Rascal In Love

Rascal In Love
Double J (1 of 3)


__ADS_3

Anggun mengernyit saat mendengar keterangan dari Iptu Rayhan mengenai permasalahan Intan.  Lalu wanita itu menggeleng. “Turut sedih, Pak. Tapi saya tidak akan mencabut laporan saya. Saya tahu ketakutan saat diculik, dan saya tidak akan mentolerir tindakan itu.” Kata Anggun tegas.


“Kalau kami telat beberapa detik saja, sudah entah ada di mana Freya sekarang!” tambahnya.


“Tidak ada yang minta kamu mencabut laporan. Intan bahkan tidak ingin didampingi pengacara. Ia ingin mendekam di sel. Dipikirnya sel itu tempat healing kali ya.” Kata Iptu Rayhan.


“Abbas belum tahu kan perihal kasus saya dulu?”


“Coba kamu tanya Rio.”


“Aku nggak bilang apa pun mengenai Anggun.” Kata Rio.


“Jangan ada yang bilang, seerat apa pun hubungan persaudaraan kalian, sampai aku yang mengumbarnya sendiri. Aku belum siap. Dan seharusnya Abbas tidak terlalu dekat-dekat dengan Intan!” kata Anggun.


“Itu bukan urusan kamu sayang. Tapi aku percaya dengan Abbas. Aku nggak bilang siapa-siapa mengenai kasus kita dulu. Tapi perihal Andri memang cukup berbekas di benak anak-anak.”


“Ngomong-ngomong... siapa Jenny?” tanya Anggun agak sewot.


Rio terkekeh, “Entahlah dia tiba-tiba ada dan mengejar-ngejar Junot.” Kata Rio.


“Tidak mungkin se-simple itu. Sekelas Om Artha tidak mungkin merestui seseorang masuk ke dalam keluarganya begitu saja!”


“Jennifer Avramm ya...” Iptu Rayhan menekan beberapa nomor di smartphonenya dan menelepon seseorang. “Aku memeriksa databasenya, tapi secara ilegal. Siapa tahu ada hubungannya dengan cyber crime. Sebentar ya.”


“SI Meneer bukannya lebih gape retas data ya?”


“Gaes!!” Meneer datang dengan terburu-buru. Dia bahkan menarik Abbas yang ia temui di lobby rumah sakit untuk masuk ke dalam kamar pasien. “Junot mana?!”


“Nggak dateng.” Jawab Rio pendek,.


“Nggak percaya gue banget sih! Gue tadi kan udah bilang Junot nggak di sini!“ gerutu Abbas.


“Gila si Junot harus ketemu!! Jennifer Avramm itu-“


“Detektif Swasta.” Desis Iptu Ryahan


“Detektif Swasta!!” seru Meneer. Mereka berujar berbarengan.


“Hah? Detektif Swasta?” desis Rio dan Anggun.


“Naudzubillah Min Dzalik, apa lagi sih ini?!” keluh Abbas.


**


Kantor Opal Grup


Jennifer berjalan di belakang Junot saat memasuki lobby gedung kantor Papah Junot. Di sudut matanya saat menoleh sedikit ke belakang, ia bisa melihat gadis itu berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam dua saku celana baggynya.


Tapi mata Jenny tak lepas menatap Junot.


Rasanya perilaku Jenny lumayan aneh di mata Junot. Di saat gadis lain menghindarinya, menganggapnya teman, bahkan sering kali malah menganggapnya ‘hanya adik’, cewek se-sangar ini malah minta dijadikan pacar.


Rasanya terlalu tidak mungkin.

__ADS_1


Ditambah, Junot sendiri tidak memiliki perasaan suka ke Jenny. Di matanya sosok Jenny adalah gadis yang akan ia hindari karena ia kurang suka dengan ‘masalah’. Sementara Jenny terlihat seperti gadis yang ‘bermasalah’ atau menyukai tantangan.


Junot pun berhenti melangkah dan menatap Jenny.


“Kenapa jalan di belakangku?” tanya Junot.


Jenny pun menyeringai, “Nanti kalau di sebelah kamu, kamunya lari...”


“Jujur saja ngomongnya...”


Jenny diam sambil tersenyum.


“Nggak pingin aku jadi bahan omongan di kantor papahku sendiri? Begitu? Karena kalau jalan berdampingan, kentara banget tinggi badannya ya?!” tanya Junot dengan nada sinis.


“Bukan aku yang ngomong.” Desis Jenny sambil tersenyum.


“Kita nggak ada hubungan apa-apa. Kamu sini jalan di sebelahku, Aku kan nggak tahu kamu maunya ke mana.”


“Ke ruangan papah kamu, yang pasti.”


“Satu gedung ini dianggap papahku adalah miliknya, jadi tolong kamu jalan duluan. Aku ikuti dari belakang.”


