Rascal In Love

Rascal In Love
Penyelesaian


__ADS_3

Dari bilik di depannya, terdengar obrolan yang lebih pantas untuk tidak diumbar. Mengenai curahan hati antara menantu dan mertua, ibu vs ibu. Seharusnya memang tidak perlu ada perdebatan sepele, namun sebuah rumah tangga pasti ada saja rintangannya. Dan hambatan terbesar biasanya malah datang dari orang terdekat.


Adinda membuka biliknya agar bisa mengobrol dengan Anggun, begitu pun dengan pasien di sebelah Anggun, juga membuka biliknya, si ibu mertua dan menantu yang saking akurnya jadi bisnis bareng.


“Jadi kalian berdua ini mertua menantu?”


“Tiri.” Jawab Anggun dan Adinda serentak.


Si ibu mertua cicih mengangguk, “Pantas usianya sepertinya tidak terlalu beda jauh ya,”


Mereka berdua mengangguk,


Anggun sambil ngemil, sambil menyusui Freya sekaligus Adya. Bisa dibilang Adinda yang menyuapi Anggun sih karena kedua tangan Anggun sibuk menopang dua bayi. Jadi Adinda sesekali memasukkan potongan donat ke mulut Anggun, Tapi mata mereka semua ke bilik di depan Anggun. Mengawasi.


“Saya itu sebagai mertua...” Mertua cicih di sebelah Anggun buka suara, “Merasa kok akhir-akhir ini banyak ya konten yang seakan menantu tuh diperlakukan sebagai budak yaaa. Yah saya tahu hal itu ada, kejadian itu ada, seperti yang kita lihat di depan mata kita sendiri ini. Tapi kenapa makin hari kok banyak konten yang senada dan rasanya kok jadi mengada-ada ya?”


“Sebagai mertua yang sering tak akur dengan menantu...” Adinda mengangguk, Anggun melirik tajam padanya, “Rasanya memang sulit dipercaya ada menantu yang iya-iya saja dengan mertuanya dan suaminya tak membela sama sekali ya. Memangnya ada mertua yang tega banget anak dan menantunya menggelandang di pinggir jalan ya? Misal nih, si menantu nggak mau disuruh cuci piring, terus dia mengusir menantunya begitu?”


“Kejadian itu benar terjadi loh, bahkan di kota besar seperti ini. Lihat deh Isma kurang pendidikan apa coba? Dia bahkan mantan karyawan. Masih dia iya-iya saja sama mertua. Ya setidaknya dia harusnya bisa bicara baik-baik ya apa kek, misal, Mah kita bagi tugas yaaa, aku cuci piring mamah masak. Atau bagaimana kek.” Kata Mertua cicih.


“Mungkin dari awal itu memang mereka tidak merestui pernikahan itu terjadi? Kita harus lihat atas dasar apa mereka menikah. Aku tuh curiga kalau konten-konten di media sosial itu seakan mengompori keretakan dalam rumah tangga loh Bu. Kalau kasusnya KDRT atau penelantaran yang boleh lah ya berpisah. Tapi seringkali yang bercerai malah pasangan yang mulanya baik-baik saja, terus mertua kemakan omongan di medsos, ditambah menantunya sekakan  terdzolimi.”


Mertua cicih mengangguk, “Harus hati-hati kita sama medsos. Bikin yang baik-baik saja jadi tak baik.”


“Terus kami harus bagaimana hah?!” si ibu Mertua Isma tiba-tiba membuka bilik.

__ADS_1


Jelas ia terganggu dengan perbincangan Adinda dan Bu Cicih yang sengaja mengobrol dengan suara keras agar didengar. Tadinya mau berdiskusi, mau curhat, malah jadi dengerin hujatan orang.


“Menantu saya ini nggak bisa apa-apa, ngepel tak bersih, masa kain pel nggak diperas langsung main buat pel lantai! Kan lantai jadi kotor dan becek. Lalu nyetrika kok bisa kebakar berkali-kali. Udah gitu bajunya nggak ada yang mulus. Gimana coba?! Saiful itu sering mengeluh ke saya kalau pulang kerja malah jadi stress karena rumah berantakan, sampai malam-malam dia yang harus membersihkan rumah. Sudah capek kerja, bukannya istirahat malah ngeberesin kerjaan Isma! Saya ini ingin anak saya pulang kerja bisa istirahat makanya Isma saya didik supaya resik!”


“Coba diam dulu bu. Isma, kenapa bisa begitu? Kami ini Tim Mertua nih! Jujur aja bicara!” kata Adinda.


