
“Lo Rio ya? Rio Tyaga bukan?” seseorang yang tidak Rio kenal menepuk punggungnya dan menatapnya dengan wajah penasaran. Rio mengangkat alisnya karena ia tidak mengenal cewek itu. Saat ini mereka sedang berada di Amethys University, Rio sedang melakukan pendaftaran ulang untuk dimulainya semester perkuliahan.
“Iya, dari mana lo kenal gue?”
“Gue temen Andri, drag race yang nabrak mobil.”
Rio menarik nafas.
Kejadian itu sudah lama, sekitar satu setengah tahun lalu, saat ayahnya tertangkap kasus korupsi dan Rio saking stressnya menghabiskan waktu di arena balap liar.
Saat itu malam mencekam, agak mendung, Junot sudah minta pulang tapi Rio ingin tetap di sana sampai larut. Yang penting ia tidak pulang ke rumah.
DI antara teman-teman drag racenya, ada yang bernama Andri dan Enes. Duo paling ‘ancur’ di sana, dari kampung terdekat, sebuah perumaha yang letaknya di area kumuh, mereka sering kali memasang taruhan atas nama Rio. Uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya dan sisanya untuk mabok-mabokan.
Rio tidak terlalu kenal mereka, hanya tahu kalau mereka ada.
Malam itu dia memang sedang mabok berat, jadi Rio tidak melanjutkan pertandingan. Di ujung sana beredar kabar kalau polisi sedang menuju arena balap, tapi pertandingan tinggal satu lap lagi.
“Gue nggak lanjut, yang bisa gantiin silakan,” desis Rio, seingatnya, saat itu. Bagaimana pun mereka akan unggul karena Rio sudah menyelesaikan beberapa lap, tinggal sedikit lagi tambah score mereka akan menang. Jadi Andri dan Enes yang dari seawal memang pemain cadangan, mengajukan diri untuk ‘menantang angin’.
Beberapa orang cewek-cewek dari club sudah mengerubunginya untuk memberikannya servis gratisan. Rio ingat saat beberapa jilatan di are pribadinya,
BRAKKK!!
Suara kencang sekali sekitar 10 meter dari tempat mangkal mereka.
Rio langsung tersadar, ia langusngtahu suara apa itu.
Lalu bilang ke Junot Cs untuk segera pergi dar sana.
“Ada apa tuh?” Abbas tampak menjulurkanlehernya.
Rio langsung mendorong merek asupaya pergi, Lari semua! Lari!!” serunya.
‘Tapi yo-“
“Lari, kata gue! Raib lo semua!!”
Rio bisa mendengar kalau Junot langsung berteriak, “Itu Andri!! Bro Andri Bro!!”
Suasana Chaos saat itu, Meneer langsung menarik Junot dan memboncengnya. Semua orang berlarian, sementara hanya beberapa yang tinggal di sana, termasuk Rio yang langsung membenahi bajunya dan ke lokasi kejadian untuk memeriksa situasi pastinya.
Ia hanya melihat, ada City Car warna putih membunyikan klakson berkali-kali.
__ADS_1
Di sekitarnya ada onderdil-onderdil motor yang berserakan.
Dan sepatu Rio menginjak sesuatu yang lembek di aspal saat mendekat.
Potongan daging...
Rio tidak pikir panjang, ia mengetuk mobil Jazz di depannya, pemilik kendaraan membuka jendela.
“Bapak nggak papa?” tanya Rio.
Si Pemilik Kendaraan dengan wajah pusat pasi hanya bilang : “Kalian yang salah!! Kalian yang Salah!!”
“Ya Pak, kami hanya tanya, Bapak tidak apa-apa? Karena polisi segera datang. Istri bapak dan anak bapak aman?” Rio berusaha setenang mungkin, padahal hatinya campur aduk.
Hari itu ia berusaha tetap berdiri di sana, memberi kesaksian sebisanya. Ia sempat masuk bui karena dianggap Ketua Genk karena paling vokal, namun tidak terbukti kalau ia penyelenggara, karena memang bukan dia penggeraknya. Sama seperti yang lain, ia hanya suka nongkrong di sana.
Kembali ke realita,
Cowok di depannya ini mengaku sebagai teman Andri, si drag racer yang menabrak mobil itu.
“Lo juga amo?” tanya Rio.
