Rascal In Love

Rascal In Love
Maju, Not!


__ADS_3

Abbas keluar dari dalam mobilnya dan ikut menghadang mobil di sebelahnya. Ia hanya berharap wanita berpakaian suster di dalam mobil itu tidak berbuat hal yang membahayakan Freya. Dalam hati Abbas juga berharap ia salah, bahwa itu memang suster yang membawa anak, bukannya Freya yang ada di dalam sana.


Tapi yah, perkiraannya benar, namun harapannya salah.


Intan yang ada di dalam mobil tak bisa berbuat apa pun. Ia langsung merasa pusing. Jantungnya berdebar dan ia malah merasa ingin pingsan. Seperti ingin jatuh dan tertidur. Baru kali ini mengalami dikepung polisi secara serentak seperti sekarang.


Ia seorang kriminal kini...


Terbayang di wajahnya ayah dan ibunya yang kecewa. Sekali lagi akan kecewa. Yang pertama saat ia hamil di luar nikah dan keguguran pula, di saat yang bersamaan tidak ada yang bisa dimintai pertanggung jawaban karena Andri sudah meninggal.


Apa asalah ayah ibunya?


Tidak ada sepertinya.


Intan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.


Sampai saking enak hidupnya, ia terlena dan malah keluar batas, mencari yang namanya adrenalin agar bisa mengetahui seberapa sulitnya hidup ini. Hidupnya terasa mudah selama ini, tapi menurutnya membosankan. Sungguh tak tahu diuntung!


Dan saat ia bertemu dengan Andri, ia langsung jatuh cinta. Seperti di novel-novel romantis, gadis kutu buku jatuh cinta dengan bad boy.


Astaga... tidak bisa berakhir baik seperti di novel-novel itu!


Khayalannya melambung sangat tinggi, dan akhirnya dijatuhkan sekeras-kerasnya oleh realita yang kejam!


Kini...


Sekali lagi ia dibutakan dengan sosok Badboy... Rio yang bahkan tidak menganggapnya ada. Badboy yang ini sangat berbeda dengan Andri, yang ini levelnya jauh di atas.


Tapi... pasangan seorang Raja, sudah pasti adalah seorang Ratu. Dan dengan mata kepala sendiri Intan melihat Sang Ratu. Cantik jelita dengan aura yang tegas, dia cerdas, populer, dan kaya raya.


Intan hanya... seorang gadis depresi yang putus asa.


Apa yang ia lakukan?


Bagaikan ditampar dengan keras, kilas balik bermain di benaknya.


Ya Tuhan... batin Intan langsung bagai terbuka. Layar di matanya terkuak seketika.


Apa yang kulakukan? Selama ini aku menyusahkan banyak orang, tidak berpikir panjang, ceroboh dan arogan...


Astaga, bayi ini tidak berdosa Ya Tuhan... kenapa dia harus ikut-ikutan menanggung rasa frustasiku?! Ini bahkan bukan anakku!


Begitu hatinya berkecamuk.


Dan saat salah seorang  polisi mengetuk kaca jendelanya, dan ia bisa melihat polisi yang lain yang ada di belakang mulai waspada dan meraba pistol mereka, rasa sakit di kepala Intan mulai menjadi-jadi. Matanya mulai terpejam karena tiba-tiba ia tak kuat lagi.


Tapi kalau ia tertidur, anak yang ada di dalam gendongannya akan jatuh ke bawah. Fatal akibatnya.


Intan dalam kekalutan, melihat gelang berwarna pink yang tersemat di tangan bayi mungil itu.

__ADS_1


Freya.


Panggilan ini berasal dari nama salah satu dewi dalam mitologi Nordik, Freyja. Dewi ini dihubungkan dengan cinta, kecantikan dan kesuburan.


“Maafkan aku...” desisnya.


Lalu ia menekan tombol smartlock, dan akhirnya keluar dari mobil itu.


**


Rio kini duduk di salah satu sofa ruang tunggu, bersama teman-temannya dan juga IPTU Rayhan. Mereka mencoba mengingat masa lalu saat masih ‘nakal’ di jalanan.


“Andri ya... gue nggak terlalu kenal dia,” kata Meneer.


“Rata-rata kita nggak terlalu deket sama anak motor, sok kenal pas di depan aja, asal tahu dia anak kampung mana, terus kita coba deketin, tawarin rokok, tawarin amer, udah deh akrab. Ngalir aja suasana.” Kata Abbas.


“Andri itu nama lengkapnya Andriansyah. Memang anak kampung Indah, dia dan Enes Zori. Pencopet kambuhan sih, motornya biasa dipakai untuk membegal, tapi belum sampai membahayakan nyawa. Hanya rampok di jalanan, pukul, kabur dengan motor lain. Gitu aja terus...” kata IPTU Rayhan.


