
Melisa dan dokter Mario kembali ke tugas mereka. Masih ada beberapa pasien yang mengantri untuk mendapatkan penanganan medis.
"Kamu perhatikan baik-baik. Ini cara kedua menolong orang yang terkena cedera karena kecelakaan."
Dokter Mario memberikan contoh kepada Melisa, sambil mengobati pasien yang keserempet motor. Namun, tidak cedera parah.
Lisa melihat semua itu, keakraban dan sorot mata dokter Mario yang memancarkan cinta.
"lihat saja kamu Melisa. aku tidak akan membiarkan kamu bisa memiliki dokter Mario."
Lisa kembali ke depan dan menenangkan dirinya di taman pusat kesehatan masyarakat desa Cemara.
"hai, Lis." panggil salah satu petugas kesehatan.
"hai, ka. Kenapa?" tanya Lisa kepada Eka.
"Lis, tolong dong ke lantai dua. dokter Merry butuh bantuan mu." Eka kemudian kembali ke dalam puskesmas.
Lisa yang dimintai bantuan juga langsung bergegas untuk ke lantai dua. dia tidak mau dokter Merry dan pasiennya menunggu.
__ADS_1
Lisa memang seorang perawat yang berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya yang bertugas membantu menolong orang sakit.
"Dokter Mario, aku ke atas dulu karena tadi Suster Eka memintaku membantu dokter Merry." Melisa keluar dari dalam ruangan dokter Mario.
Lisa yang akan naik ke lantai dua menggunakan tangga mendengar perkataan Lisa. Dia langsung terlintas rencana di benaknya.
Melisa berjalan mendekat ke arah Lisa karena memang tujuan mereka berdua sama.
"hai Lisa. apa kamu juga mau keruangan dokter Merry?" tanya Melisa dengan ramah.
"Hem, memang kenapa?" tanya Lisa dengan mimik wajah yang tidak bersahabat.
Melisa kembali melenggangkan kakinya yang akan menaiki setiap anak tangga.
"Argh!" rintih Melisa karena terjatuh saat kakinya mau menyentuh anak tangga pertama.
"begitu ajah jatuh. makanya kalo jalan liat-liat, pakai mata dan satu lagi hati-hati." Lisa menaiki anak tangga setelah meluapkan kekesalannya.
"Lisa, tunggu!" Melisa bangun dan mendekat.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu kepadaku? aku tahu kamu yang membuat aku jatuh. kenapa kamu lakukan itu?" tanya Melisa yang sambil menahan kemarahannya.
"kenapa katamu?" Lisa menatap nyalang ke arah Melisa.
"Iyah kenapa?" tanya Melisa lagi sambil membulatkan matanya.
"karena kamu sudah dengan lancang mendekati dokter Mario. aku peringatkan kepadamu Melisa. meski kamu itu cucu dari salah satu sepupu di sini. Kamu tetap tidak pantas mendampingi dokter Mario. kamu itu bukan apa-apa Melisa. kamu ngacak dong, sikap saja kekanak-kanakan. aku juga tahu reputasi mu di kota Jakarta, yang sering mabuk dan pergi ke club malam. dasar wanita tidak berakhlak!" Lisa begitu frontalnya bicara tentang Melisa yang tidak dia kenal sama sekali kepribadiannya.
"Oh, begitu? sekarang aku tahu kenapa kamu tidak pernah menyukaiku selama ini. ternyata kamu menyukai calon suamiku?" Melisa menjeda perkataannya untuk tertawa kecil meledek wanita yang ada di hadapannya ini.
"Dengar ya Lisa, pantas dan tidak pantas. bukan manusia yang menilainya. jodoh itu ada di tangan tuhan. bukan ditangan manusia. aku dan dokter Mario hanya menjalani takdir kami saja. masalah kami berjodoh dan tidak itu urusan nanti." ucap Melisa.
"tapi aku lebih dulu mengenal dokter Mario dari pada kamu. aku dan dia sudah lebih dari satu tahun bekerja bersamanya. aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik agar bisa menarik simpatinya. Aku tidak terima kamu yang bahkan baru beberapa Minggu di sini sudah bisa menarik perhatiannya!"Lisa berteriak kecil.
"Lisa ... Lisa, itulah kenapa kamu tidak pernah mendapatkan apa yang kamu mau. karena kamu bekerja dan berbuat baik tidak tulus dari dalam hati. ada niat terselubung di setiap tindakan yang kamu lakukan. jika saja kamu ikhlas maka apa yang bahkan tidak tersirat di hatimu, Tuhan mungkin akan mempermudah dan memberikannya untukmu. satu yang harus kamu ketahui kami berdua teman sekolah dan sudah sejak dulu dia menyimpan cintanya untukku." Melisa yang merasa kesal dan berusaha menahan amarahnya memilih pergi meninggalkan Lisa.
Melisa tidak mau semakin memperkeruh suasana hatinya. lebih baik dia segera ke ruangan dokter Merry yang membutuhkan bantuan tenaga medis untuk membantunya menolong pasien.
Lisa masih mematung setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Melisa. Ternyata dokter Mario sudah lama jatuh cinta kepada wanita yang tadi dia selengkat kakinya. Lisa tidak tahu hal itu sehingga dia membuat keributan. Lisa juga tidak menyangka kalau dia gagal membuat Melisa takut kepadanya. dia pikir dia bisa membuat Melisa mundur dari hubungannya dengan dokter Mario.
__ADS_1