
Diketahui bahwa Melisa meminjam uang dari dokter Mario. membuat Yangkung Brahma harus menghukum cucu kesayangannya itu.
"Yangkung, please. berikan aku hukuman yang lain saja. aku rela harus membersihkan seluruh kandang sapi. asalkan jangan suruh aku untuk membantu dokter Mario di puskesmas." Melisa meminta dengan penuh harap kepada Yangkungnya.
Yangkung Brahma menggelengkan kepalanya. dia tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. segala alasan yang diberikan Melisa serta penawaran yang diberikan oleh Melisa ditolaknya mentah-mentah.
"tidak ada kata tawar-menawar di dalam hukuman yang telah Yangkung berikan kepadamu. ini adalah hukuman atas segala kesalahan kamu ditambah kamu juga memiliki hutang kepada dokter Mario. dokter Mario meminta agar hutangmu dibayar dengan, kamu membantunya di puskesmas." tegas Yangkung Brahma.
Melisa hanya bisa tertunduk lesu dengan tubuh yang sangat tidak dapat ia gerakan sedikitpun. untuk mengangkat kakinya melangkah saja rasanya ia tidak mampu.
"ingin rasanya aku tergeletak dan pingsan. namun, jika aku melakukan itu malah membuatku lebih cepat menuju ke Puskesmas."
Melisa murung seharian. dia berusaha berpikir bagaimana caranya dia bisa terlepas dari hukuman itu.
"apa Yangkung tidak tahu kalau aku sangat benci dengan aroma rumah sakit atau puskesmas? bagaimana caranya aku bisa bertahan di sana? yang ada Aku bukan membantunya tapi malah akan merepotkannya."
Melisa sejak tadi mondar-mandir di dalam kamarnya seperti gosokan. gadis muda yang sangat energik dan sangat pintar itu. sangat membenci bau rumah sakit. sejak kecil Melisa sangat antis kali jika harus masuk ke dalam rumah sakit. dia lebih baik meminum obat-obatan herbal daripada harus meminum obat dokter. dia juga mau benci seorang dokter. paginya seorang dokter adalah pembual.
pernah suatu ketika saat Melisa kecil. dia terjangkit demam dan diperiksa oleh seorang dokter dari kota. setelah meminum obat yang cukup banyak dan rasanya pahit ternyata Melisa tidak kunjung turun demamnya. akhirnya Yangkung dan Yangtinya memberikan dia obat herbal dari daun antanan. setelah meminumnya keesokan harinya dia langsung bisa bangkit dari tempat tidur dan melakukan aktivitasnya. di saat itulah Melisa mulai berpikir bahwa dokter hanya bisa membual saja.
Sejak saat itu di dalam pikirannya dokter hanya pembohong demi banyak pasien yang berobat di tempatnya.
...****************...
Mario sedang sibuk di puskesmas. dia menunggu kedatangan Melisa yang sudah dia minta untuk membantunya di puskesmas.
"ke mana anak ini. sudah dua jam lebih aku menunggunya di Puskesmas tapi tidak kunjung terlihat batang hidungnya." Mario kembali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"dokter Mario. Maaf pasien semakin banyak kita kekurangan orang. apakah bantuan yang dokter minta hari ini belum bisa datang?" tanya Lusi.
__ADS_1
"aku juga sedang menunggunya, Lusi. kamu siapkan dulu pasien berikutnya, kita menunggunya sambil terus memeriksa pasien." perintah Mario.
Lusi kemudian keluar dari ruangan dokter Mario. Lusi langsung memanggil kembali nomor antrian pasien.
"nomor lima belas." teriak Lusi dari dekat pintu.
Pasien yang di panggil nomor urutnya langsung memasuki ruangan dokter Mario.
Mario langsung memeriksa pasien lagi. ya sebenarnya sangat menunggu kedatangan Melisa agar bisa membantunya meski Melisa tidak memiliki skill sebagai seorang perawat.
lagi Mario kemampuan seseorang itu ada karena terbiasa. seperti dirinya yang selalu memperhatikan ayahnya saat bekerja dan berusaha menirukannya lama-kelamaan Mario bisa dan memiliki kemampuan sebagai seorang dokter hingga akhirnya dia memutuskan belajar di universitas kedokteran.
