
Melisa bersiap-siap untuk kembali bekerja di pusat kesehatan masyarakat. kini setiap hari dia harus bangun pagi dan bersiap-siap untuk menjadi pekerja sukarela.
pekerjaan yang dia kerjakan saat ini begitu sangat mulia. Dia membantu dokter Mario memeriksa kondisi pasien yang sedang membutuhkan pengobatan untuk penyakit yang diderita.
"kamu sudah mau berangkat, Mel?" tanya Yangti kepada Melisa cucunya.
"iya yangti. hari ini kebetulan sekali dokter Mario ada janji dengan pasiennya lebih pagi." Melisa mengancing kerah baju dinasnya.
yang di Jamilah sangat senang melihat perubahan dari cucunya. Sudah berapa hari ini dia perhatikan Melisa lebih bertanggung jawab atas pekerjaan dan hidupnya.
"Yangti senang sekali. kamu mau membantu dokter Mario di pusat kesehatan masyarakat. itu adalah pekerjaan yang begitu mulia Melisa. kalau kamu merasa tertarik bisa saja kamu ambil jurusan kuliah kedokteran. Yangti dan yangku Pasti sangat mendukungmu." Yanti Jamilah berbicara dengan senyuman.
"untuk saat ini sepertinya aku belum berpikir untuk ke sana Yangti. Melisa Masih memikirkan apa yang harus mereka lakukan ke depannya dengan titel yang Melisa punya saat ini." Melisa bicara sambil berjalan ke arah eyangnya dan menutup pintu kamar.
"Melisa berangkat kerja dulu Yangti."Melisa mengecup tangan eyangnya dan berjalan keluar rumah untuk menuju tempat kerja.
...****************...
Lisa sudah sampai di pusat kesehatan masyarakat bersama dengan dokter Mario. hari ini dia dan dokter Mario ada pekerjaan yang penting sekali.
__ADS_1
"Kamu sudah persiapan semua peralatan medis dan obat-obatannya?"tanya Dokter Mario kepada Lisa perawatnya.
"sudah semua Dokter Mario. untuk alat medis juga sudah saya sterilkan. dokter tinggal menggunakannya. dan untuk obat-obatan sudah saya sediakan di atas nakas dokter tinggal memakainya."
Lisa menunjukkan peralatan medis yang sudah disterilkan dan juga di mana dia meletakkan obat-obatan untuk dipakai oleh dokter Mario.
dokter Mario sangat puas dengan kinerja dari Lisa. sejak awal dia bekerja di Puskesmas ini Lisa lah yang membantunya. Lisa adalah anak yang manis dan juga cekatan. anak yang ramah dan juga sangat pintar.
Melisa sampai di pusat kesehatan masyarakat dan langsung menghampiri Lisa juga Dokter Mario.
"Maaf aku sedikit terlambat."Melisa meminta maaf kepada Lisa dan juga Dokter Mario sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"anak baru tapi sudah terlambat."Lisa berkata dengan wajah yang sangat jutek.
"tidak perlu kamu lihat dia seperti itu." Dokter Mario melepas tangannya dan berjalan menuju tempat duduknya.
"Tapi dia seakan tidak suka denganku. apa aku salah menatapnya seperti itu?" tanya Melisa dengan nada kesal.
Melisa menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. dia memang jenis wanita yang tidak ingin cari masalah, tapi kalau sudah terusik dan sakit hati. dia tak segan-segan mengeluarkan taringnya yang panjang dan menyeramkan.
__ADS_1
Dokter Mario bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu ruangan.Namun saat dia hendak membuka pintu ternyata seseorang juga membukanya dari luar. Mario yang terhuyung kebelakang langsung ditangkap oleh Melisa segera.
Melisa refleks ketika melihat kondisi Mario yang akan terjatuh. Baru kini dalam tangkapan Melisa. kedua manik mata mereka juga beradu. Sadar dengan situasi yang canggung ini. Melisa menarik bibirnya ke atas.
"Bisakah kamu bangun?" tanya Melisa yang terlihat mulai keberatan.
Dokter Mario langsung tersadar dan berusaha membenarkan posisinya. Dia berdiri sambil terus berdehem dan membenarkan jas dokternya.
"Maaf dokter. Saya tidak sengaja." Lisa merasa bersalah.
"kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Dokter Mario yang masih menahan malu.
"Maaf, aku bersalah. aku terlalu terburu karena pasien sudah tiba." Lisa bicara dengan sangat cepat.
"Mereka sudah tiba?" tanya Dokter Mario.
Dokter Mario dengan cepat keluar dari ruangannya dan ingin segera menyambut pasien yang sudah ditunggu-tunggu.
"hai, Hellen." Dokter Mario menyentuh lembut wajah Hellen.
__ADS_1
"kamu pasti sangat merindukannya." Wanita berusia sekitar lima puluh tahun bicara sambil ikut mengelus rambut Hellen.
"Aku sangat merindukannya. Aku juga sedih karena dia sakit." Dokter Mario memeluk Hellen.