
Mario dan Melisa mengikuti Yangkung Brahma dan kakek Arjuna. Mereka semua akan kembali ke rumah Yangkung Brahma. Mereka akan melanjutkan perbincangan mereka di sana. Selama dalam perjalanan menuju rumah, Yangkung Brahma dan kakek Arjuna terus bersenda gurau. Mereka bahkan membicarakan tentang masa kecil cucu masing-masing.
"Mereka sedang membicarakan kita'kan?" tanya Melisa kepada Dokter Mario dengan berbisik.
"Mungkin. Karena cucu kakekku bukan hanya aku. Ada Abang ku dan juga sepupuku yang lain." Dokter Mario bicara dengan santai.
Melisa mengangkat sedikit sudut bibirnya. Dia kesal sebab Dokter Mario seakan cuek dengannya. Padahal saat pertemuan awal dia cukup ramah.
"Dokter ini sepertinya cukup plin-plan. Dari ramah tiba-tiba menjadi dingin seperti ini. Sok cool banget sih nih dokter. Awas ajah nanti kalo dia sampe jatuh cinta sama gue. Gue mau jadi jinak-jinak merpati. Tarik ulur hubungan." Melisa menggerutu di dalam hatinya.
Sebagai seorang wanita. Melisa merasa kalau Dokter Mario memang berubah tanpa sebab.
__ADS_1
...****************...
Katty sepertinya sedang merasakan keresahan di dalam hatinya. sejak tadi pagi dia lebih banyak termenung dan bengong.
"Kamu ini kenapa sih?"tanya Arga kepada istrinya.
"Aku tuh kangen sama Melisa. kapan kamu mau bawa dia pulang ke rumah? rumah itu sepi tanpa Melisa." Keluh Katty istri Arga.
"Mih, kamu kan tahu Melisa sedang dihukum. dia tidak akan pulang sampai hukumannya selesai dan dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih dewasa." tiba-tiba Arga menjadi sewot.
mereka berdua memutuskan meneruskan debat di dalam kamar. Arga membuka jasnya dan mengganti pakaian rumahan.
__ADS_1
"pikir aku tidak banyak pekerjaan di kantor? kalau aku harus mengawasi Melisa dan mengajarinya cara menjadi seorang pemimpin. semua urusanku pasti terbengkalai. kamu juga seharusnya tahu aku bisa menjadi seorang pemimpin bukan karena aku belajar menjadi seorang pemimpin. namun, Aku belajar bagaimana caranya menghargai pekerjaan dan karyawan. jangan begitu baru kita bisa menjadi seorang pemimpin yang baik." tegas Arga.
"berikan Melisa posisi dari bawah maka dia mengerti bagaimana caranya bekerja dan seperti apa rasanya bekerja." Protes Katty.
"mau jadi apa? mau jadi cleaning service? atau mau jadi tukang kebun?" tanya Arga dengan sangat sinis.
Katty kehabisan kata-kata menghadapi suaminya. suaminya memang tidak bisa dibantah jika sudah punya ketetapan. Arga bukanlah seorang pria yang mudah mengubah pilihannya.
Katty merasa sepertinya dia yang harus pergi menemui putrinya untuk melepas rindu. Sebenarnya Katty malas sekali pergi ke sana. Tinggal di kota sudah membuatnya terlalu nyaman dan lupa bagaimana cara hidup di pedesaan.
"Kalau begitu, mami saja yang pergi ke desa Cemara. mami kangen sama Melisa." Teriak Katty dengan lantang agar suaminya mendengar perkataannya.
__ADS_1
"Terserah Mami saja. Daddy tidak akan melarang." Arga bicara seakan tidak perduli dengan keadaan putrinya.
Bagi Arga, jika niatnya agar putrinya menjadi lebih baik. Maka dia harus bisa menjadi raja tega. dia harus bisa memalingkan hatinya sementara dari putrinya. bukan berarti dia tidak sayang. justru karena dia terlalu sayang jadi dia tidak mau hidup putrinya hancur.