
“Rio...” Anggun memeluk Rio dengan erat saat pemuda itu tiba kembali di kamar inap. Jenny sudah dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta, namun masih belum sadar.
Anggun menghela nafas lega saat menyadari kalau suaminya itu baik-baik saja.
“Tolonglah Rio, ini terakhir kalinya kamu begini.” Sambil memelas Anggun menatap wajah suaminya. “Untuk selanjutnya, jangan ada lagi terjun sendirian ke dalam kekacauan orang lain. Kamu punya keluarga sendiri Rio. Kamu punya Freya! Libatkan orang lain agar kamu tidak menanggung semua sendiri!”
Rio masih diam.
Ia memang menyesal kenapa ia pergi tanpa pemberitahuan ke Anggun. Anggun akhirnya dikabari oleh Abbas mengenai yang terjadi.
“Aku mengerti hubungan kalian semua bagaikan saudara. Tapi apa ada saudara yang tega menyusahkan saudara lainnya?! Tolong dong yang lain, jangan bertindak ceroboh! Kalian ini harus nya bisa berpikir panjang sebelum menerjunkan diri ke Jurang! Kalian akan jadi orang besar pada akhirnya, kalau main libas saja begini, kalian bisa menyusahkan banyak orang!” ujar Anggun sambil menatap Junot, Meneer dan Abbas.
Mereka hanya diam karena tahu kalau Anggun benar.
Anggun bisa menumpahkan perasaannya dengan menangis seperti ini. Terbayang perasaan Pak Artha saat tahu Junot diculik, bagaimana cara ia meredakan kegalauan hatinya? Sudah tidak terbayang paniknya pak Artha. Di satu pihak ia dituntut harus tenang dan berpikir logis, menenangkan banyak orang terutama istrinya yang histeris. Di lain pihak, ia hanya manusia biasa.
Manusia dengan pekerjaan sepertinya, terkadang perannya bukan hanya untuk cuan sendiri, tapi demi kestabilan ekonomi negara ini. Kalau bukan dari pihak pengusaha yang sudah bersumpah untuk nama baik negara ini yang menguasai aset negara, maka pihak luar negeri yang akan menginvasi. Ia dan 12 naga lainnya adalah pengusaha yang dipercaya negara untuk menjadikan perekonomian stabil dan tidak tercampur pihak luar. Termasuk soal tambang emas di Jawa ini.
Kinto sudah dianggap berkhianat dengan menjadikan dirinya warga negara bangsa lain, semua itu memang Kinto lakukan untuk menghindari peradilan yang berlaku di Indonesia jaga-jaga kalau kasus Ikhsan diungkit kembali. Tapi Pak Artha beruntung saat ini, karena Kinto memiliki hutang cukup besar padanya. Jadi ia bisa melindungi Aset negara. Kalau tidak, bisa-bisa kepemilikan tambang itu dicaplok negara lain.
Tapi begitulah...
Kejayaan tidak diperoleh dalam sekejab mata. Saat masyarakat hanya bisa menghakimi, wah, mudah sekali hidup keluarga Pak Artha, Istrinya bisa membeli perhiasan mahal-mahal, Junot kerjanya cuma mengoleksi komik sambil makan yupi. Lebih baik nangis di dalam roll royce daripada nangis di gubuk. Tapi apa mereka tahu kenyataan di baliknya?
Tidak ada konglomerat yang posting di medsos dengan caption ‘Hey guys, anak gue barusan diculik ke 3 kalinya dan kali ini katanya mau dimuti lasi kalo gue nggak ngasih 1 triliun. Up dong guys #hotmaneiffel’.
Tidak ada.
Mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.
Apalagi kalau sudah tentang tukar guling, likuidasi, konflik dengan pemerintah yang masalah tender belum dibayar 5 tahun padahal untuk membangun proyek sudah makan korban keluarga sendiri gara-gara warga desa marah rumahnya digusur dan akhirnya meneror keluarga sendiri..., ya wajar mereka tidak berbelanja ke pasar.
Mereka menghindari area di mana banyak orang berkumpul. Bahkan anak mereka terancam keselamatannya akhirnya harus mengeluarkan dana ekstra untuk menyekolahkan di sekolah mahal dengan penjagaan ketat. Kalau perlu sekolah di luar negeri dimana tidak ada orang yang mengenal mereka.
