
Pak Toro mencengkeram leher Intan dari depan dan menariknya paksa. Bibir bapak separuh baya itu monyong sekakan ingin mencium Intan.
BRAKK!!
GROOOOONG!!
Terdengar suara gaduh di depan dan mobil itu bergoncang hebat.
Motor rakitan berlist emas naik ke atas kap sedan mewah itu.
Intan sampai terperangah melihatnya.
Ban motor itu dihantam ke kaca depan mobil.
Retak sedikit.
Lalu beberapa orang memukul kaca mobil di samping Pak Toro.
“Keluar lo Bang sat!!” seru salah seorang pemuda yang ada di atas motor.
Motor itu turun, tapi kemudian dia gerung lagi mesinnya dan naik lagi ke atas kap depan mobil, kali ini goncangannya lebih kencang dari yang tadi.
Pak Toro panik dan pegangannya ke Intan mengendur.
Intan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tuas kunci ke depan.
Lalu ia buka pintu mobil dan ia lari dari sana.
**
“Ini, minum. Atur nafas lo pelan-pelan saja,” seorang pemuda kira-kira seusia Intan menyerahkan gelas plastik yang isinya cairan berwarna merah.
Intan mengerutkan kening sambil memandangnya.
“Buat anget-anget biar lebih santai, hehe,” desis pemuda itu sambil menyeringai.
Intan menyesapnya sedikit lalu mengeluarkan lidahnya. “Nggak enak!”
__ADS_1
“Njir dia bilang nggak enak!” seru si pemuda.
“Ya mungkin dia sudah ngerasain yang merk luar. Jangan disamain dong Neng, ngasih lo itu berarti jatah kita minum berkurang!” omel teman si pemuda.
“Lo tapi nggak papa kan? Untung kita sempet denger teriakan lo!”
Intan mengangguk memberi tanda kalau ia baik-baik saja, sementara Pak Toro sudah kabur dengan mobil ayahnya.
Intan sudah menelepon ayahnya dan menceritakannya lewat telepon mengenai kejadian yang sebenarnya, dan kini ia sedang menunggu jemputan.
“Kamu siapa?” tanya Intan.
“Gue Andri, dan itu Enes.” Andri menyulut rokoknya dan menunduk di depan Intan. Ia mengernyit saat melihat lutut Intan yang berdarah saat sempat terjatuh dari mobil karena keluar terburu-buru.
Andri mengeluarkan plester luka yang sudah kumal dari kantong celananya dan membukanya, lalu ia tempelkan di lutut Intan.
“Ntar sampe rumah diganti. Bisa infeksi soalnya.”
“Cuy balik yuk, ngantuk gue semaleman belom molor. Ntar malem ada balap lagi!”kata Enes sambil naik ke motornya
“Nah dia gimana?”
Andri menyeringai ke Enes, lalu menyerahkan botol air mineral ke Intan. “Lo sembunyi ada di sini sampai bokap lo jemput, ada apa-apa ini nomor gue. WA saja... tapi malem saja ya, soalnya siang pasti gue tepar.”
Dan sejak itu, Intan bergaul dengan Andri. Ia jarang di rumah, jarang sekolah, walau pun tetap menjaga agar nilainya baik-baik saja. Yang penting saat ada ujian dia masuk dan nilainya baik. Selebihnya ia menginap di rumah Andri, jauh dari orang dewasa yang sulit ia hadapi.
Dan saat itu, semuanya terjadi.
**
Abbas mendengarkan semua yang dikisahkan Intan dengan serius. Begitu pun Iptu Rayhan dan salah seorang Tim Investigasi yang diundang saat Intan bersedia bercerita. Perbincangan mereka direkam dan banyak saksi.
“Di mataku... Andri bukan orang jahat. Cinta itu mulai tumbuh karena ia melindungiku dari monster yang selalu menatapku. Setiap gerak gerikku di rumah, di sekolah, di mana saja, seakan diamati oleh setan berbentuk manusia. Tapi saat bersama dengan Andri, aku merasa aman.”
