Ratu Malam

Ratu Malam
Part 10 - Suasana malam di desa


__ADS_3

Mario akhirnya mengantar pulang Melisa. dia tidak tega jika seorang wanita harus pulang sendirian di tengah malam seperti ini.


Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana desa di malam hari. sayup-sayup terdengar suara jangkrik dari keheningan malam. udara di malam hari juga terasa dingin namun tetap menyegarkan. langit yang gelap bertabur begitu banyak bintang yang memberikan penerangan.


prak, Melisa menepuk tangannya karena gigitan seekor nyamuk. dia juga menggaruknya karena beberapa kali nyamuk nyamuk itu menghisap darahnya.


"Kenapa digigit nyamuk?"tanya Mario kepada Melisa.


Melisa kemudian mengangguk sambil terus menggaruk tangannya.


"makanya kalau malam hari itu pakai pakaian yang panjang bukan pakaian terbuka seperti ini."Mario melihat Melisa dari ujung kaki sampai ujung kepala.


dengan cepat Marisa menutup tubuhnya dengan sweater yang semula melingkar di pinggang hanya untuk gaya.


Mario langsung tertawa kecil dia begitu geli melihat tingkah dari Melisa. wanita itu mampu membuatnya tersenyum dan tertawa sejenak. Mario yang dikenal sebagai pria yang dingin dan cuek ternyata bisa menyunggingkan senyuman di wajahnya.


...****************...

__ADS_1


Yangkung Brahma dan Yangti Jamilah. terus mencari keberadaan Melisa. cucu semata wayangnya itu benar-benar mampu membuat mereka berdua kebingungan dan mengerahkan beberapa karyawan peternakan untuk ikut mencari Melisa.


"ke mana lagi kita harus mencari anak itu Pak? baru dua hari Dia di sini tapi sudah bikin masalah seperti ini!"kesal Yanti Jamilah.


Yangkung Brahma hanya bisa geleng-geleng kepala. dia tidak mengerti apa yang ada di pikiran cucunya itu. padahal sejak kecil Melisa sangatlah manis dan menjadi anak yang penurut. entah mengapa sekarang Melisa menjadi anak yang sulit diatur dan bertindak sesuka hatinya.


"kita cari dulu ke arah sana. tidak mungkin kalau dia pulang ke Jakarta. tidak ada kendaraan di malam hari." Yangkung Brahma mengajak beberapa karyawan peternakan mencari Melisa lagi.


saat mereka hendak melangkahkan kaki ternyata ada seseorang yang menghampiri dan berjalan ke arah rumah


"Pak lihat, Pak itu bukannya Melisa?" Yangti Jamilah berteriak sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan.


"dokter mario?" Yangkung Brahma langsung berteriak memanggilnya.


"selamat malam Yangkung Brahma."Mario menyapa Yangkung Brahma.


"selamat malam dokter."

__ADS_1


Yangkung brahmat terkejut melihat cucunya bisa bersama dengan dokter Mario.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Yanti Jamilah.


"saya bertemu dengan Melisa di cafe tengah kampung dekat rumah dinas yang saya tempati. Dia meminta saya untuk mengantarnya pulang." jelas dokter Mario.


"Melisa kamu ini habis dari mana saja? kami semua mencarimu kemana-mana!" kesal Yangti Jamila.


"maafkan Melisa Yanti. tadinya aku hanya ingin mencari udara segar, tapi ternyata aku melihat sebuah kafe dan terlena dengan suasananya." Melisa menjelaskan.


"tunggu dulu nenek mencium bau yang tidak asing. kamu habis minum-minuman?" tanya Yangti Jamilah sambil mengendus bau alkohol dari baju cucunya.


semua orang langsung menatap Melisa tajam. Melisa hanya bisa menyengir saja. biar kehabisan kata-kata dan tidak bisa menjelaskan apa-apa.


Mario yang melihat Melisa juga hanya bisa menggeleng-geleng kepala. dia memang sejak tadi mengendus bau alkohol dari tubuh Melisa hanya saja dia diam.


"maafkan Melisa Yangkung, Yangti. Melisa khilaf."

__ADS_1


mendengar kata khilaf membuat Yangkung Brahma menjadi tambah kesal. pasalnya ini bukan khilaf, tapi hal yang biasa Melisa lakukan di Jakarta.


__ADS_2