
Pengantar Algoritma dan Pemrograman
Junot memutar-mutar drawing pen-nya saat Dosen menjelaskan mengenai Konsep Algoritma dalam proses pemprograman. “Dalam komputasi, algoritma sangat penting karena berfungsi sebagai prosedur sistematis yang diperlukan komputer bla..bla..bla...”
Pak Dosen yang tampangnya bergaya preman itu, sebenarnya termasuk dosen killer yang kalau tidak berkenan bukan hanya mendis mahasiswanya, tapi juga bakalan diteror sampai ke akun ig.
Tapi hati Junot sedang tidak tenang. Mau dijelaskan seperti apa pun sepertinya lebih masuk ke otak kalau ia belajar sendiri.
Cowok berwajah cantik itu melirik ke arah Meneer yang sibuk mengetik di laptopnya. Ia condongkan lehernya sedikit untuk melihat layar lap top Meneer, ternyata sepupunya itu sedang mengetikkan beberapa kode binary di layar hitam. Teknik SQL Injection.
Teknik hacking yang biasa digunakan untuk penetrasi aplikasi web.
Junot memiringkan kepalanya sedikit, ia melihat earpiece bluetooth di telinga Meneer, dan layar ponselnya sedang dalam keadaan aktif, ia sedang berbicara dengan seseorang. Di situ ada tulisan ‘Bucin Tempe Mama’.
Alias Papanya Meneer.
Meneer ini suka sebel sama Papanya, di lain pihak ‘papaku idolaku’. Kalau Junot ikutan menamai Papanya seperti itu terus dilacak pakai Get Contact bisa-bisa dia langsung digantung kebalik di Pintu Air. Jadi dia namai nomor contact Papanya ‘Tua-Tua Baginda’. (Sama aja kampretnya, rojali).
Belakangan setelah lulus sekolah, Meneer kerja partime di Amethys Tech untuk melakukan uji coba software-software baru yang belum launching ke masyarakat. Apakah bisa di retas, kelemahannya bagaimana, dan kendalanya di mana. Dan saat ini ia sedang melakukann pengecekan.
Di tengah pelajaran.
“Pah...” terdengar Meneer berbisik.
“Ya sayang...” balas papanya.
“Papah geli banget deh.”
“Ya kamu kan kesayangan Papah.”
“Bella gimana?”
“Ya Bella juga kesayangan papah. Dua-duanya 30%.”
“Yang 40% gimana?”
“Mamah kamu lah,”
“Ck...”
“Kamu mau ngomong apa? Gimana sistemnya?”
“Aku pingin Pizza Marzano.”
“Pizza tipisnya kayak krupuk 200rebu aja kamu pinginin. Mending beli opak di warung kamu sambelin deh...” gerutu papah Meneer.
“Papah jangan mendang-mending deh, memang konsep pizzanya gitu. Sistemnya payah Pah, aku dua kali bisa ngebobol. Backdoor juga nggak nyala walau sistem direstart, terus ini Amethys beli antivirus di mana sih kok kualitasnya level mahasiswa?!”
“Antivirus di Beaufort lagi mahal, Cinta... kalo nggak bagus ya kita kembangkan aja.”
“Papah...”
__ADS_1
“Apaaa?”
“Rambutku lurus. Aku anak Papah bukan?”
“Kita udah tes DNA 2 kali gara-gara masalah rambut. Kamu ribet amat sih kayak mamah kamu.”
“Anak kesayangan lagi ngidam Pizza, dasar papah nggak pengertian banget sih. Ya udah minta pizzanya ke Mamah aja,”
“Alasan kamu. Pizza meluncur. Malak melulu kerjanya...” dan sambungan telepon pun terputus. Disertai kekehan Meneer.
“Bro?” Junot mepet-mepet Meneer,
“Heeemmmm...” geram Meneer.
“Lu kalo sama orang lain judes, kalo sama bokap lo, cinta-cintaan mleyot kayak lagi ngomong sama selingkuhan daun muda.”
“Masa gue judesin juga, bisa-bisa stok figure gue berhenti.”
“Damian? Justin!” teguran dari ujung ruangan, Pak Dosen yang kesal mahasiswanya bicara sendiri.
“Ya Pak?” Meneer dan Junot serempak menjawab
“Apa yang harus dilakukan jika celah keamanan tidak bisa begitu saja digunakan sebagai jalan masuk?” tanya Pak Dosen dengan tatapan tajam
Meneer dan Junot mengernyit. Itu kan bukan pembahasan metode algoritma. Pak Dosen sudah kesal tampaknya.