“Tapi setelah kami berhubungan dengan lebih intim, Andri mulai jarang bisa dihubungi. Ia sibuk dengan balapan. Dia bilang, kalau berhasil mengambil hati Ketua Geng, ia akan mendapatkan pengakuan. Entah apa yang ia maksud, pengakuan apa bentuknya, aku juga tak mengerti. Tapi Wajah Andri saat berbicara mengenai itu, berbinar seakan ia sangat senang dan bersemangat. Aku hanya ingin menjaga senyumnya tetap ada di benakku. Dan setelah itu... aku hamil, dihitung dari haidku terakhir, jalan masuk 3 bulan. Dan belum sempat kukabari Andri... dia sudah tiada...”
Intan menarik nafas sejenak, lalu menunduk.
__ADS_1
“Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena tingkahku yang keterlaluan. Semoga anak Rio tidak apa-apa. Kupikir di Penjara pasti ada satu dua wanita yang juga tersakiti sepertiku, se-pengalaman denganku. Dunia di luar sana tidak mengerti permasalahan kami. Jadi aku memilih lebih baik tetap di penjara saja.”
Dan Intan pun menyudahi ceritanya.
Abbas bersandar duduk di kursi plastik sambil melipat kedua lengannya di depan dadanya.
Lalu ia menatap ke arah Iptu Rayhan meminta pendapat pria itu.
Iptu Rayhan mengangguk sekilas.
Lalu Abbas pun memberi Intan jawaban.
“Aku dan Rio Akrab karena kami satu sekolah. Juga karena latar belakang kami tidak diketahui oleh Andri, Enes dan anggota yang lain. Bahwa kami hanya anak-anak orang kaya yang mencari kesenangan dan mencoba berlagak menjadi kaum pinggiran, hanya agar lepas dari bayang-bayang orang tua konglomerat kami. Rio sendiri bapaknya baru meninggal bunuh diri saat kejadian Andri terjadi.” Kata Abbas.
“Andri dan Enes tidak akan bisa masuk ke cirlce kami, sebesar apa pun ia mencoba. Baik itu menggantikan Lap Rio sampai menjadi yang terhebat di balapan, ia tidak akan bisa masuk jadi salah satu dari kami. Latar belakang kami berbeda, Intan. Itu yang tidak mereka tahu. Dan setelah ada kejadian ini, kami semua sadar kalau tidak seharusnya kami bermain-main dengan perasaan orang lain...”
Intan menunduk.
“Aku sudah duga Rio bukan orang sembarangan saat melihat... istrinya.” Intan mendengus sinis. “Seandainya Andri tahu dari awal, kalau sia-sia saja nyawanya melayang...”
“Dari awal, kami sudah tahu nyawa kami akan sia-sia kalau melayang, ini balap liar. Kami mengganggu ketertiban umum, mengancam keselamatan pengendara lain, orang-orang tak berdosa, pengguna jalan... Dan Rio sampai akhir ada di arena itu, mengumpulkan satu persatu tubuh Andri, di saat kami semua... kabur berlarian pulang.” Kata Abbas.
Iptu Rayhan melirik Abbas.
Lalu diam.
Iptu Rayhan mengetahui dari salah seorang anggota kepolisian, seharusnya Rio memang ditangkap saat itu. Tapi ada jaminan yang sangat besar untuk kebebasannya.
Teman-teman konglomeratnya datang kembali mengikuti Rio diam-diam, mengumpulkan uang mereka untuk kebebasan Rio.
Dan Abbas, Junot, Meneer dan Agung, tidak ingin Rio tahu.
Jadi Iptu Rayhan juga tidak ingin bicara mengenai hal itu.
Abbas benar... Andri dan Enes tidak akan bisa masuk ke circle Rio, seberat apa pun Andri mencoba.
Karena pertemanan mereka sudah lebih erat dari saudara sedarah.
__ADS_1
“Intan... setelah bebas dari sini, tunggu aku jemput kamu ya. Kamu nggak akan kubiarkan sendiri.” Begitu kata Abbas. “Aku ambil alih tanggung jawab Andri. Nggak usah ganggu-ganggu Rio lagi.”