
Melisa menikmati suasana di cafe yang dia temukan itu. Dia tidak menyangka ada cafe yang bisa sesuai dengan seleranya meski lokasi dan cafenya tidak seheboh tempat yang biasa dia datangi.
"tempatnya cukup enak. ditambah suasananya yang tidak begitu bising. aku suka." Melisa kembali menikmati minumannya.
Melisa tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan larut malam. dan Yangkungnya dan Yangtinya sedang mencari-cari kemana-mana.
"permisi, neng. kami sudah mau tutup. karena di kampung batas maksimalnya hanya sampai jam dua belas." jelas wanita itu.
"jam dua belas?" Melisa langsung terbelalak.
Melisa tidak menyangka ternyata dia sudah sangat lama di dalam cafe ini. dia juga sudah terbuai dengan alunan musik setelah suasana yang disajikan oleh cafe.
"kalau begitu baiklah aku akan segera membayarnya. berapa untuk biaya makanan dan minuman yang aku pesan ini?" tanya Melisa.
"semuanya seharga tiga ratus lima puluh ribu."
setelah mendengar harga Melisa langsung merogoh kantong celananya dan ternyata dia tidak membawa uang sama sekali. kini dia panik Ternyata dia tidak membawa dompetnya dan juga tidak membawa ponselnya sehingga ia tidak bisa menghubungi siapapun.
"Maaf aku tertinggal dompet dan ponselku di rumah. apa bisa aku membayarnya besok atau setelah ini aku akan pulang dan mengambilnya. aku pasti akan kembali ke cafe ini." Melisa memohon kepada wanita paruh baya itu.
"maafkan kami neng. kamu tidak menghutangkan makanan dan minuman yang kami sajikan." tolak wanita itu.
__ADS_1
"aku tidak berhutang. aku hanya menundanya sebentar. aku akan pulang dan setelah itu mengambil dompetku. rumah kakekku tidak jauh dari sini dan kamu juga pasti mengenal siapa kakek dan nenekku." Melisa berusaha meyakinkan wanita itu.
"maafkan saya. meski kamu adalah anak dari kepala desa di sini. saya tidak bisa mengizinkan siapapun untuk menunda pembayaran."
Melisa menjadi pusing dan kelimpungan. dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Pak dokter."panggil Melisa kepada seseorang yang ia lihat.
dokter itu kemudian langsung menoleh dan melihat ke arah Melisa. dia seperti mengenal Siapa wanita yang memanggilnya.
"Kamu memanggilku?"tanyanya.
"benar sekali aku mau manggil dirimu. Kau pasti mengenalku kan? Aku adalah cucu dari eyang Jamila."
"dokter bolehkah aku meminjam sesuatu darimu?" tanya Melisa.
"meminjam? pinjam apa?" tanyanya.
"begini Aku tadi minum dan makan di sini tapi ternyata dompetku ketinggalan di kamar. bolehkan aku meminjam uangmu dulu dan akan aku kembalikan segera." Melisa meminta tolong kepada dokter hewan yang sering ke peternakan Yangtinya.
"enak saja meminjam uang. kamu pikir kamu siapa aku?" ketusnya.
__ADS_1
Melisa menjadi gelisah, keringat dingin sudah mengucur. dia tidak menyangka kalau dokter itu sangat ketus. padahal terlihat kalau dia begitu baik.
"jadi kamu tidak mau menolongku? warung ini akan segera tutup jadi aku mohon kamu pinjami aku uang."Melisa seperti memaksa.
dokter itu melihat ke arah Melisa dengan pandangan iba.
"berapa tagihannya Bu?" tanyanya.
"tiga ratus lima puluh ribu," jawabnya.
tidak lama dia mengeluarkan uang empat lembar seratus ribu dan mendapat kembalian sebesar lima puluh ribu.
"segera kembalikan besok." pintanya.
"terima kasih, tapi apa boleh aku minta tolong sekali lagi?" tanya Melisa.
"apa lagi? tidak punya ongkos pulang?" tanyanya.
dia yang tadinya hanya ingin menghirup udara segar sebentar malah jadi bertemu dengan Melisa.
"antar aku pulang. aku takut."
__ADS_1
sang dokter melongo mendengar permintaan Melisa.