Jenny menyeringai. Lalu mengulurkan tangannya. “Aku mau jalan di depan kamu, kalau kamu mau kugandeng.” Kata Jenny.


“Aku nggak suka gandengan, malah berasa adek kakak,”


“Kepercayaan diri kamu ringkih sekali sih Justin,”


“Junot.”


“Teman-temanku manggil aku Junot, Orangtuaku juga, keluargaku yang lain juga.”


“Aku suka nama Justin. Lebih ‘cowok’.”


“Oh, karena aku ke-cewek-cewek’an ya?”


Jenny terkikik geli. Di hadapannya Junot sensitif sekali. Ia akan membahasnya saat tiba-tiba di sebelah kirinya, keluar dari toilet umum di samping tangga darurat, keluar beberapa cleaning service dengan troli.


Berapa sih gaji Cleaning Service? Kok bisa-bisanya pakai sepatu Air Jordan asli? Apa belinya di pasar gelap? Begitu batin Jenny.


Akhirnya Jenny meraih tangan Junot sedikit memaksa, menggenggamnya dan menariknya ke arah lift.


Mereka dan Cleaning Service itu bertemu di depan lift. Jenny menatap mereka lekat-lekat dan mempersilakan mereka duluan masuk.


Tapi para Cleaning Service malah mempersilakan Jenny dan Junot masuk lebih dulu.


Jenny menyeringai, lalu mundur dan menarik Junot ke arah Lift Direksi yang kosong.


Ia mengeluarkan kartu VIP, lalu men-tab tablet password. Lift Direksi terbuka. Jenny dan Junot naik ke atas lewat lift Direksi.


“Darimana kamu dapat kartu itu? Aku yang anaknya owner saja bahkan nggak punya.” Tanya Junot.


“Kamu akan punya kok, saat nanti jadi Direksi.” Jenny menjepit kartu VIP di bibirnya lalu menekan beberapa tombol lift. Sementara tangan yang satunya tetap menggandeng tangan Junot.

__ADS_1


Walaupun Jenny tampak gahar, tapi tangannya lentik dan lembut.


Dilihat-lihat sebenarnya ukurannya malah lebih besar jemari Junot.


“Kita mau ke lantai 15 kenapa yang ditekan-“


“Sssh...” desis Jenny sambil menempelkan telunjuknya ke bibir Junot. Ia ambil kartu di bibirnya, ia selipkan di kantong celananya dengan cepat.


Lalu ia raih rahang Junot dan ia angkat kepala cowok itu supaya menghadapnya.


Dan Jenny pun membungkam Junot dengan ciuman.


Lumayan panas gayanya saat berciuman di lift.


Permainan lidah, ambil menyesap dalam-dalam, seakan ia rindu sekali dengan Junot.


Junot sampai tak bisa berpikir lagi.


Apalagi... ia belum pernah berciuman.


Ia tak tahu harus apa.


Jenny melepaskan ciumannya saat lift berhenti di lantai 10, dan di luar terjadi kegaduhan. Dua orang sekuriti masuk ke dalam lift. Jenny menyerahkan kartu VIPnya, mereka ganti dengan yang baru.


“Air Jordan merah hitam, yang satunya pakai jam tangan  Richard Mille, seragam Cleaning Service.” desis Jenny.


“Astaga berani-beraninya mereka sampai ke sini...”


“Hah?!” Junot hanya bisa ternganga. Lift berhenti di lantai 12 dan Jenny menarik Junot keluar. Di sana sudah banyak bodyguard Pak Artha.


“Yuk, naik tangga darurat saja,” kata Jenny sambil tersenyum. Herannya dia tetap santai.


“Kenapa?”


“Di atas sudah ada Mamah kamu dan Om Artha. Untuk hari ini, kalian bermalam di sini saja ya. Kami akan melakukan ‘pembersihan’. Hehe.”


“Maksudnya?!”


"Nanti Om Artha yang akanjelaskan, tapi yang harus kamu tahu... kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Bukan karena pekerjaan."


"Pekerjaan apa maksudnya?!"


Tapi Jenny tak menjawab. Ia menerima laras panjang dari salah satu bodyguard, lalu menyampirkannya di belakang punggungnya.


Di tangga darurat sudah ada banyak sekali asisten ayahnya. Termasuk dua orang asisten utama Pak Artha, yang bernama Pak Chandra dan Pak Bira.


"Jenny," sapa Pak Chandra.


"Mohon izin Pak,"


"Silakan."


"Orang tua saya bagaimana?"

__ADS_1


"Sudah selamat mendarat di Singapura."


"Terima kasih." desis Jenny sambil menggandeng Junot dan naik ke lantai 15 melalui tangga.


__ADS_2