
Melisa bekerja sangat keras hari ini. Dia mulai enjoy dengan pekerjaannya sebagai suster baru di pusat kesehatan masyarakat.
"Akhirnya semua pasien sudah pulang kerumahnya. Aku lelah sekali." Melisa bicara sambil memukul kecil bahunya yang terasa pegal.
"Baru gitu ajah capek." Celetuk dokter Mario.
"Yee, namanya juga hari pertama kerja. Wajar lah kalau merasa lelah. Manusia namanya, bukan robot." Sewot Melisa.
"Kalau begitu, ayo kita ke peternakan Yangkung." Kata Mario.
"Tunggu dulu, aku baru ingat. Kamu itu bukannya dokter hewan ya? kok bisa di puskesmas manusia?" tanya Melisa ketika mengingat kejadian sebelumnya.
"Aku ini belajar tentang kesehatan hewan dari kakekku dan aku mengobati manusia sesuai dengan lisensiku. mengerti?" tanya Dokter Mario.
"Ooh,, Begitu, tapi apa kamu benar-benar bisa mengobati hewan juga?" tanya Melisa yang meragukan kemampuan Mario yang notabenenya bukalah seorang dokter hewan.
"Tenang saja, semua pasti aman. aku selalu berkonsultasi dengan kakekku sebelum memberikan obat atau vitamin kepada hewan ternak. kalau hewan ternak sakit parah, sudah pasti aku menyarankan untuk di bawa ke pundak kesehatan hewan." Dokter Mario meraih tas yang berisikan peralatan pemeriksaan hewan.
"Kamu mau pulang atau mau terus di sini?" tanya Dokter Mario.
"Mau pulang lah, tapi tunggu aku ganti baju dulu." Melisa ingin masuk ke dalam kamar mandi, tapi tangan kekar Dokter Mario langsung menghalanginya.
"pulang sekarang, pakai saja baju itu. baju yang tadi buang saja. tidak baik di pakai di sini." Dokter Mario menarik paksa tangan Melisa.
"Tunggu dulu, lepaskan. aku bisa berjalan sendiri tidak perlu di seret seperti ini." Melisa memberontak.
Dokter Mario melepaskan tangan Melisa yang di pegangnya. Dari kejauhan Lisa melihat kalau dokter Mario menunjukkan ketertarikannya kepada Melisa.
"mereka sepertinya sangat cocok. Sama-sama anak orang kaya dan dari kota," ujar salah satu pekerja bagian bersih-bersih.
__ADS_1
Lisa yang mendengar hal itu menjadi geram. pasalnya dia menaruh hati sudah lama kepada dokter Mario. Lisa selama ini selalu berusaha mengambil simpatik dan perhatian dokter Mario. Hanya saja usahanya tidak pernah berhasil. Namun, berbeda dengan Melisa. dia tidak sama sekali mencoba mengambil perhatian dari dokter Mario, tapi dokter Mario tampak sangat memperhatikannya.
"Aku pulang dulu." Lisa izin pamit.
...****************...
Yangkung dan tangki Melisa sedang kedatangan tamu dari luar daerah. Yangkung Brahma terlihat sangat bersuka cita dalam menyambut kedatangan tamu tersebut.
"Aku senang sekali kamu menyempatkan waktu untuk kemari. Desa kita masih asri sama seperti dulu. hanya saja sudah banyak bangunan dan masyarakat semakin maju." Yangkung Brahma tersenyum senang.
Desa Cemara memang sangat indah dan masih sangat asri. Meski banyak bangunan sudah berdiri, tapi lingkungan alamnya masih tetap terjaga. Meski masyarakatnya sudah modern, tapi mereka tidak melupakan adat istiadat dan lingkungan.
"Aku dengar, cucumu Melisa juga berada di desa ini. Aku harap dia bisa berteman dengan cucuku."
