Rascal In Love

Rascal In Love
Menghilang


__ADS_3

“Kamu bikin heboh apa lagi kali ini?” kekeh Rio saat datang membawakan donat untuk Anggun. Sementara Pak Banyu tiduran di ranjang Anggun sambil mengutak-atik ponselnya. Anggunnya sendiri baru kembali dari bilik ujung untuk bergosip.


Anggun melirik bilik Isma yang kini tertutup. Sempat ia mendengar Saiful berbicara dengan nada agak tinggi, meminta ibunya untuk berdamai dengan Isma karena Istrinya itu berteman  dengan Anggun, putri semata wayang CEO-nya.


“Miris...” kata Anggun sambil menggelengkan kepalanya. Ia membawa kardus donat ke bilik ujung. Lalu kembali lagi dan memeluk Rio. “Dan aku sayang kamu.” Kata Anggun.


Rio membalas pelukan Anggun, “Kubilang jangan terlalu stress memikirkan masalah orang lain, Anggun,” desis Rio. “Seringkali kalau kamu dipertemukan Illahi dengan seseorang yang memiliki permasalahan hidup, tidak dimaksudkan untuk kamu menolong orang itu dengan tangan kamu sendiri. Melainkan agar kamu belajar mengenai hidup. Ingat kamu memiliki keterbatasan, dan tidak semua yang ditolong itu memiliki niat baik padamu.”


Anggun mengangkat kepalanya dan menatap Rio. “Dari mana kamu tahu kalau aku baru saja membantu temanku?”


“Dia bukan teman, Anggun. Dia hanya seseorang random yang kebetulan satu bilik denganmu. Kalau bukan kamu yang menolongnya akan ada orang lain yang menolongnya, sesuai takdir saja. Saat ini memang sudah jalannya dia, kalau suaminya adalah karyawan papah.”


“Itu dia yang kumaksudkan dengan ‘miris’.”


“Coba jelaskan?”


“Uang berbicara di sini. Miris. Jabatan dan kedudukan Papahku menyelamatkan Isma. Bagaimana kalau kami bukan orang kalangan atas? Bayangkan kalau Papah bukan atasan si Saiful itu, menurut kamu apa yang akan terjadi?”


“Yang terjadi selanjutnya bukan urusan kamu Anggun. Banyak manusia minta dibantu. Miliaran jumlahnya. Tapi kamu hanya manusia. Bahkan setara Dinsos saja tidak semua bisa membantu Rakyat.”


“Aku merasa harus membantu, Rio. Aku pernah berada di posisi mereka. Dan saat itu kamu datang.”


“Tuhan yang maha membolak-balikkan hati manusia. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa jadi teman kamu diberi kekuatan untuk melawan ketakutannya, bahkan pergi dan minta cerai dari suaminya, bisa juga dia tetap di rumah itu dan berdoa sebisa mungkin kepada Illahi agar Allah membolak-balikkan perasaan mertuanya. Kebetulan saja kali ini Papah kamu jadi perantara solusinya.”


“Hm... penjelasan kamu tidak masuk di akal tapi itulah yang benar.”


“Tidak ada AksiNya yang masuk di akal manusia, sayang.”


“Kamu benar. Sepertinya aku harus membatasi diri.”


“Freya gimana?”


“Lagi nunggu giliran mandi katanya, nanti jam 10 dibawa padaku.’

__ADS_1


“Dan kamu udah jalan-jalan aja,”


“Nasibku masih lebih baik bisa lahiran normal. Ibu-ibu yang secio di ruangan ini belum pada bisa turun dari tempat tidur.”


“Banyak-banyak bersyukur kamu.”


“Hehe...”


Saat mereka sedang berpelukan dan manja-manja, dari arah pintu masuk datang aparat berseragam. Ruangan langsung hening saat sosok itu masuk.


“Selamat Anggun.” Iptu Rayhan merentangkan tangannya dan menghampiri Anggun.


Anggun datang padanya dan menyambut pelukannya. “Duuuh Pak Iptu kenapa dirimu datang dengan seragam sih, kan kita jadi salting loooh!” desis Anggun.


“Bukan mau nangkap Rio kok, udah bosen ngeliat biang kerok Ketua geng motor.”


“Sekarang udah jadi Ketua-an buat jadi anak SMA,” timpal Rio.


