
Melisa kembali bekerja. dia tidak mau kalau sampai mendapat ocehan dari Yangkung dan Yangtinya. Melisa sadar betul kalau pasangan suami-isteri itu sangat tegas dan tidak pandang bulu.
"makan dulu, non. baru nanti kerja lagi." ajak salah satu pegawai wanita.
Melisa melihat ke arah jam yang terpaku di dinding atas pagar. jam sudah menunjukkan jam satu siang. pantas saja tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. ternyata sudah waktunya makan siang.
para pekerja di sini mendapatkan jatah makan siang yang di buatkan oleh salah satu warga Yangkungnya memang sengaja memperdayakan warga sekitar. katanya membantu tetangga itu wajib. karena saudara terdekat kita adalah tetangga.
Melisa mengambil salah satu kotak makan yang di letakkan di atas meja. dia membuka tutup kotak makan tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat menu yang ada di sana.
"kenapa?" tanya Ina pegawai Yangkungnya yang berusia di bawahnya.
"ini, apa makanannya tidak ada yang lain?" tanya Melisa.
"waduh. sepertinya semua box. isi menunya itu sama. tidak ada yang dibedakan." ujar Ina.
Melisa kemudian menutup kembali kotak makannya dan meletakkannya kembali. dia kemudian keluar dari kantor dan kembali untuk bekerja.
"kenapa cemberut? bukannya ini waktunya makan siang ya? kok enggak ikut makan sih?"
__ADS_1
sebuah suara terdengar di telinga Melisa. hanya saja tidak terlihat siapa yang sedang berbicara.
"siapa itu? jangan bersembunyi. tunjukkan dirimu." Melisa berteriak menantang.
"kamu yakin bisa melawan saya?" pria itu kemudian muncul dengan mengejutkan.
"kamu?" Melisa terkejut melihat dokter hewan itu kembali.
"Iyah, ini aku. aku kemari untuk memeriksa salah satu sapi lagi. kebetulan tadi obat yang aku bawa habis jadi aku kembali." jelasnya.
Melisa memperhatikan sekitarnya. saat semua orang istirahat makan. berarti kandang sapi tidak ada yang menjaganya.
"tentu saja sudah. aku sudah bicara sebelum aku kembali ke puskesmas. ada apa? apa ada yang salah?" tanyanya kepada Melisa.
""tidak ada yang salah. hanya saja sepertinya tidak dibenarkan ke kandang di saat para pekerja sedang istirahat." tutur Melisa.
"kamu takut kalau aku akan menjadi pencuri sapi?" tanyanya.
"tidak. hanya saja nanti bisa diikuti oleh yang lainnya. dan di gunakan sebagai kesempatan." Melisa memutar bola matanya.
__ADS_1
"tenang saja. di sini siapa yang tidak kenal dengan pak Brahma. semua orang kenal dan sangat menghormatinya. sapi-sapi ini akan selalu aman di kandangnya." Mario tersenyum.
"kamu ini ngomong-ngomong sangat khawatir dengan sapi-sapi ini ya. seperti pemiliknya saja." Mario terkekeh.
"aku memang pemiliknya. lebih tepatnya aku cucu pemilik peternakan sapi ini." sahut Melisa dengan cepat.
Mario langsung terkejut. dia tidak menyangka kalau cucu pemilik ternak itu saat ini berada di hadapannya. dulu Brahma sering sekali menceritakan tentang cucunya saat mario sedang memeriksa para sapi.
"jadi kamu cucu kakek Brahma? aku baru tahu. maafkan aku. kenalkan aku mario." Mario mengulurkan tangannya.
Melisa melihat ukuran tangan pria yang sudah mampu membuatnya terpesona.
Melisa juga mengulurkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
"Melisa."
mereka saling bertukar nama. Melisa sangat senang karena dia berhasil berkenalan dan mengetahui nama di dokter tampan itu.
Melisa menjadi tersipu-sipu ketika dokter hewan itu memandangi wajahnya.
__ADS_1