“Eeeeeh, membuat tool exploit yang didesain khusus untuk membawa payload yang berisi backdoor.” Jawab Meneer.
“Jika payload backdoor tadi berhasil dimasukan melalui vulnerability dengan bantuan tool exploit yang dibuat maka tandanya sukses masuk ke sistem.” Tambah Meneer.
“Banyak cara pak, Tergantung bapak mau retas rekening orang atau firewall.” Kata Junot sambil tersenyum manis ala anime.
Pak Dosen menghela nafas.
“Sepertinya kalian sudah terlalu pintar untuk masuk kelas saya sehingga merasa bosan ya? Keluar dari sini saja bagaimana? Saya nanya nih ya bukan maksa,” kata Pak Ivander, Sang dosen Killer Spek Mafia.
Junot dan Mener lirik-lirikan, lalu mereka menghela nafas dan berdiri.
“Widih... berani banget...” terdengar gumaman teman-teman di sekitar mereka.
Meneer dan Junot pun menatap Pak Ivander dengan tajam.
“Pak Ivander... Tahu tidak,” desis Meneer.
“Apa?!” tantang Pak Ivander tak kalah sewot.
“Kami berdua ini-“
Dan mereka langsung berlutut di lantai.
“Sembah Sujud Paaaak, minta maaf yaaaa!!” seru mereka.
__ADS_1
Pak Ivander langsung narik nafas panjang, ngitung 1 sampai 1000.
“Plis jangan keluarin dari kelas, saya diam deh Pak!” seru Meneer. “ini si Papah saya gangguin aja disuruh nge-hack sistem pas jam kuliah!” seru Meneer.
“Saya juga jadi tertarik Pak. Suer deh kalo sampai dikeluarin dari kelas dapet C aja Papah saya bisa iket saya di roda becak dibawa muter-muter keliling komplek paaaak! Gimana kalau dikeluarin dari kelas Pak?! Bisa-bisa kena sabet jenggotnya! Berubah jadi Saint Seiya saya!” Iba Junot sambil bersimpuh.
Pak Ivander antara mau marah tapi juga mau ketawa, akhirnya dia suruh Junot dan Meneer ke depan kelas, untuk mengajar teman-temannya menggantikan Pak Dosen Killer. Lumayan Pak Dosen bisa main Mobile Legend sepanjang jam kelasnya.
**
“Hey, udah makan belum?”
Junot sampai-sampai hampir loncat gara-gara Jenny tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
Ia melepaskan dirinya dan langsung sembunyi di belakang Meneer.
“Mana boleh peluk-peluk gitu Kak Jenny?” Meneer sampai mengernyit. Karena Jenny di matanya lumayan lancang main pegang-pegang padahal orangnya nggak suka
“Kan calon pacar, jadi nggak papa,” Jenny tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya yang bertato ke dalam saku celana baggynya. Wajahnya oriental, namun ia memiliki mata yang besar, jadi terasa tidak seperti nyata. Seperti tokoh AI yang sedang booming. Ditambah, di sudut bibirnya ada rokok tersemat.
Sosok yang sangat berbeda dengan Junot.
“Siapa yang mau nerima...” gumam Junot pelan.
“Ya ngomong aja ke targetnya, jangan ngedumel di belakang gue laaah,” Meneer mendorong Junot ke depan.
Jenny menunduk dan tersenyum sambil mencondongkan wajahnya ke depan Junot. “Atau perlu aku ke orang tua kamu minta izin pacaran? Papah kamu pasti kenal kok sama Papahku. Kan kita pernah bertetangga. Walau pun sekarang di rumah itu aku hanya tinggal sendirian, Papah Mamahku tetap di rumah Kemang soalnya. Jadi kan dekat, aku bisa main ke rumah Tante Wana.”
“Nggak usah pakai main lah,” gumam Junot sambil mendongak.
“Ini beneran gendernya kebalik...” gumam Meneer.
“Dan nggak usah merasa berhutang budi Kak Jenny, aku kan sehat wal-a’fiat segar bugar,”
“Aku ngerti kok kalau kamu takut. Semua terasa tiba-tib-“
“AWASS!!”
DASHH!
Dengan sigap Junot menghadang bola basket yang mengarah ke kepala Jenny dengan tasnya, dan melemparkannya kembali ke si empunya.
“Hati-hati dooong!” serunya kesal.
“Sori Brooo soriiii!!” seru si empunya.
‘Astaga... telat dikit udah bejol kepalaku...” gumam Jenny.
Dan pandangannya ke arah Junot semakin... terpana.
Junot lagi-lagi melipir ke belakang Meneer.
__ADS_1