Ratu Malam

Ratu Malam
Part 18 - Kucing Manis


__ADS_3

Melisa dan Dokter Mario selesai dengan pemeriksaan lanjutan kepada Hellen setelah pasca operasi.


Hellen masih terlihat tidak bersemangat. Hingga Melisa mendapatkan ide agar kucing kesayangan Dokter Mario kembali bersemangat.


Melisa mengajaknya bercanda dan ternyata Hellen meresponnya. Bahkan Heller terlihat lebih santai dan terlihat lebih happy.


Kakek Arjuna melihat jika Melisa ternyata sangat cinta dengan hewan.


"kamu mau belajar menjadi dokter hewan?" tanya kakek Arjuna.


"Aku tidak yakin, kek. Aku sudah lulus kuliah S1. hanya saja masih belum bisa menjiwai dan belum tertarik untuk mengelola bisnis." Melisa bicara sambil terus mengelus kepala Hellen.


...****************...


Lisa terus melihat ke arah Melisa dan juga kakek Arjuna.


"Kucing itu sepertinya pemilih. selama beberapa bulan kita merawatnya. Tidak pernah sedikitpun dia bersikap manis. selalu saja ada tanda di tangan kita." Ujar salah seorang dokter yang pernah ikut membantu menenangkan Hellen.


Lisa juga berpikir demikian, tapi kenapa ketika dengan Melisa kucing itu bahkan lebih tenang dan sangat manja. sikap manis kucing itu terlihat begitu jelas. belum lagi dia akan menggeliat ketika Melisa mengusap bagian perut yang katanya membuat Hellen sedikit marah.


"kucing aneh. mana ada kucing yang pilih-pilih orang. memangnya dia kucing dewa yang bisa tahu perasaan manusia kepadanya." Lisa langsung melengos dan tidak lagi melihat ke sana.

__ADS_1


Lisa merasa geram. karena ternyata kucing kesayangan Dokter Mario sama dengan sifat di pemiliknya. Dingin, baik, tapi juga terkadang terlihat sangat ketus.


Lisa juga merasa kesal kepada Melisa yang sok akrab dengan Hellen. Dia menganggap kalau Melisa sedang mencari perhatian dokter Mario dan juga keluarganya. Sedangkan dia yang sejak dulu dekat dengan dokter Mario bahkan tidak bisa sedekat itu dengan kakek Arjuna maupun ibu dari Dokter Mario.


sebagai seorang wanita yang menyukai pria dia merasa memiliki saingan berat.


...****************...


Melisa dan Dokter Mario kembali ke rumah Yangkung Brahma. Dokter Mario hendak memeriksa kembali keadaan Hellen.


Hellen setelah selesai observasi langsung dibawa pulang oleh keluarga Dokter Mario.


"Kalian berdua sudah pulang?" tanya kakek Arjuna yang keluar sambil membawa Hellen di gendongannya.


"dia sangat baik. Operasi kalian berhasil jadi sudah pasti dia dalam kondisi yang baik." Kakek Arjuna tersenyum sambil mengelus kucing kesayangan mereka.


"Kalian masuklah. Mario, kamu siapkan kandang untuk Hellen. Semua ada di mobil mamamu." Perintah kakek Arjuna.


"baik, kek."


Dokter Mario dengan cepat melaksanakan perintah dari kakeknya.

__ADS_1


Melisa menghampiri kakek Arjuna untuk mengambil alih Hellen.


"Biar aku yang gendong kek. Aku akan mengganti perbannya." Melisa menggendong Hellen.


Kucing besar itu sudah akrab dengan bau Melisa. sehingga dia langsung menempel dengannya.


Kakek Arjuna sangat senang kalau Hellen mau akrab dengan Melisa.


"Lihat, dia sepertinya sangat suka dengan Melisa. semoga saja pemilik Hellen juga menyukai Melisa." Kakek Arjuna melirik.


Dokter Mario langsung mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis. Dengan senyuman yang ditunjukkan oleh cucunya membuat hati sang kakek terasa tenang dan senang.


"Hellen, pintar sekali." Melisa selesai membalut perban di kaki Hellen.


"Terima kasih." ujar Dokter Mario yang melihat Melisa merawat Hellen.


"tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku juga pecinta hewan dan punya kucing seperti Hellen dulu." Melisa berdiri.


Dokter Mario berjongkok dan mengusap kepala kucing kesayangannya.


"Sayangnya, kucing itu sudah tiada. Benarkah?" tanya dokter Mario.

__ADS_1


"Darimana kamu tahu?" tanya Melisa.


Dokter Mario hanya tersenyum penuh arti. namun, Melisa tidak tau apa artinya itu.


__ADS_2