“Jadi bukannya sindikat seperti Juhari ya Pak?”


“Bukan. Ini perorangan. Tapi sepertinya bukan jenis yang berbahaya. Cuma tim bokem aja.”


(Bokem : istilah Bocah Kematian,  julukan untuk anak yang usil atau jahil).


Rio hanya bisa mengingat saat itu samar-samar. Ia dulu dalam keadaan setengah sadar karena terlalu banyak menegak minuman keras. Saat-saat ayahnya baru meninggal dan ia sedang marah dengan Tuhan.


Rio tidak mau mati sia-sia. Dengan bentuk hancur tak karuan...


“Kepala Andri... menggelinding jauh dari badannya. Tangan dan kaki kepisah semua. Enes masih bisa berbentuk tapi kepalanya hancur. Dan yang membuat gue sampai sekarang ingin tetap hidup adalah kondisi mereka. Gue nggak mau mati dalam keadaan terhina, nggak ada yang nyariin malah nyalah-nyalahin, Udah mati masih dihujat... sedih rasanya.” Kata Rio sambil menunduk.


“Dan akhirnya kematian Andri membuat tersiksa seseorang yang begitu menyayanginya...” desis IPTU Rayhan.


Lalu mereka semua terdiam.


“Udah pada makan belom?”


“Belom,”


“Nih, gue beli Sando banyak, sama kopi botolan.”


Semua langsung mencondongkan tubuhnya mengerubungi tas kertas coklat dari cafe terkenal dan langsung mengambil masing-masing potongan besar roti tawar dengan isian krim dan buah itu. “Wih, makasih ya...”


Dan semua langsung terdiam.


Mereka baru sadar kalau yang membawakan mereka makanan adalah...


“Sejak kapan lo di sini?!” Meneer langsung sewot.


“Baru aja elaaah, heboh bener sih lo liat gue. Gimana kalo lo liat malaikat pencabut nyawa?!” Jennifer Avramm langsung duduk di sebelah Junot dan membuka tutup botol kopi. Ia menyerahkan kopi botol itu ke Junot.

__ADS_1


Junot meliriknya sambil cemberut, “Aku bisa buka sendiri,”


“Aku juga bisa bukain buat kamu, hehe,” Jenny   mengecup sekilas pelipis Junot.


Junot langsung menggeser duduknya sampai naik ke pangkuan Rio.


“Elah berat, gue mau makan Sando! Pangku Pak Iptu tuh!” sahut Rio sambil menggeser Junot.


“Jangan dong saya masih pakai seragam, nanti diviralin macam-macam batal naik pangkat,” sahut Iptu Rayhan sambil berdiri.


“Pak, tangkep tuh biang onar!” sahut Meneer sambil menunjuk Jenny.


“Gue nggak ganggu hidup lo, Cuma ganggu hidupnya si Junot aja, jadi tuntutan lo nggak berlaku!”


“Not, tuntut Not!” suruh Meneer.


“Jangan eh, nanti gue nggak ada yang ngejar lagi gimana?” desis Junot.


“Lo gimana sih plin plan banget!”


“Lo enak banyak yang nge-fans, gue kan cuma dia doang.”


“Banyak yang ngejar lo, tapi lo nya picky! Nyari yang tinggi lah, cakep lah, dadanya gede lah!”


“Gue tinggi, cakep, tapi yang gede ego, bukan dada. Tapi jaman sekarang itu bisa diatur kan?” Jenny menyeringai.


“Aku kurang suka cewek sangar. Maunya yang imut, kayak Akame Ga Kill” desis Junot pelan.


(Akame Ga Kill adalah tokoh anime, rambut hitam panjang, imut, dada besar, tapi pembunuh berdarah dingin).


“Itu juga bisa diatur...” Jenny masih menatap Junot dengan tatapan licik lekat-lekat.


Junot sampai merinding.


“Cewek jaman sekarang maunya ngejar ya, bukan dikejar,” IPTU Rayhan meminum kopi dari botol.


“Persaingan ketat sih Pak, hehe,” Jenny masih tersenyum ke arah Junot.


Junotnya masih buang muka.


“Udah Not, Hadepin! Tunjukkan kejantanan lo!” desis Rio sambil mendorong Junot ke arah Jenny. Tapi Junotnya balik lagi ke Rio kayak ketarik magnet.


“Plorotin aja celananya udah keliatan jantan,” kata Meneer.


Abbas duduk di sebelah Jenny sambil menaikkan kacamatanya dan micing-micing, “Apa sih yang lo suka dari Junot? Tampangnya kan kayak cewek,”


“Tampangnya kayak cewek tapi sikapnya gentleman. Apa salahnya gue suka sama dia?”


Abbas diam, lalu menggaruk kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2