

Rascal In Love
Berakhir Baik


__ADS_3

Hari-hari Junot setelah itu bagaikan burung dalam sangkar emas. Seperti kata Pak Artha, berbagai hujatan fitnah, dan pemberitaan miring menyerang keluarga mereka. Rio bahkan khusus datang ke rumah untuk meminta maaf ke Pak Artha karena bertindak main hakim sendiri.


Apanya yang main hakim, coba ?! Rio dan Junot VS penculik dua lusin bersenjata api.


Karena bukti yang valid, polisi pun tidak menangkap Rio atau pun Junot. Termasuk Jenny walau pun ia sudah membunuh salah satunya. Namun warga kampung itu yang ngamuk karena merasa didzolimi berunjuk rasa di depan komplek rumah Junot.


Warga komplek itu terdiri dari orang-orang kaya lama, hal semacam ini bukan pertama kalinya terjadi. Jadi mereka sudah memaklumi.


Namun bagaimana dengan orang awam pengguna jalan? Sudah pasti aktivitas mereka terganggu.


Apalagi saat tindakan anarkis mulai timbul.


Karena si provokator termasuk yang kepala keluarganya jadi pelaku di penculikan itu. Ia pun harus meneruskan perjuangan bapaknya untuk mendulang emas di tambang Illegal itu. Apalagi keluarga mereka sudah mulai ditagihin Debt Collector.


Pak Artha sudah mengajukan usulan untuk kompensasi ke Gubernur atas dasar kemanusiaan, walau pun sebenarnya ia tidak bersalah. Ia sebenarnya korban. Tapi karena posisinya adalah Orang kaya, jadi mau membela diri sebagaimana pun tetap saja ia disalahkan. Tapi Gubernur ragu keputusan ini bisa meredam sikap anarkis, malah justru kalau terumbar terkesan Pak Artha memang berslaah.


Dan saat itu... dengan secara mengejutkan, Jenny mengajukan diri.


“Om, saya bersedia diadili di meja hijau.”


Pak Artha, Junot dan yang lain terang saja kaget.


Salah satu pengacara Pak Artha bilang kalau hal itu bisa jadi jalan keluarnya. “Pengadilan terbuka, disaksikan seluruh tv nasional. Ia hanya akan didakwa dengan aksi membela diri. Tapi dampaknya adalah nama baik kamu.”


“Saya sudah bilang ke orang tua saya, tidak masalah. Saya mendekam satu-dua tahun di penjara, karena saya bukan pewaris, Pak. Dan posisi saya perempuan, lapas wanita tidak seberbahaya lapas pria. Juga keluarga saya ini berkecukupan, jadi kecil kemungkinan akan ada yang mengganggu saya di penjara.”


“Jenny tidak butuh SKCK untuk mencari kerja, pak.” Kata salah satu pengacara.


“Saya bersedia mengambillangkah ini dan menjadi kambing hitam untuk memancing umpannya Pak. Justru kalau pengadilan secara terbuka, masyarakat jadi tahu siapa pihak yang salah dan yang benar.” Kata Jenny.


"Kamu akan masuk penjara Polres untuk sementara sampai proses peradilan selesai loh."


"Saya terima resikonya Pak."


“Kami sudah merekam semua pembicaraan Jenny, saat dia berada di bawah tekanan. Kami juga sudah mentracking gelang couple yang ada pelacaknya, di sana dilengkapi chip perekam. Bisa dibaca dengan alat khusus. Jenny terus menerus memakainya saat kejadian. Rio mungkin akan terlibat di beberapa adegan, karena suaranya pasti akan terekam.” Kata Sang Pengacara.


“Bagaimana Rio? Anggun? Bersedia? Atau perlu skenario?” tanya Pak Artha.


Rio menoleh ke arah Istrinya.


Anggun menarik nafas dan mengangguk, “Saya sempat mengalami ketidakadilan dan rasanya sangat kacau hidup saya. Jadi saya akan memberi izin kepada Rio untuk berpisah sementara dari kami, demi kasus ini dan kebaikan semuanya.”


