
Melisa sampai ke rumah yangkungnya. Dia berpisah di persimpangan jalan tadi dengan dokter Mario. Melisa pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri. Terlihat jelas rona kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"Waduh si non. pulang-pulang wajahnya cenghar bener." Pak Udin memergoki Melisa yang sedang senyum-senyum sambil masuk ke dalam rumah.
"Apa itu cehar pak?" tanya Melisa.
"Cenghar non. maksudnya cerah, berseri Kitu. abis si non dari tadi pak Udin perhatiin, non Melisa senyumannya enggak luntur-luntur." Pak Udin menggoda Melisa.
Melisa langsung tersipu malu. Memang benar apa kata pak Udin, dia sejak tadi di perjalanan sampai sekarang masing terus menyimpan senyuman di wajahnya.
"Bisa ajah Pak Udin. Ya udah Melisa ke dapur dulu. takut yangti marah karena belanjaannya telat dateng." Melisa berjalan menuju dapur.
Melisa menyimpan barang belanjaannya di meja dapur dan eyangtinya datang.
"Tadi disuruh ke pasar ogah-ogahan. eh tau-tau pulangnya malahan mukanya keliatan senang banget." Yangti memeriksa plastik belanjaan yang Melisa bawa.
__ADS_1
"Iyah, ternyata ke pasar seru juga. Besok aku yang ke pasar lagi." Ucap Melisa.
"Ah, ini sih bukan mau ke pasar kali, tapi mau ketemu sama dokter Mario." Celetuk yangti.
"Apaan sih yangti. suka ngaco deh. sok tau." Melisa mendekatkan wajahnya ke eyangtinya dan mengecup pipi wanita yang sudah hampir keriput itu.
Eyangti Jamilah semakin yakin kalau perjodohan diantara cucunya dengan cucu sahabatnya akan berjalan dengan lancar dan bisa segera dipersiapkan.
"Sepertinya anak itu sudah mulai menyukai nak Mario. syukurlah, tidak ada drama dalam perjodohan ini. tidak seperti dulu saat aku dan kang Brahma menjodohkan kedua orang tuanya." Eyangti Jamilah tersenyum lebar.
"Eyangti, mari saya siapkan untuk makan siangnya," Kata Surti, asisten rumah tangga eyangti.
"Wah, sepertinya akan ada pesta di rumah ini. saya akan segera ke pasar. saya akan siapkan masakan istimewa untuk menyambut tamu istimewa juga."
Surti langsung bersiap ke pasar setelah menerima sejumlah uang dari eyangti Jamilah untuk membeli bahan masakan.
__ADS_1
...****************...
"Mario, kenapa kamu lama sekali ke pasarnya? biasanya kamu akan secepat mungkin untuk keluar dari pasar." Kakek Arjuna bertanya kepada cucunya.
"Untuk hari ini, karena ada yang berbeda di pasar. Jadi aku terlalu asyik di sana. Maaf ya kek. Oh Iyah ini kopi gilingnya. apa mau Mario buatkan?" tanya Mario sambil menunjukkan kopi yang dia beli tadi di pasar.
"Buatkan saja. Kakek sudah menunggu meneguk kopi khas desa Cemara." Kakek Arjuna duduk di teras depan rumah.
Tak lama setelah Mario masuk ke dalam rumah. ponsel milik kakek Arjuna berdering. Sahabat tercintanya menghubungi dia. Mereka langsung berbincang panjang lebar sampai wajahnya memerah karena tertawa.
"Kek, apa sih yang di ketawain? kayaknya seru banget tadi ngobrolnya lewat telepon." ujar dokter Mario sambil membawa secangkir kopi panas.
"Mario ... Mario, pantas saja ya tadi kamu betah di pasar. ternyata ada wanita cantik yang menemani kamu." Kakek Arjuna kembali tertawa.
"Ka-kakek tau dari mana?" tanya Dokter Mario bingung hingga bicara terbata.
__ADS_1
"Tentu saja dari pembawa berita yang akurat. Ya sudah kamu istirahat dulu. Nanti malam kita ada undangan makan malam. Pakai-pakai yang rapih dan tampil setampan mungkin. Jangan buat wanita cantik itu mengurungkan niatnya untuk bersama mu." Goda Kakek Arjuna sambil menahan tawanya.
Dokter Mario mengerti sekarang maksud dari perkataan kakeknya. Kini wajahnya berubah kemerahan menahan malu.