Bahkan orang seperti ayahnya Abbas, David Yudha, yang kerjanya melikuidasi sesama pengusaha sendiri, setiap hari diincar sniper. Bukan tanpa alasan ia menguasai banyak aset dan perusahaan di negara ini. Tujuan mereka memang untuk memperkuat ekonomi negara ini agar tidak mudah diserang. Karena... saat ada pengusaha yang terindikasi bekerjasama dengan perusahaan negara lain dengan tujuan yang bisa mengancam keamanan negara ini, di situlah David akan berupaya menghalalkan segala cara untuk mengambil alih. Masyarakat bilang dia jahat dan licik, banyak pengusaha yang dicurangi olehnya, backingannya pemerintah, dan tuduhan lainnya. Tapi hal itu harus dilakukan.
Makanya, banyak media memberitakan kalau David Yudha jahat dan pongah, Istrinya sama saja liciknya. Namun kalau bertemu langsung mereka akan melihat kalau David orang yang ramah dan fair.
Ya karena itu... Media mencari sensasi. Bisa heboh dan jadi kisruh kalau tahu tujuan sebenarnya David Yudha mengambil alih suatu proyek.
Itulah yang belum Abbas pelajari.
__ADS_1
Dan setelah ini, situasi semakin sulit bagi keluarga Pak Artha.
Bukan tanpa alasan ia ingin Junot sendirian dan Jenny ke Singapura.
Malam itu...
Pria tua itu terlibat perbincangan dengan istrinya, Mamah Wana.
Secara kebetulan, Junot yang masih bete dengan keadaan yang terjadi, keluar dari kamar untuk ambil minum ke dapur. Mereka tidak memiliki ART karena Mamah Wana mengurus semuanya sendiri. Alasannya ada banyak ART mereka yang ternyata mata-mata dari pihak saingan.
“Om,” Mamah Wana menunjukkan ponselnya. Ia masuk ke medsos menggunakan fake Account. Karena ignya diserang netizen. “Sudah dengar beritanya kan?”
“Iya. Untuk sementara Junot jangan keluar rumah dulu. Bisa dilempari batu, dia.”
Enaknya tidak memiliki ART, tidak khawatir ada yang menguping.
“Lawan kita warga satu kelurahan. Mereka anggap kita menguasai tanah turun temurun secara curang.”
“Administrasi sudah lengkap di awal, sejak sebelum Kinto mengubah kewarganegaraannya aku langsung bertindak saat tahu kasus Anggun. Patokanku, dia memiliki Greencard, jadi tidak sulit untuk menjadi warga sana. Dan rakyat kampung itu begitu haus akan uang karena penderitaan mereka. Jadi kalau ada yang mengiming-imingi mereka kompensasi dari pihak barat, mereka pasti akan mau saja dengan dalih pemerintah toh tidak memperhatikan kesejahteraan mereka. Padahal di baliknya kita tahu siapa yang berlaku curang duluan.”
“Hm... ada komentar yang bilang : akal-akalan si pemburu cuan, Korupsi merajalela rakyat ditumbalkan, bahkan pakar dari BPN diundang ke podcast seleb Om,” kata Mamah Wana.
“Iya, orang dari podcast itu juga mengundangku, minta aku memberikan keterangan. Kalau kuterima, bisa-bisa terjadi perang saudara di negeri ini, sayang.”
“Rumit kalau kujelaskan dari awalnya Sayang. Banyak kepentingan berbagai pihak.” Pak Artha duduk selonjoran kaki di kursi santainya. “Sudah tersebar kalau pihak kita membunuh banyak orang warga desa... demi cuan. Fitnahnya akan lebih kejam lagi besok. Foto-foto korban akan tersebar, perusahaanku akan dituntut warga, akan ada banyak pengacara yang diminta mengawal kasusku.”
“Kamu pasti sudah bergerak duluan kan?”
“Ya, baru tadi pagi saat perjalanan ke rumah sakit sih. Aku sudah membayar banyak orang agar meredamkan, namun tidak semua bisa dibungkam. Bertahan saja satu atau dua tahun kita akan hidup pas-pasan. Sahamku pasti akan jatuh.”
“Hm... makanya Koenigsegg kamu dijual ya?”
“Hehe, lumayan laku 80. Bisa lah untuk makan kamu dan Junot dua tahun, tiga kali sehari. David membeli sebagian saham degan perjanjian kalau keadaan sudah stabil aku bisa buyback dengan selisih 2%.”
“Lalu... bagaimana dengan kisah cinta anak kita? Perjuangannya berat loh? Betul kamu tidak merestui mereka?”