Meski banyak pasien yang datang hari ini dan Mario bertindak dengan sangat cepat. akan tetapi, dia tetap bekerja dengan fokus dan teliti. dia tidak mau terjadi kesalahan saat memeriksa pasien dan berdiagnosa penyakit mereka.
"pasien selanjutnya."pinta Mario.
dengan cepat Lusi memanggil lagi nomor antrian berikutnya. Lusi adalah salah satu perawat yang ada di Puskesmas ini yang masih bertahan sebelum Mario memutuskan untuk menjadi dokter sukarelawan di desa Cemara.
...****************...
"banyak sekali antriannya. apa sehebat itu dokter Mario? ah, aku rasa setiap dokter itu sama saja. Mungkin dia memakai ketampanannya untuk mengelabui para pasiennya agar terpesona olehnya. sehingga mereka akan kembali ke sana lagi."
Melisa begitu meremehkan kehebatan seorang dokter. ketidakpercayaannya kepada dokter membuat dia merasa kalau Mario juga tidak memiliki kemampuan yang hebat dan hanya mengandalkan ketampanan wajahnya saja.
Melisa berjalan hingga ia masuk ke dalam puskesmas desa Cemara. Dia memakai pakaian yang ada. yang kedua orang tuanya bawa saat mengirimnya dengan paksa ke desa Cemara.
semua orang yang menatap Melisa hanya bisa membulatkan matanya lebar-lebar. rok mini, tank top dan kacamata yang berada di atas kepalanya.
Melisa berjalan lenggang tanpa menghiraukan pandangan mereka semua. dia langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan dokter Mario. bisa tahu kalau itu adalah ruangan yang dia cari karena di depan pintu terdapat papan nama bertuliskan dokter Mario.
__ADS_1
Mario yang tersentak melihat penampilan Melisa langsung menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. dia sungguh tidak menyangka kalau Melisa akan mengenakan pakaian serba Mini ke Puskesmas tempat dia bekerja.
"Melisa Kau yang benar saja. Kenapa kamu pakai pakaian mini seperti ini?"Mario langsung menarik tangan Melisa masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu ruangannya.
Lisa yang melihat Melisa merasa sangat terganggu pandangannya. sebagai wanita desa Lisa sangat jarang melihat ada orang yang memakai pakaian Mini lalu lalang.
"kamu sadar tidak sih pakaianmu ini mengundang syahwat setiap mata yang memandangmu." Mario bicara sambil merapatkan kedua rahangnya.
"ih, sakit tahu." Melisa menarik tangannya yang sejak tadi dicengkeram oleh Mario.
"Aku itu pakai pakaian yang ada. Mami dan Daddy membawakanku pakaian ini. dan memang pakai ini yang biasa aku pakai sehari-hari. dan aku tidak merasa ini ada yang salah." Melisa mengangkat bahunya dengan acuh.
Mario menepuk dahinya karena tidak percaya kalau Melisa benar-benar seorang gadis metropolitan.
"ini di desa Melisa. bukan di kota tempatmu dulu tinggal!" Mario meninggikan suaranya.
"jadi sekarang aku harus bagaimana? apa aku harus kembali ke rumah Yangkung dan aku harus pergi ke pasar dulu untuk membeli pakaian?" tanya Melisa dengan nada kesalnya.
"Lisa berikan dia pakaian perawat." perintah Mario kepada Lisa.
"ingat pakai baju ini ketika kamu bekerja di puskesmas. jangan lagi pakai, pakaian Mini di sekitar desa. kecuali hanya di dalam rumahmu itu tidak masalah." Mario memperingati Melisa.
Melisa diberi baju perawat oleh Lisa. dia langsung menggantinya di dalam kamar mandi yang berada di ruangan dokter Mario.
Melisa juga mengikat rambutnya dan mengenakan topi perawat sebelum keluar dari dalam kamar mandi.
.
.
__ADS_1
Bersambung