"Tenang saja, Arjuna. Cucuku dan cucumu bahkan sedang bekerja bersama di pusat kesehatan masyarakat. Aku harap mereka bisa sangat akrab." Yangkung Brahma semakin terlihat sangat bersemangat.
"Sepertinya jam segini puskesmas sudah tutup. Dan pasti dokter Mario sedang menuju ke peternakan. Sebaiknya kita ke sana saja." Ajak Yangti.
"Mari kita ke peternakan ku. Kita tunggu di sana saja." Yangkung Brahma berjalan bersama sahabat baiknya.
Mereka sudah bersahabat sangat lama sejak mereka masih sama-sama tinggal di desa Cemara.
...****************...
Dokter Mario mengajak Melisa berkeliling peternakan para pemilik ternak. Dokter Mario memeriksa satu persatu hewan ternak dan Melisa hanya memperhatikan. sebenarnya dia sangat lelah dan bosan. Namun, mau bagaimana lagi. Mereka selama perjalanan memang selalu melewati peternakan.
"Apa mereka sehat, Dokter?" tanya pemilik ternak kambing.
"Mereka sehat. Bahkan sangat sehat. Bulan haji nanti sudah pasti bisa terjual dengan harga tinggi." Dokter Mario tersenyum.
__ADS_1
Melihat Dokter Mario tersenyum. Melisa menjadi terpesona. Senyuman yang di suguhkan oleh Dokter Mario sangat manis, semanis gula Jawa.
Melisa benar-benar terpikat dengan pesona dokter Mario. Meski terkadang sikap dokter itu baik dan kadang ketus. Melisa tetap menyukainya, tapi Melisa menyembunyikan rasa itu. Dia tidak mau lagi asal jatuh cinta. Pengalaman percintaannya dengan Orlando masih menorehkan luka mendalam.
"masih lama?" tanya Melisa sambil memainkan ujung jarinya.
"Satu peternakan lagi. Setelah itu baru ke peternakan Yangkung Brahma. Baru aku akan mengantarmu pulang." Dokter Mario merapihkan beberapa alat medisnya yang tadi dipakai untuk memeriksa kondisi hewan ternak.
Melisa dan Dokter Mario berjalan beriringan. Dalam perjalanan Melisa melihat sekeliling. Tadi pagi saat dia hendak ke puskesmas, tak sempat dia memperhatikan sekeliling.
"Ternyata udara di sini sangat sejuk dan suasananya sangat asri ya. Masih banyak pepohonan meski sudah padat penduduknya." Melisa terus mengagumi desa Cemara.
"Benar, masyarakat di sini sudah cukup padat. Karena banyak orang kota yang memilih tinggal di desa setelah pensiun, demi mendapatkan ketenangan." Dokter Mario ikut menikmati pesona yang di sajikan oleh Desa Cemara.
Tidak terasa mereka sudah berjalan sampai di peternakan Yangkung Melisa. Mereka segera masuk ke dalam dan di kejutkan oleh banyaknya orang di sana.
"Yangkung, kok tumben ada di sini sore-sore?" tanya Melisa sambil menyalami Yangkungnya dan Yangtinya.
"Salaman juga dengan kakek Arjuna."Perintah Yangkungnya.
Melisa menyalami kakek Arjuna. Pria yang baru pertama kali dia jumpai.
"Kakek ada di sini?" tanya Dokter Mario.
"Ya, kakek merindukanmu."
Melisa tertegun, ternyata pria yang dia Salami adalah kakek dari dokter Mario.
"Kakek Arjuna adalah sahabat baik Yangkung. Sekaligus kakek dari dokter Mario. Sudah lama sekali dia tidak kembali ke desa Cemara. kami berasal dari desa yang sama. Karena kakek Arjuna membuka usahanya di kota, jadi dia pindah ke sana." Jelas Yangkung Brahma ketika sadar cucu cantik ya bingung.
__ADS_1
Melisa mengangguk dan mengerti dengan situasi ini.