
"Thailand?!" seru Iptu Rayhan kaget. "Di Thailand memang ada gangster?!"
Rio dan Anggun mengangkat bahunya. Sekitar 5 menit setelah Adinda pergi, Iptu Rayhan datang. Mereka sempat kejar mengejar dengan ojek online yang di bonceng Adinda tapi akhirnya lolos juga.
Herannya, saat di cek di Bandara, tidak ada nama Adinda ataupun Erinda Vanni yang terdaftar sebagai penumpang dengan pesawat tujuan ke Thailand. Lagipula, jam segini tidak ada penerbangan untuk ke Thailand.
Ada penerbangan ke Thailand, ke Pattaya, tapi besok pagi.
"Jadi ada kemungkinan. Adinda masih di Indonesia kalau pesawatnya besok pagi," desis Iptu Rayhan.
Anggun kini sedang di bar, ia menyuapi Hana dengan bubur bayi. Hana makan dengan lahap. Untuk ukuran bayi yang sering di titipkan di sana-sini, Hana termasuk gemuk.
"Lucu kamu lucuuuuu!" berkali-kali Anggun menciumi pipi gembil anak itu.
Lalu Laras menghampiri Anggun, tangannya menarik-narik celana gadis itu dan membuka mulutnya. Minta disuapi juga.
"Kamuuu ini aja, aaaaak," Anggun perlahan menyuapi Laras dengan potongan waffle.
"Yummy!" kata Laras sambil mengunyah dan mengacungkan kedua jempolnya.
Sepertinya ia tahu kata-kata itu dari youtube.
"Rioooo, pinter-pinteeer," desis Anggun. "Nggak kayak ibunya!" dan ia pun sewot lagi.
Iptu Rayhan mondar-mandir sambil menelpon banyak orang. Di luar rumah banyak anggotanya yang berjaga.
"Pak Iptu bisa di pecat dong kalau saksi kabur dari safehouse?"
Iptu Rayhan langsung menatap Rio dengan malas. Pertanda Rio benar.
"Diskors aja sudah mimpi buruk untuk saya,"
"Selain itu harus kehilangan gebetan juga…" tambah Rio.
"Diam kamu, bocil tapi menikah," geram Iptu Rayhan sambil menatap tajam ke arah Rio.
"Skorsnya bisa dobel ya Pak? Nggak bisa naik jabatan berapa tahun?" kekeh Rio.
"Heh-"
"Adinda bertanya ada kenalan konglomerat yang punya backing anggota mafia atau tidak. Maksudnya apa ya Pak?"
__ADS_1
"Entahlah, dia bilang mau minta dukungan materil dan tempat tinggal,"
"Pak Iptu nggak punya kesempatan dong," desis Rio.
"Ck!"
"Saya sebenarnya kenal, tapi saya nggak kasih tau dia,"
"Siapa Konglomerat yang punya bekingan mafia?"
"Papah mertua saya, Bossnya kan mafia terselubung,"
"Aaah benar juga,"
"Tapi kalau mereka sampai dekat, bisa gawat. Hubungan kami jadi kusut,"
Iptu Rayhan malah bilang "Syukurlah kamu nggak ngomong,"
"Takut yaaaaa, Duda impian banget tuh si Papah. Kaya, mapan, ganteng. Kalah kelak Pak Iptu!"
"Kamu dari tadi santai banget sih! Saksi atas kasus kamu kabur loh!"
"Ah paling dia masih di Indonesia. Di tas Chanelnya ada Ipod punya Anggun, tuh dia di-"
"Pantesan kamu dari tadi tenang-tenang!"
"Tuh, biang keroknya," Rio menunjuk Anggun, gadis itu hanya terkekeh.
"Kenapa sih orang sinting dapet jodohnya cewek pintar?! Mubazir banget!" gerutu Iptu Rayhan.
"Lagian udah emosi duluan kekasih hatinya kabur…" kekeh Rio.
"Anggun, hape kamu saya pinjam dulu untuk pelacakan!"
Anggun hanya mengibaskan tangan meminta Iptu Rayhan cepat pergi.
Sepeninggal Iptu Rayhan, Anggun duduk di sofa sambil memeluk Hana.
"Udah kenyang, langsung tidur, hihi!" desis Anggun sambil menoel pipi Hana.
"Kamu pantes juga nggendong anak, makin terasa keibuan,"
__ADS_1
"Tampangku tua dong ya,"
"Nggak, tapi memang tampak lebih dewasa dari usia."
"Kamu lagi ngomongin diri sendiri ya?"
Rio terkekeh sambil menggendong Laras dan membawanya ke sofa untuk nonton kartun.
"Mamah tiri kamu gila. Hubungan haram ia lakukan! Apa sih maksudnya? Kesempatan dalam Kesempitan?!"
"Hm," mana bisa Rio menjawab, ia sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap. Saat itu ia tak tahu siapa Adinda. Yang jelas wanita itu sudah menyelamatkannya. Dan bagaimana pun Rio berhutang budi pada wanita itu.
"Kalau kutuntut dengan tindakan asusila bagaimana?" tanya Anggun.
"Aku kena dong," gumam Rio.
"Kamu kan dalam keadaan terikat,"
"Saksinya siapa?"
Anggun mencibir.
**
Malam itu tenang. Dengan anak-anak yang tidur dengan nyenyak, dan Rio yang mendengkur setelah dapat jatah lagi dari Anggun.
Namun...
Anggun berdiri dengan tegang di depan cermin.
Di depannya ada alat test kehamilan.
Menunjukkan tanda dua garis merah.
Dia sedang hamil.
Yang jelas... bukan anak Rio.
Dengan gemetaran Anggun duduk di atas closet, menunduk sambil memeluk dirinya. Ia ketakutan.
Hal yang sudah lama ia takutkan muncul.
__ADS_1
Ia ingin memberitahu Rio, tapi melihat pemuda itu tidur pulas, ia tak tega memberitahukannya.