Pak Artha mengangguk, “Terima kasih,” katanya. “Rio bersedia?”


“Tentu Om!” katanya.


David Yudha berdiri sambil melipat bibirnya, “Tapi Anggun, kamu bersedia kalau sebab hal ini, kasus kamu terangkat ke media? Pasti keterlibatan kenapa Kinto keluar negeri akan ditanya.”


“Kasus itu sudah lama berlalu dan kini Pak Kinto dalam perlindungan pemerintah di negaranya bernaung. Saya sudah punya seseorang yang mencintai saya. Jadi saya sudah menyiapkan hati.”


Jenny menatap Anggun dengan nanar.


“Maafin gue Nggun.” Desis Jenny.


“It’s Okay. Hal begini suatu saat memang akan terkuak kok. Toh bukan gue yang salah.” Kata Anggun.


“Sialan...” desis David Yudha.


“Nape lu...” Pak Artha cengengesan. Ia sudah bisa mencium bau kesuksesan.

__ADS_1


“Lu ini... kalau sampai kenyataan di balik ini terangkat, pamor lo bisa naik. Balikin duit gue!” desis David Yudha.


“Udahlah ikhlasin aja, lagian gue sudah bosen sama CCX.”


“Gue beli sama lo lebih mahal 10miliar!”


“10 miliar kan receh buat lo...”


“Oh, jadi CCXnya dibeli Om David toh...” gerutu Junot. “Pantesan cepet banget kejualnya...”


“Siapa warga negara yang mau beli mobil 80 miliar kecuali dia Sultan Dubai? Pajaknya gila banget di sini!”


“Bokap gue...” gumam Junot.


“Lah iyaaaa, bantu-bantu negara lah lewat pajak, biar urusan dilancarkan. Hahahah!” Tampaknya Pak Artha sudah cukup senang dengan penyerahan diri Jenny.


**


Dan... ya.


Seluruh negeri ini heboh mendengar rekaman saat penyerangan itu terjadi. Yang paling miris saat mereka mendengar rekaman suara dipasang di pengadilan. Erangankesakitannya saat ditembak di paha, sampai Tangisan Jenny saat Junot diancam akan dipotong-potong kalau polisi terlibat. Rekam medis Jenny juga ditampilkan, dan peluru yang dikeluarkan dari paha Jenny cocok dengan senapan yang terdapat sidik jari salah satu penculik.


Hebatnya Pak Artha...


Saat keputusan tak bersalah sudah keluar,


Dia menuntut balik warga yang terlibat.


Juga ia menuntut semua akun medsos yang menyebarkan rekaman mengenai foto pelaku-pelaku yang tewas, dan memfitnahnya.


Tujuannya, saat dituntut balik oleh konglomerat semacam Pak Artha, mereka pasti akan ketakutan, dan akhirnya menempuh jalan damai. Dengan demikian teror pun bisa terhenti secara sukarela. Memang saat seperti ini yang sedang ditunggu-tunggu Pak Artha.


Nama baik Anggun diusahakan tetap terjaga dan hanya diberitakan kalau Kinto menjadi warga negara barat karena hal pribadi. Walau pun memang Pak Kinto tidak bersedia menjadi saksi karena ia menghindari masa lalu buruk anaknya.


Tidak ada yang bisa mendakwa Pak Kinto sekarang, karena tanahnya dulu difungsikan untuk kegiatan Illegal. Karena kini Pak Kinto sudah dilindungi oleh yuridiksi negaranya.


Sekali lagi, nasib baik membebaskan Rio dari segala tuduhan, dengan pengalaman yang lebih berharga. Tidak tergantikan dengan apa pun.


Jenny pun dibebaskan dari segala tuntutan karena dianggap membela diri.


Tentu saja... kalau tanpa uang, keadaannya tidak akan selancar ini.