‘Saat ini tidak. Tapi aku sudah bayar mahal untuk mereka bisa bersama. Tapi tidak sekarang. Makanya Jenny kuharap mau ke Singapura agar ia tidak terkena imbasnya, Junot dan Jenny jangan bersatu dulu di saat kondisi sedang memanas begini. Sementara Junot justru akan berbahaya kalau ia keluar negeri, bisa-bisa dianggap beneran bersalah karena kabur. Jadi Junot harus tetap di sini.”
“Aku setuju denganmu. Tapi kamu ini... bisa-bisa ngomong tidak merestui di depan, padahal kamu sebenarnya peduli ke kedua anak itu.”
“Apalagi kata-kata yang harus kukeluarkan Sayang? Itu hal yang paling gampang. Biar saja mereka membenciku. Tujuanku baik kok.”
__ADS_1
“Iya sayang iyaaa, aku sih percaya denganmu. Itu juga yang akan kulakukan kalau jadi kau. Belum saatnya mereka tahu rumitnya berorganisasi, aku saja yang menikah denganmu belasan tahun belum bisa terbiasa.”
“Si Kevin semprul itu menolak menggantikanku...” gerutu Pak Artha.
“Dia mau kalau Meneer siap menghadapi kenyataan. Kevin jenis laki-laki yang mengutamakan keluarga soalnya. Meneer masih suka panik dan mulutnya sering keceplosan, jadi belum pantas diserahi tugas sebagai pewaris. Bisa bahaya rahasia perusahaan. Hehe.”
“Sebenarnya dari teman-teman Junot, yang paling siap ya si Rio. Tapi statusnya yang sebagai anak dari Guntur Tyaga itu yang akan menghalanginya. Guntur ‘dimatikan’ oleh Damaskus, karena mengancam negara ini. Dibuat seakan-akan korupsi, padahal jumlahnya tidak pantas untuk hukuman mati. Kita tidak tahu tindakan apa yang akan diambilnya kalau tahu bapaknya meninggal karena dibunuh.”
“Orang akan bilang Damaskus jahat.”
“Tidak ada yang jahat, tapi tidak ada yang baik. Kalau sampai tambang batubara itu beralih kepemilikan, kami bisa goncang. Jadi mudah diserang negara lain.”
“Negara lain?”
“Ya,kalau dari pengusaha mereka gagal, aksinya diubah. Contoh nyatanya untuk membuat generasi muda bodoh, membuat generasi mapannya menganggap nikah itu merepotkan agar menghentikan bayi-bayi lahir jadi tidak punya warga negara lagi dan akhirnya pihak asing bisa masuk dan menguasai dari dalam, atau memprovokasi LGTV agar memicu perang sesama warga negara sendiri di saat kebetulan tiang agama mereka goyah, semua itu untuk memperlemah kestabilan negara sana. Kita tidak mau itu terjadi di negara ini kan?”
“Kalau bukan karena aku cinta padamu, aku lebih memilih menangis di kosan kumuhku daripada di dalam Koeniggsegg 80 miliar.” Kata mamah Wana sambil mengecup pelipis suaminya.
Junot mendengarkan semua itu dengan tangan bergetar.
Bisakah ia jadi seperti ayahnya? Menerima semua rahasia perusahaan?
Saat ini mungkin tidak bisa, tapi setidaknya ia bisa melakukan satu hal.
Ia akan menuruti Ayahnya dan berhenti ngambek. Dia sudah dewasa.
Benar kata Anggun,
Mereka adalah pewaris, walau pun mereka tidak bisa memilihkan dilahirkan di keluarga mana, namun mereka dianugerahi mental yang lebih kuat karena akan lahir di keluarga dengan misi khusus.
Perusahaan multinasional dengan seorang Direksi konglomerat bukan tercipta untuk diri sendiri. Ada peran negara di baliknya. Makanya mereka dibayar lebih mahal, seakan itu untuk kompensasi nyawa mereka dan keluarga mereka.
Di sini, sebagai seseorang yang belum mampu secara ilmu, Junot harus bisa mampu secara pemikiran. Setidaknya ia harus dewasa dulu secara tindakan.
Junot merasa miris.
Lalu ia pun mengetuk kamar orang tuanya.
Dan masuk ke sana setelah terdengar suara Pak Artha mempersilakannya.
Junot pun lekat-lekat menatap mata Pak Artha.
__ADS_1
Lalu berujar,
“Papah... aku minta maaf, atas segala kecerobohanku yang menyulitkan banyak pihak. Apa pun hukuman yang akan kujalani, aku akan terima.”