Isma mengerutkan keningnya lalu menggigit bibirnya. “Aku itu disayang banget sama ortuku, Bu. Aku nggak dibiarin megang kerjaan rumah, biarlah mama dan papa saja yang mengerjakan kata mereka. Makanya saat Saiful datang dan berjanji mau memperlakukan aku lebih baik dari orangtuaku memperlakukanku, ya kami menerima pinangannya. Nyatanya aku malah dijadikan pembantu gratisan!” kata Isma.


“Tuh bu! Yang salah siapa?! Udah janji tuh Saiful mau menyayangi seorang putri, malah diubah jadi upik abu!”


“Ya buat apa seorang putri kalau tidak bisa mengurus rumah?!”


“Buuuu, yang nikah itu anak ibu, Saiful, seorang laki-laki! Dia itu memperistri Isma untuk syahwat! Kalau Isma dijadikan pembantu kayak gini yang ada kusam itu wajah, sudah tak bersyahwat lagi si Saiful. Coba ibu ingat-ingat lagi, dulu suami ibu nikahin ibu tuh buat apa?! Jangan ibu lihat dari sudut ibu dong!” sahut Bu Mertua Cicih.


“Miris amat bapaknya Isma, gue rawat anak gue pakai sayang sampai jadi cantik, dibalikin jadi kudisan! Kalo gue jadi bapaknya Isma udah gue tuntut lo sebagai mertua, kenapa anak gue jadi begini!” kekeh Adinda.


“Justru kami bicara begini karena takut kena karma. Kenal istilah Mertua Durhaka tidak bu? Jangan sampai rumah tangga Isma dan Saiful hancur gara-gara ibu loh! Prestasi terbesar pasukan Iblis itu adalah saat membuat rumah tangga yang mulanya baik-baik saja menjadi bercerai,loh Bu.”


“Persis nih seperti yang dilakukan ibu mertua. Dia serang dulu mental si Isma. Si Isma stress  jadi tak merawat diri, terus kerja di rumah juga jadi tak fokus, yang harusnya bener jadi tak benar takut disalahin, akhirnya bertengkar itu suami-istri karena Isma minta dibelain tapi Saiful mempertahankan surganya. Setelah itu Saiful malah tak dapat dua-duanya. Pahala dan rejeki berkah ia tak dapat, surga ibunya apa masih pantas disebut surga kalau ia mendzolimi orang lain? Coba pikir dulu bu, jangan kemakan Medsos! Ibu itu paling tua justru harusnya bisa berpikir bijak!”


“Kami bicara begini supaya rumah tangga anak ibu baik-baik saja ya bu, masa ibu tak terharu sih melihat Isma mempertahankan Adya, nangis-nangis sampai sujud begitu? Sebagai seorang ibu, ingat tidak perjuangan ibu dahulu saat mengasuh Saiful dan saudara-saudara Saiful? Pasti jatuh bangun kan?!”


Diserang dari dua belah pihak, oleh sesama mertua pula, membuat Ibu Mertua isma tak bisa berkata-kata.


Sejenak ia terdiam di sana, hanya berdiri dengan pandangan wajah nanar.

__ADS_1


Sampai Isma menyentuh lengannya dan menggenggamnya.


“Bu, aku anggap ibu sebagai ibuku sendiri. Jadi tolong bimbing aku bu. Agar aku bisa jadi seorang Putri sekaligus berguna di rumah tangga. Aku ingin bisa dua-duanya. Bu... Aku juga ingin menjadi ibu yang baik bagi Adya dengan caraku sendiri. Mohon mengerti ya bu. Aku ini wanita pilihan anakmu Saiful dari sekian banyak wanita di sekelilingnya. Ditambah dia bersumpah langsung di hadapan Allah untuk membahagiakanku. Jadi aku adalah janjinya kepada Allah bu. Kita bicara ya bu... kali ini dari hati-ke hati. Aku mohon?” ajak Isma.


Perlahan bilik itu pun tertutup rapat lagi.


Anggun dari tadi hanya diam.


Inilah yang ia tunggu,.


Aksi Isma.


“Mah, donat,” desis Anggun.


“Elah, makan lu banyak banget sih? Tandem sih ya!” Omel Adinda sambil memasukkan potongan donat ke mulut Anggun.


“Sabar dikit ngapa sih, katanya ke sini buat jagain gue?!”


“Jagain bukan ngurusin! Haisss... gue jadi laper juga kaaan!”


“Donat gue itu! Beli sendiri dong!!”


“Duh... ada lagi Bumer VS Buntu... kali ini malah terang-terangan berantem tapi menyayangi...” desis Mertua cicih.


“Mah, toko-“

__ADS_1


“Diam kamu! Lagi sakit malah mikirin toko! Bobok sana!” Ibu Mertua cicih menyuruh menantunya tidur.


__ADS_2