Jadi, lebih baik menangis di gubuk atau di jet pribadi? Silakan jawab sendiri di batin masing-masing. Semua dengan keadaan hidup yang berbeda-beda.


Dan bagaimana dengan Junot ?


Setelah Jenny bisa pulang ke rumah, setelah beberapa minggu mendekam di Penjara Polres sambil menunggu proses peradilan, kali ini Junot yang menekan bel pagar rumahnya.


Bukan di Hang Tuah, tapi di rumah orang tuanya di Rawamangun. Menurut Jenny lebih aman kalau untuk sementara ia tinggal bersama ayah dan ibunya. Mereka juga khusus pulang ke Indonesia karena Jenny minta peradilan terbuka.


Dan yang membuat Jenny tertegun, Junot menatapnya dengan senyum.


“Hey... kok kamu di sini? Keadaan aman?” Jenny menghampiri Junot dan membuka pagar.


“Aku nggak sendirian kok, lagi pada main di sebelah.”


“Di sebelah? Rumah putih sebelah ini?”


“Iya, di sana juga ada Abbas, Meneer, Rio dan Anggun.”

__ADS_1


“Jennyyyyyy sore mampir yaaaa! Si Ariel punya warung indomie loooh!!” terdengar seruan Anggun dari halaman sebelah rumah.


Jenny mengerutkan kening. “Ariel itu siapa?”


“Sepupu Anggun.” Desis Junot.


“Sepupu Anggun? Pah! Papah! Sebelah punya Rejoprastowo?! Bukannya rumah itu berhantu ya?!”


Pak Avramm muncul dan mengangguk, ”Iya, hehe. Ceritanya panjang! Yang jelas dari awal memang sertifikat rumahnya punya Keluarga Rejoprastowo sih.”


“Tapi kan banyak setannya?”


“Itu bukan setan... itu sindikat obat terlarang. Mereka nyamar jadi setan biar nggak ada yang ganggu aktivitas mereka di rumah itu.” Pak Avramm mengibaskan tangannya.


“Jadi sepupunya Anggun terlibat obat-obatan?!”


“Bukan Gitu! Aduh kamu baca aja lah novel Antonim Akal Sinonim Sayang, bab-bab terakhir itu!” kata Pak Avramm sambil masuk lagi ke dalam.


Junot menangkap tangan Jenny dan menatap wajah gadis itu. (Ia dia agak mendongak sedikit. Eh banyak deng, kan tingginya beda 20senti).


“Kamu... masih mencintaiku tidak? Setelah semua yang terjadi...”


“Kamu bertanya hal itu setelah semua hal yang kulakukan padamu?” Jenny balik bertanya.


“Jenny, aku mungkin akan agak sibuk. Aku mulai mempelajari sistem di perusahaan Papahku, dan minggu ini aku mulai magang di sana.”


“Magang di sana?”


“Iya, jadi staff IT sih.”


“Sama Meneer?”


“Nggak, Meneer magang di Amethys Tech. Memang sengaja disebar untuk menjaga hubungan kekerabatan antar perusahaan. Hehe.”


“Hm... aku nggak bisa ikutan magang, aku pernah terlibat kasus sih.”


“Kamu nanti cukup jadi istri manajer saja. Hehe.”


“Istri... manajer?”


“Iya.” Junot menunjuk dirinya sendiri.”


“Hm...”


“Hehe.”


“Hm...”


“Nggak mau ya?” desis Junot ragu.


“Siapa bilang nggak mau?”


“Itu muka kamu nggak ada ekspresinya.”


“Apa aku harus loncat-loncat girang?”


“Ya nggak sih...”


“Hm...” Jenny tampak mengamati sekelilingnya. “Aku mau ke rumah Hang Tuah, mau beres-beres sedikit. Mau bantu?”

__ADS_1


Hati Junot langsung deg-degan. Yang pasti... bantu-bantu versi Jenny bukan bantu-bantu biasa.


__ADS_2