“Bukan, tapi gue sering denger Andri ngomongin lo. Cerita tentang betapa hebatnya lo di balapan itu. Dia pingin bisa kayak lo.”
“Nama gue Intan. Gue pacar Andri sebenarnya,”
Rio langsung membeku.
“lo... pacarnya?”
Intan mengangguk, “Baru jadian sebulan sih, gue juga nggak setuju dia sering balap. Saat itu gue lagi fokus sekolah soalnya kan lagi musim ujian, jadi gue dan dia sebenarnya dalam posisi lagi berantem tuh. Eeeeh, gue pikir dia ngambek sama gue, semaleman nggak ada kabar. Besoknya dikasih tahu kalau jasadnya bahkan sudah tak berbentuk lagi.”
Rio hanya bisa diam.
“Katanya lo ketua Geng motornya kan? Lo di mana saat itu?”
“Gue nggak balap, soalnya lagi agak mabok jadi bahaya kalo gue terusin.”
“Gue yakin Andri nerusin balapan karena dia respek sama lo. Dia bilang lo lagi kesulitan keuangan jadi dia berniat bantuin lo pasang taruhan. Jadi dia mau ikut balap malam itu.”
Rio tidak pernah minta teman-temannya pasang taruhan demi dirinya, mereka inisiatif sendiri membantunya. Abbas dan yang lain sering bersikeras untuk membantu Rio, namun Rio menolak karena merasa uang yang mereka miliki adalah jajan yang diberikan oleh orang tua mereka.
Jadi Abbas dkk membantu Rio dengan uang hasil jerih payah mereka. Yaitu ikut balapan. Walau pun caranya salah tapi selama 3 bulan uang taruhan itu bisa untuk biaya makan Rio sehari-hari.
__ADS_1
Rio tidak pernah meminta, pun banyak yang memberikan uang padanya untuk sekedar mengambil hatinya. Rio berbakat, tampan, cerdas dan berkuasa. Siapa yang tidak kagum padanya? Mungkin termasuk Andri dan Enes yang jadi korban di sana, mereka ikut balapan karena ingin dikenal Rio.
Mereka tidak tahu... siapa Abbas dkk, circle Rio yang lain, yang sebenarnya latar belakang mereka lebih berpengaruh dari apa pun. Tapi Rio bersyukur sampai akhir, Abbas, Junot, Meneer dan Agung tidak ketahuan dan selamat dari pengamatan polisi. Makanya Rio tetap di lokasi kejadian, untuk mengalihkan perhatian polisi.
“Rio, apa tanggung jawab yang bisa lo berikan untuk kematian Andri?” tanya Intan.
“Hah? Tanggung jawab?”
“Ya, kalau dirunut, bisa dibilang seharusnya yang mati tuh elo. Bukan Andri, Itu kan lap bagian lo,”
“Lo tahu dari mana itu lap bagian gue?”
“Dari semua saksi mantan anak Amo yang di sana saat kejadian.”
“Jadi lo nggak lihat sendiri inti masalahnya?”
“Nggak perlu, semua bercerita hal yang sama,”
“Termasuk soal Andri lagi mabok pas dia nge-gas?”
Intan diam.
“Dia nggak mungkin mabok, gue udah suruh dia berhenti.”
“Nyatanya nggak, lo baca nggak laporan polisi?”
Intan terdiam. Jadi bisa diambil kesimpulan kalau Intan hanya menduga dari kesaksian orang-orang di sana.
“Bukan lo doang yang nuduh gue bertanggung jawab. Dua keluarga nuduh gue. Sampai ditemukan zat adiktif di darah Andri dan Enes, baru mereka bungkam. Ngerti?” desis Rio dengan suara pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Intan.
Intan menatapnya dengan tajam.
“Gue nggak percaya sama lo. Berandal macam lo yang ada hanya kesialan di sekitar lo...” desis Intan. “Dengar Rio, gara-gara lo, pacar gue mati.”
“Gara-gara gue?!”
“Ya. Positif. Gara-gara lo. Tanggung jawab dong!”
“Lo tuh keras kepala ya?! Kalo lo nuduh gue, lo juga harus nuduh 50 anak lain! Karena mereka yang manas-manasin Andri dan Enes buat ikutan tanding.”
“Lo harus jadi pacar gue, gantiin Andri.”
“Hah...?”
__ADS_1