
Melissa merasa kehidupannya ternyata masih di situ-situ saja.
"Orlando cucu dari temannya eyangkung. dokter Mario juga ternyata selain cucu dari kakek Arjuna dia juga teman sekolah ku. sepertinya aku masih tetap berada di lingkaran yang sama dengan mereka semua."barisan rapat keluar jendela kamarnya.
terdengar ketukan pintu dari luar dan ternyata tidak ada yang membukakan pintunya.
"ya tunggu sebentar dulu."Melisa beranjak turun dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.
"hai Melisa."pria berhidung mancung dan berwajah oval itu ternyata kembali dan kini berada di hadapannya lagi.
"untuk apa kamu kembali? dan kenapa kamu bisa tahu rumah keluargaku?"tanya Melisa kepada Orlando.
"tentu saja aku bisa tahu di mana rumahmu. itu adalah hal yang paling mudah. aku tinggal tanya saja kepada kakekku."
benar kata Orlando. dia sangat mudah mengetahui di mana tempat tinggal Melisa karena kakeknya dan eyangkung Melissa adalah sahabat.
Melisa menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. dia benar-benar enggan berbicara dengan Orlando.
__ADS_1
"silahkan kamu pergi dari sini. aku tidak mau lagi bicara dengan Orlando."usir Melisa.
"jangan terus-terusan ketuk seperti itu kepadaku. jangan juga terlalu membenci orang. karena benci bisa berubah menjadi cinta."kata Orlando kepada Melisa dengan mengembangkan senyumannya.
"kamu benar Orlando. benci bisa menjadi cinta, tapi kamu juga harus ingat cinta bisa berubah menjadi benci. aku membencimu Orlando karena aku pernah mencintaimu!"Melisa bukanlah wanita yang mudah diluluhkan hatinya.
sekali dirinya sudah tersakiti hatinya. Maka dia tidak akan mudah memaafkan dan juga menerima kembali.
"Melisa maafkan aku."Orlando menahan pintu yang akan ditutup oleh Melisa dengan satu tangannya.
"tidak mudah memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita. benar kata orang. orang pertama yang bisa menyakiti hati kita begitu dalam adalah orang yang begitu kita cintai."
"aku ingin kembali kepadamu Melisa. kumohon maafkan aku Dan kita mulai lagi semuanya dari awal."
Melissa yang sudah menutup pintu rumah tidak memperdulikan semua perkataan Orlando. dia memilih masuk ke dalam kamarnya kembali dan tidak mendengar apapun lagi yang keluar dari mulut pria yang sudah menyakiti dan merobek-robek hatinya.
"semudah itu kamu minta maaf. apa mungkin kau bisa memaafkan aku jika aku yang menghianatimu? aku yakin kamu bahkan bisa memperlakukanku lebih parah daripada ini."Melisa menutup kupingnya dengan bantal agar tidak mendengar teriakan-teriakan dari Orlando.
__ADS_1
...****************...
matahari mulai menimbulkan cahayanya. selepas salat subuh Melisa bergegas bersiap-siap untuk kembali bekerja seperti biasanya.
dia juga tidak lupa memberi makan Hellen sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Melisa. selesai kamu bersiap untuk berangkat bekerja. eyangkung mau bicara denganmu dulu." eyangkung Brahma dari luar kamar mandi.
"baik eyangkung." Melisa menjawab.
Melisa bergegas menyelesaikan ritual mandinya. selesai mandi dia langsung bergegas menuju kamarnya dan mengenakan seragam kebanggaannya.
"apa yang akan eyangkung bicarakan dengan Melisa?"tanya Melisa kepada eyangkungnya.
"duduk setelah itu yang akan bicara."
Melisa duduk dan langsung bersiap mendengarkan apa yang akan eyangkungnya bicarakan kepada dirinya.
__ADS_1
"Eyangkung dengar dokter Mario sudah memberitahukan dirimu mengenai perasaannya dan juga rencana eyangkung dan kakek Arjuna. yang berharap kamu mau menerimanya."
Melisa hanya bisa diam.