
Dokter Mario tertawa setelah mendengar bahwa ternyata Melisa sama sekali tidak mengingatnya.
"kita memang dulu pernah satu sekolah Melisa. kamu tahu setelah kejadian itu aku bertekad untuk menjadi dokter itu semua karenamu. aku tidak mau melihatmu sakit. aku tidak mau melihatmu terluka."
deg!
Melisa sangat terkejut mendengar penuturan dari dokter Mario. dia tidak pernah menyangka ternyata dokter Mario pernah menjadi teman satu sekolahnya. dia benar-benar tidak mengingat wajah dari dokter Mario di masa lalu. dia hanya merasa kalau dirinya baru kali ini bertemu dan berbincang dengan dokter Mario di desa Cemara.
"sebenarnya kakekku ingin aku menikah denganmu Melisa. kakekku dan eyangkungmu sepakat untuk menjodohkan kita berdua. namun, aku belum percaya diri untuk mengungkapkan perasaanku dan hari ini mungkin aku bicara seperti ini karena aku takut kehilangan."
terpancar dari sorot mata dokter Mario ketulusan di dalamnya. dia berbicara dengan mata yang penuh dengan cinta.
melisabesan merasakan getaran cinta di dalam hati dokter Mario untuk dirinya, tapi dia belum siap membuka hati untuk pria lain setelah kisah cintanya yang terhianati.
"maafkan aku dokter Mario. bukan maksudku untuk melupakanmu di masa lalu. memang aku tidak pernah ingat dan tidak pernah berbincang kepadamu selama di sekolah. dan untuk permasalahan perjodohan yang direncanakan oleh kedua Kakek kita. aku belum bisa memberikan jawabannya hari ini. masih butuh waktu untukku menyembuhkan luka ini. jadi aku harap kamu mau menunggunya."
__ADS_1
"aku akan menunggumu Melisa. menunggu aku mengatakan rasa suka saja bisa bertahun-tahun lamanya. jadi bagiku menunggu jawaban darimu, aku tidak keberatan. aku akan menunggu jawabanmu dan kesiapan mu."
Melisa kembali menatap mata dokter Mario. setelah itu dia membalikkan badannya dan kembali berjalan pulang ke rumah.
selama perjalanan pulang ke rumah Delisa memikirkan pernyataan cinta dari dokter Mario dan juga tentang perjodohan yang sudah direncanakan lama oleh eyangkungnya.
"apakah aku harus menerima lamarannya? apakah benar eyangkung telah menjodohkan ku dengannya?"Melisa terus bertanya-tanya.
Melisa menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu rumah eyangkungnya.
pintu kayu diketuk oleh Marissa dari luar dan muncul lah eyangtinya dengan wajah yang sangat berseri-seri.
"kamu sudah pulang Melisa? apakah acaranya menyenangkan?"tanya eyangtinya.
"tidak terlalu menyenangkan eyangti. ada sesuatu hal yang membuat rasa bahagiaku tiba-tiba memudar."cerita Melisa sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"ada apa memangnya?"tanya eyangti penasaran.
"itu temanku yang di Jakarta yang tempo hari membuatku kesal. dia ternyata adalah anak dari Bupati desa Cemara."cerita Melisa.
"oh ya? saya tidak tahu ternyata anak bupati itu adalah temanmu. siapa namanya? eyangti mengenalnya."eyangti duduk di samping Melisa.
"ah mana mungkin eyangti mengenalnya. dia itu anak Jakarta. bukan anak desa sini."kata Melisa sambil merubah posisinya.
"tidak ada yang tidak eyangti kenal di daerah sini. kakeknya, buyutnya, cucunya, anaknya semua pasti eyangti mengenalnya."
Melisa bangkit dan duduk di samping eyangtinya.
"namanya adalah Orlando. ya teman sekaligus pacarku waktu di Jakarta. ya ternyata menghianatiku dengan memacari wanita lain. aku tidak terima dan memutuskan dirinya."cerita Melisa dengan sangat terbuka.
"sudah tidak perlu kamu pikirkan lagi. mengenal dirinya. dia itu cucu dari sahabat eyangkungmu. mereka saling mengenal sejak duduk di sekolah dasar."
__ADS_1
Melisa benar-benar terkejut. dunia ini benar-benar sempit. orang-orang yang ada di sekelilingnya ternyata masih memiliki hubungan dekat dengan keluarganya.