“Sst sst sst! Diam dulu, tutup bibir lo itu!” Anggun menjulurkan telunjuknya. Lalu ia pun menunduk dan mendekati perut Adinda, ”Adekku sayang, adekku yang soleeeh. Nanti kalau sudah lahir, apa pun yang terjadi tolong maklumi tindakan mamah kamu yang semprul ini yaaaa,”


“Jangan gitu dong Nggun! Gue kan jadi terharu! Ah rese banget sih lo!” gumam Adinda sambil menyeringai.


Dan Anggun pun mencium perut Adinda. Lalu saat berdiri tegak dia mencebik ke arah Adinda. “Gue ngomong sama anak lo, kenapa jadi lo yang terharu? Baperan lu!” omel Anggun.


“Terserah lo dah,” balas Adinda.


Tapi gurauan mereka tiba-tiba terhenti sampai di sana. Karena saat mereka pikir keadaan sudah membaik, Dokter Kemala memasuki kamar perawatan dengan wajah tegang.


“Anggun, Rio, Pak Banyu... mohon ikut saya ke ruangan Kepala Rumah Sakit,” kata Dokter Kemala.


“Hah?”


“Ah! Kebetulan ada Pak Iptu, kalau berkenan dan ada waktu senggang boleh ikut juga Pak, sepertinya kami memang membutuhkan bantuan polisi saat ini,” kata Dokter Kemala.

__ADS_1


**


“Freya diculik?!” seru semuanya terkejut.


Bahkan Anggun langsung merasa seluruh tubuh bergetar. Rasanya dunianya runtuh saat itu juga. Bayi yang belum sempat ia gendong, kini menghilang? Anaknya, Freya...


“Kami sudah memblokade semua pintu keluar saat ini, namun kami belum bisa memblokade pintu masuk demi kepentingan pasien-pasien emergency,” kata Kepala Rumah Sakit.


“Ini tersangkanya Pak, dia keluar dari tangga darurat dan masuk ke ruang bayi memakai seragam suster, pemilik seragam dan Name tag kini terbaring kemas di toilet wanita lantai 5. Sepertinya di sana penyergapan terjadi, lalu tersangka masuk ke Tangga darurat untuk turun ke lantai 3. Menggunakan masker dan masuk ke ruang bayi.” Begitu penjelasan salah satu sekuriti ruang server sambil menunjuk layar besar di ruang Kepala Rumah Sakit yang berisi gambar-gambar kecil. Layar itu menampilkan banyak tangkapan CCTV.


“Dan ini tangkapan CCTV dari tangga darurat,” Sekuriti menekan tombol dan mengarah ke suasana di dalam tangga darurat. Terlihat seseorang masuk ke sana dan mengenakan masker. Tapi wajahnya yang tanpa masker sempat terlihat beberapa saat.  “Gambarnya memang tidak terlalu jelas karena suasana di dalam tangga darurat gelap, tapi siapa tahu kalian mengenali-“


“Intan.” Desis Rio langsung.


“Intan?” tanya Anggun.


“Iya, aku kenal dia, aku kenal gerak-geriknya. Namanya Intan, pacarnya Andri,”


“Siapa Andri? Siapa Intan!” tanya Anggun mendesak Rio.


“Intan siapa nama lengkapnya, biar kami cari di data base Dukcapil,” kata Iptu Rayhan.


“Intan saja aku kenalnya, aku tidak terlalu tahu nama lengkapnya. Tapi dia anak kampus Amethys.” Kata Rio.


“Coba putar rekaman ke sebelum ia memasuki toilet. Saya ingin lihat sosoknya yang sebenarnya sebelum memakai seragam suster.”


“Ini Pak, sudah kami print kan,” kata sekuriti sambil memberikan rekaman dan print out gambar berwarna.


“Kalau dilihat kejadiannya sekitar setengah jam yang lalu. Mudah-mudahan bayinya belum dibawa keluar dari RS. Amati setiap pintu keluar apakah ada yang ciri-cirinya seperti suster ini, atau wanita ini.”  Kata Iptu Rayhan.


Anggun limbung. Adinda menahan tubuhnya dan memeluknya. “Kuat Nggun, Kuat! Freya tidak apa-apa, dia masih ada di rumah sakit, pasti!”


“Kenapa... apa salahku? Kenapa?” isak Anggun. Ia tak tahan lagi untuk tidak menangis. Freya belum minum sejak dilahirkan, pasti anak itu dalam keadaan lapar sekarang.

__ADS_1


__ADS_2